
Tuuut.... tuuuut.... tuuuuttttt....
Beberapa kali Kate mencoba menghubungi Galen, tapi hingga malam harinya telepon itu tidak kunjung diangkat. Kate sangat khawatir dengan keadaan Gaffi, dan pikiran-pikiran buruk mulai mendatanginya. Kate sungguh merasa bersalah karena telah mengabaikan keinginan Gaffi dan justru memuaskan diri mengejar apa yang dia hasilkan kota ini.
Kate yang sibuk sampai lupa dengan tujuan yang sebenarnya dia ada disini. Tujuan yang dia jadikan alasan untuk pergi dari sisi Gaffi kemudian dia akan kembali setelah dia sembuh. Nyatanya dia mulai melalaikan itu semua dan memburu kesenangannya sendiri. Kate kini seperti tengah dilempar kenyataan oleh keadaan suaminya.
Kelelahan dan terus menangis sejak dia mendapatkan kabar sakitnya Gaffi, akhirnya membawa Kate ke alam mimpi. Alam damai yang biasanya menjadi tempat paling nyaman untuk Kate, kini tidak lagi. Kate bermimpi buruk, dan tidurnya gelisah.
" Jangan kak... Maafkan aku.... " gumam Kate dengan mata terpejam.
" Maafkan aku ini salah ku,, tolong jangan pergi kak... Huhuhuhuhu... "
" Kak Gaffi jangan pergi....!!! "
" Hah... Hah... Hah.... " Kate terbangun setelah tidur hanya tiga puluh menit saja.
Dalam mimpinya Kate melihat Gaffi berpamitan dengannya dan memilih untuk pergi bersama dengan Bellvania. Perasaan Kate jadi tidak enak dan dia pun semakin tidak tenang. Dilihat Kate jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam.
__ADS_1
Kate turun dari ranjang, menuju ke dapur untuk mengambil air minum. Kate berusaha menetralisir detak jantungnya yang tadi sempat tidak karuan karena mimpinya terasa sangat nyata sekali. Bahkan sentuhan dari Gaffi benar-benar terasa di tubuhnya. Hampir saja Kate gila karena itu semua, beruntung itu semua cuma mimpi. Yah,, meski ada kemungkinan kondisi Gaffi saat ini memang tidak baik.
Setelah menenangkan pikiran dan hatinya, Kate kembali menghubungi Galen. Setahunya di Milan saat ini sudah pagi, bahkan hampir menjelang siang. Mungkin Galen sudah bisa dihubungi, pikir Kate.
Tut... tut.. tu...
" Halo Kate... " sapa Galen dari sana.
" Kak,, gimana kondisi kak Gaffi? " tanya Kate langsung. Pertanyaan yang dia tahan sejak kemarin dia keluarkan juga
" Dia sudah ditangani dengan baik, hanya saja masih belum sadar.. Kate,, ada yang ingin aku sampaikan.. Bisa kau mendengarkan dulu, baru setelah itu kau membuat keputusan? " perasaan Kate langsung tidak enak.
Galen pun mengatakan semaunya, apa yang Kate lakukan dan kerjakan di sana. Galen sangat bangga, Kate bisa memulai sendiri usahanya, namun Galen juga kecewa karena Kate lupa tujuan awalnya. Bukan seperti ini maksud Galen, yang kala itu memaksa Kate untuk berobat. Kate bisa melakukan apapun yang dia inginkan, tapi tetap tidak boleh melupakan pengobatannya.
Belum lagi Galen juga membahas mengenai Iden, pria yang akhir-akhir ini dekat dengan Kate. Galen ingin Kate memutuskan dengan benar apa yang akan dilakukan dan diputuskan, tidak seperti sekarang yang jelas bahwa Kate justru melarikan diri dari kenyataan dan asyik dengan dunia dia sendiri.
" Aku sudah tahu dari awal Kate, tentang semua yang terjadi. Aku pikir kau yang masih sering bertukar surat dengan Gaffi menceritakan semua kegiatan mu dan Gaffi mengerti. Tapi setelah apa yang terjadi pada Gaffi saat ini, dengan sangat menyesal maaf Kate, aku terpaksa memaksa mu untuk membuat keputusan.. " ucap Galen terdengar tegas sekali di telinga Kate.
__ADS_1
Jujur saja Kate sakit hati mendengar ucapan Galen. Karena apa yang disampaikan oleh Galen memang benar adanya. Kate seakan lari dari kenyataan dan itu berakibat pada Gaffi yang sekarang justru terbaring lemah di rumah sakit. Kate merasa bersalah, tapi untuk membuat keputusan, rasanya Kate belum memiliki jawaban untuk itu.
" Kita tidak bisa menggenggam semua isi dunia dengan tangan kita, Kate.. Jadi jangan jadi kemaruk, ambil apa yang kau butuhkan dan berikan pada orang lain apa yang menurut mu tidak kau butuhkan. "
" Aku rasa cukup disini saja pembicaraan kita, pikirkan dengan baik apa yang kau inginkan Kate.. Aku yakin Gaffi akan menerima apapun keputusan mu. Yang dia butuhkan adalah kejelasan Kate.. "
Telepon ditutup oleh Galen, langsung saja tubuh Kate merosot ke bawah. Kate menenggelamkan wajahnya di dalam kedua kakinya yang dia tekuk. Kate kembali menangis, merasa dia telah menyakiti Gaffi tanpa dia sadari. Apa bedanya dia dan Gaffi ketika ternyata dia juga menyakiti Gaffi.
Kate dilema, apa yang harus dilakukan dan apa yang akan dia putuskan. Rasanya dia terlalu berat melepaskan apa yang ada digenggamnya saat ini, tapi dia juga tidak bisa melepaskan Gaffi begitu saja. Kate nyaman bersama Iden, tapi dia mencintai Gaffi. Dia sangat yakin dengan itu semua dan dia tidak akan merubah keputusan tentang apa yang perasaannya rasakan.
" Kak,, apa yang harus aku lakukan? " gumam Kate disela tangisannya.
***********
Di tempatnya berada saat ini, Gaffi baru saja membuka matanya. Dia sedang bersama dengan Galen saat ini, dan dia mendengarkan semua ucapan Galen yang dia tahu itu pasti Kate yang tengah berbincang dengan Galen. Kini Gaffi tahu alasan Kate sama sekali belum kembali ke sisinya setelah berobat dalam waktu yang lama. Kini dia tahu alasannya.
" Len... Apakah aku harus melepaskan Kate? " tanya Gaffi sesaat setelah dia membuka mata. Galen yang tengah sibuk dengan ponselnya terkejut mendengar suara Gaffi dan refleks langsung memanggil dokter.
__ADS_1
" Jangan dipikirkan dulu masalah itu... Sembuh dulu baru berpikirlah, melepaskan atau tetap menggenggam, pikirkan nanti saat kau sehat.. "