
Gaffi duduk termenung di ruang kerjanya yang ada di bagian bedah saraf, rumah sakit milik JN Group. Gaffi memikirkan semua ucapan Kate beberapa waktu lalu saat mereka bertemu. Jujur, Gaffi pun setuju dengan ucapan Kate tentang rumah tangga mereka yang memang sudah sejak awal itu hancur. Namun kini bisa dikatakan bahwa Gaffi berat untuk melepaskan Kate. Jika ditanya alasannya, tentu saja Gaffi tidak tahu.
Saat sedang kalut, Tiba-tiba saja mata Gaffi menatap ke sebuah pigura kecil, berisikan foto dirinya dan juga sang istri yang tengah menggendong Carmel bayi. Gaffi pun teringat sebuah jalan untuk tetap mempertahankan Kate tetap di sampingnya. Namun tanpa pernah Gaffi ketahui, Galen sudah bergerak untuk menyembunyikan Kate.
" Benar juga... Dengan alasan Carmel, aku yakin Kate pasti mau bertahan... " tidak ingin kehilangan waktu, Gaffi lekas berlari menuju ke kamar inap Kate yang berada di satu bangunan dengan departemennya.
Bukannya melihat Kate, Gaffi justru melihat ada seorang suster yang tengah merapikan ranjang pasien yang tadi menjadi tempat berbaring nya Kate. Gaffi lekas bertanya pada suster itu, karena dia kini tengah merasa sesuatu yang bukan keinginannya tengah terjadi.
" Kau bilang istri ku sudah diperbolehkan pulang? Kenapa aku tidak tahu? " tanya Gaffi sedikit meninggikan suaranya.
" Maafkan saya dok, tapi saya hanya diperintahkan untuk membersihkan ruangan ini. Oh ya,, anda bisa bertanya pada tuan muda pertama karena tadi saya melihat beliau yang membawa nyonya muda keluar dari rumah sakit... " terang suster itu membuat Gaffi misuh-misuh.
" Sialan.... Dia sudah bergerak,, jika aku tidak cepat makan aku akan kehilangan Kate untuk waktu yang tidak bisa ditentukan... " batin Gaffi panik.
Berlari sekuat apapun juga Gaffi tidak akan bisa menemukan keberadaan Galen dan istrinya saat ini. Galen dan Kate pergi dari rumah sakit sekitar satu jam yang lalu, saat Gaffi masih sibuk dengan pikirannya. Galen pun tidak mengatakan kepada siapapun tentang hal ini, sesuai dengan janjinya pada Kate kala itu.
" Sial... sial... sial.... " Gaffi memukul setir mobilnya berkali-kali saat tidak bisa melacak keberadaan dari sang istri yang telah dibawa oleh saudara kembarnya.
__ADS_1
" ****!!! Jika Galen sudah campur tangan, maka akan sulit untuk ku bertindak. Tapi, sejak kapan mereka dekat, kenapa aku tidak tahu? Jangan-jangan, Galen menyukai istri ku... Sialan... " nafas Gaffi naik turun dengan cepat karena emosinya.
Emosi itu menguasai dirinya hingga dia tidak lagi bisa berpikir jernih. Bahkan sampai mengira bahwa Galen jatuh cinta pada sang istri. Entah seperti apa nantinya jika Galen dipertemukan dengan Gaffi dalam keadaan Gaffi sedang emosi saat ini.
Gaffi menghubungi Damian, asisten pribadinya untuk membantunya mencari keberadaan sang istri. Gaffi pun meminta Damian untuk mengutus seseorang mengikuti dan menyelidiki Galen. Hal tersebut tentu saja ditolak oleh Damian, karena jika berani melakukan itu, maka dia harus bersiap untuk dipecat dari jabatannya sekarang ini.
" Dasar asisten tidak berguna.. Apakah aku harus mencari seorang detective untuk membantu ku mencari Kate. Tapi dengan kekuasaan Galen, bisakah aku melawannya.. " Gaffi patah semangat. Bukan dia tidak mau berusaha melawan Galen tapi mengingat pria itu adalah pimpinan di JN Group, dalam artian memiliki kuasa sebesar daddy Joaquin untuk mengatur keluarga de Niels.
" Kate.... Kenapa kau ingin pergi dari ku? Tidak bisakah kau memberi ku kesempatan kedua? " gumam Gaffi merasa tertekan dengan kejadian yang terjadi padanya beberapa hari belakangan ini.
Pasalnya tidak mungkin jika nanti Carmel tinggal bersama Kate, karena akan memungkinkan Gaffi mengetahui keberadaan Kate. Namun jika harus mencari ibu susu untuk Carmel, semuanya tidak akan bisa dalam satu hari apalagi stock susu untuk Carmel di lemari pendingin hanya bertahan satu hari saja.
Sesungguhnya Kate tidak tega jika harus meninggalkan Carmel yang masih membutuhkan ASI nya. Tapi bertahan dalam rumah tangga yang sudah tidak bisa diselamatkan lagi itu jauh lebih membuat semuanya menderita. Sudah ribuan kali Kate berpikir untuk bertahan, namun kali ini, hanya kali ini saja Kate ingin bertindak egois meski banyak yang harus dia tanggung karena keegoisan itu.
" Aku pastikan bahwa aku akan tetap memberikan asi ku untuk Carmel. Kakak hanya perlu pikirkan bagaimana asi ini bisa sampai pada Carmel tanpa harus mempertemukan kami dan juga bertemu dengan Gaffi... " ucap Kate.
" Jika seperti itu kau tidak bisa keluar dari kota ini Kate. Apa kau tidak apa bersembunyi dulu di kota ini sampai Carmel bisa bertahan tanpa asi? " tanya Galen ragu.
__ADS_1
" Jika itu demi Carmel aku mau kak. Tidak apa bertahan di sini beberapa bulan lagi. Tapi tolong jangan sampai daddy nya Carmel bisa menemukan aku kak!! " pinta Kate memelas. Galen begitu kasian melihat itu semua, tapi apa daya kesakitan yang diderita wanita di depannya ini berasal dari saudara kembarnya sendiri.
" Jangan khawatir,, aku akan menjamin kau aman disini dengan segala kuasa ku.. Hanya saja, aku harus minta maaf pada mu karena terjebak dalam situasi seperti ini. Kau ingin pergi tapi aku terpaksa menahan mu.. " sesal Galen.
" Tidak apa kak jika tiu demi Carmel... Semoga saja, jika Carmel besar nanti, dia akan terus mengingat mama nya... " Kate menangis. Sesak dadanya ketika harus meninggalkan putri kecil yang sudah dia anggap sebagai bagian dari hidupnya itu. Alangkah baiknya jika sejak awal pernikahannya layaknya pernikahan normal. Semuanya pasti akan bahagia dengan itu, tidak akan saling melukai dan tentunya Carmel tidak perlu kehilangan lagi sosok ibu dalam hidupnya.
Galen memberikan pundaknya sebagai tempat untuk Kate menangis. Dia juga merasa bersalah karena apa yang terjadi pada Kate seharusnya bisa dia hentikan sejak awal. Tapi karena Galen ingin percaya pada saudaranya, membuat dia harus mengorbankan perasaan dan hidup Kate.
" Kak,, apa kak Gaffi akan menikahi wanita itu? " sebuah pertanyaan yang ingin sejak tempo hari Kate tanyakan. Tapi Kate takut jika Galen salah paham dengan maksud dia bertanya. Karena sejujurnya Kate tidak ingin jika Gaffi melupakan dirinya begitu saja dan menikahi Emily.
" Tidak... Jika sampai Gaffi menikahi wanita itu aku akan benar-benar mencoret nya dari daftar pewaris daddy... Aku tidak suka pada wanita yang tidak memiliki pendirian seperti wanita itu... " jawab Galen. Ekspresinya terlihat geram jika diajak membahas tentang selingkuhan Gaffi.
" Tidak suka wanita tidak memiliki pendirian, lalu bagaimana dengan kak Lucena? Bukankah pendiriannya sangat kuat? " ledek Kate. Galen tersenyum karena suasana disekitar mereka sudah tidak sedih lagi.
" Aku ini duda Kate,, dan Lucena adalah gadis yang hebat, seharusnya dia bisa bersama dengan pria yang lebih hebat dari ku... " Kate langsung menatap wajah Galen, wajah tampan dengan sejuta pesona itu. Namun entah kenapa Kate lebih jatuh hati pada pesona Gaffi.
Merasa bahwa otaknya sudah tidak dapat dikondisikan, Kate menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Dalam hati berharap, Gaffi bisa menemukan kebahagiaan dalam hidupnya setelah kepergian dirinya.
__ADS_1