
Musim dingin adalah musim yang lebih banyak membuat orang-orang bersantai dan berkerja di rumah karena jalanan yang dipenuhi salju. Tapi bagi seorang dokter seperti Gaffi, hal semacam itu tidak bisa dia lakukan karena tidak ada ceritanya karena salju yang menumpuk seorang dokter bekerja dari rumah. Gaffi tetap harus pergi ke rumah sakit entah bagaimana pun caranya.
Semalam badai salju terjadi, meski tidak parah tetap saja membuat jalanan kota Milan dipenuhi salju. Karena itu pula Gaffi pulang shift siang tidak kembali ke mansion utama dan memilih beristirahat di ruang pribadinya di rumah sakit. Gaffi khawatir jika dia pulang maka dia akan kesulitan untuk bisa kembali ke rumah sakit. Apalagi dia memiliki jadwal operasi pagi ini.
Beruntung di kamar pribadi yang ada di kantornya, Gaffi menyiapkan beberapa pasang baju kerja lengkap dengan makanan dan minuman. Di dekat ruangannya juga ada dapur yang digunakan untuk memasak makanan instan. Sehingga jika musim seperti ini datang, maka dia tidak perlu kebingungan dalam perjalanan pulang maupun berangkat ke rumah sakit.
Sesekali memang Gaffi pulang jika cuaca bagus, itu pun karena dia tidak bisa begitu saja melepas pengawasan Carmel pada keluarganya. Carmel adalah putrinya dimana dia yang seharusnya memiliki tanggung jawab penuh pada putri kecilnya itu. Jadi meski harus melewati badai sekalipun Gaffi akan tetap pulang dua atau tiga hari sekali.
Setelah memakan sarapannya berupa roti bakar dengan segelas susu, Gaffi langsung bersiap pergi ke ruang operasi untuk melakukan operasi pengangkatan tumor pada bagian otak besar sisi depan dan pinggir serta mengganggu pembentukan selaput myelin yang berfungsi menghantarkan impuls pada sel saraf atau dalam bahasa kedokteran disebut Oligodendroglioma.
Pada pasien Gaffi ini tumor otak sudah berada di stadium II sehingga operasi dan kemotrapi nantinya akan menjadi prosedur pengobatannya. Gaffi sudah menjadwalkan operasi pasien ini sejak dua hari yang lalu karena pertumbuhan sel kankernya yang cukup cepat.
" Selamat pagi dok... " sapa suster Marta yang memiliki jadwal shift pagi sama seperti Gaffi.
__ADS_1
" Selamat pagi Sus, apa ruang operasi tiga sudah dipersiapkan? " tanya Gaffi sambil berlaku menuju ke komputer yang ada di ruang perawat yang biasanya mencatat semua prosedur pengobatan pasien.
" Sudah dok.. Tiga puluh menit lagi operasi pasien bisa dimulai.. " lapor suster Marta.
" Oke... Kau hubungi bagian anastesi dan juga dokter Paul sebagai asisten saya nanti... " setelah berpesan pada suster Marta, segera saja Gaffi berlalu dari ruangan perawat menuju ke ruang persiapan untuk operasi.
Gaffi memang biasa paling awal berada di ruang operasi jika itu bukan kondisi darurat. Kebiasaan sejak dia masih menjadi dokter tingkat satu, bahkan ketika magang di rumah sakit yang ada di Indonesia di tahun pertamanya keluar dari mansion utama de Niels. Saat itu Gaffi berumur dua puluh tahun dan sudah mendapatkan gelas sebagai dokter spesialis bedah saraf.
Biasanya Gaffi akan merenung sebentar di ruang ganti untuk mengevaluasi sekali lagi langkah-langkah yang akan dia ambil nanti. Bagian otak adalah bagian paling sensitif dan berbahaya jika saja terjadi sedikit saja kesalahan, karena taruhannya adalah nyawa. Sebab itu Gaffi tidak pernah main-main ketika pisau bedahnya sudah berada di otak seorang pasien.
" Selamat pagi dok... Semangat untuk pasien pertama hari ini... " seru dokter Paul. Pria ini usianya satu tahun lebih tua dari Gaffi tapi dalam hal kerja, Gaffi adalah senior dokter Paul.
" Selamat pagi juga dok... Semoga lancar di acara penyelamatan pagi kita kali ini... Dan semuanya saya minta fokus, jika kalian tidak bisa fokus kalian bisa mengundurkan diri dari ruang ini dan saya akan mencari penggantinya. Saya tidak ingin karena kelalaian berakibat pada pasien.. " hal yang selalu Gaffi ucapkan sebelum memasuki ruang operasi.
__ADS_1
Gaffi menatap dari persatu teman seperjuangannya dalam pekerjaan di pagi harinya ini. Gaffi bisa melihat keyakinan dalam mata rekannya dan dia percaya bahwa mereka ini adalah orang yang bertanggung jawab pada pekerjaan mereka. Gaffi pun meminta mereka masuk ke ruang operasi dan dirinya kembali mempersiapkan diri sebelum masuk ruang operasi.
Ketika Gaffi memasuki ruang operasi, pasien sudah dalam kondisi dibius total dan dokter Paul sudah mulai melakukan pembedahan bagian otak dengan cara membuka tulang tengkorak. Sambil menunggu pembukaan tulang tengkorak selesai, Gaffi sekali lagi melihat hasil MRI dari pasien. Letak dari tumor itu sendiri harus Gaffi pelajari agar pengangkatan tumor akan berjalan dengan lancar.
Gaffi sudah terbiasa melihat bagaimana bentuk otak yang sebenarnya di dalam tempurung otak. Bagi siapa saja yang melihat pasti akan merasakan mual, namun bagi Gaffi itu sudah seperti melihat benda yang dia sering lihat. Gaffi mulai melakukan tindakan operasi dengan beberapa alat yang menunjang pekerjaannya.
Melakukan pembedahan pada otak dan melakukan pengangkatan tumor serta kembali menutup tulang tengkorak paling lama membutuhkan waktu kurang lebih tiga jam. Tapi karena ini adalah Gaffi yang terkenal sebagai tangan dewa, proses yang seharusnya membutuhkan waktu tiga jam dapat Gaffi selesaikan dalam kurun waktu dua jam dan semuanya berjalan lancar kondisi pasien juga baik.
Dua jam baik Gaffi dan anggota timnya serta pasien semua keluar dari ruang pasien. Gaffi lekas menuju ruang ganti untuk mengganti seragam operasinya dan menyerahkan kepada dokter Paul untuk memberikan penjelasan pada keluarga pasien.
Gaffi bergegas kembali ke ruangannya setelah selesai membersihkan diri. Sebentar lagi dia akan ada praktek dan pasti sudah banyak pasien yang menunggu kesayangannya. Namun baru setengah jalan ke ruang kerjanya, ponsel Gaffi bergetar dan dia mendapatkan telepon dari ruang IGD.
Tanpa banyak bertanya Gaffi lekas menuju ke IGD karena dikabarkan ada pasien yang mengalami kecelakaan dengan cidera di kepala namun wanita ini tengah hamil tua. Kondisi yang cukup sulit untuk dilakukan tindakan medis mengingat ada janin di dalam tubuh pasien.
__ADS_1
Ketika Gaffi berdiri di samping ranjang dimana pasien yang dimaksud sudah berbaring dalam keadaan setengah sadar. Jantung Gaffi terpompa sangat cepat seperti habis maraton. Matanya mengerjab beberapa kali berusaha untuk fokus menatap wajah pasien meski banyak darah di bagian kepala dan wajah. Namun Gaffi bisa tahu siapa pasien yang terbaring di depannya ini.
" Kenapa bisa itu kau? " gumamnya tidak percaya.