
Berat ketika kita masih sangat cinta tapi harus meninggalkan karena tinggal pun hanya akan terluka. Berat ketika kita memaksakan diri untuk pergi ketika kita merasa belum usai dalam pertarungan cinta. Itulah kenapa seseorang akan dilema jika sudah melibatkan cinta. Kate Keyleigh pun juga merasakan hal yang sama.
Kehidupan layak, wajah yang rupawan, berasal dari latar belakang yang tidak biasa dan juga karir yang cemerlang, tidak menentukan kebahagiaan seseorang, meski itu semua termasuk faktor yang mendukung manusia untuk memilih kebahagiaan itu sendiri. Karena nyatanya, Kate harus mengalami penderitaan karena kesalahan tidak sengaja yang dia perbuat. Cintanya yang tulus tidak bisa mengalahkan pekatnya dendam yang ditujukan padanya.
Pergi, adalah jawaban yang terbaik dari semua deritanya. Namun ketika waktu kepergiaan nya semakin dekat, Kate justru dilema karena pria yang begitu dia cintai itu terlihat sangat menderita karenanya. Meski hati Kate kekeh untuk pergi, namun tetap saja meninggalkan kerapuhan pada pria yang dia cintai itu adalah sebuah dilema.
" Kenapa baru sekarang kau menyadari perasaan kita yang saling mencintai setelah aku memutuskan untuk pergi menjauh dari semua? " itulah kalimat yang selalu Kate ucapan ketika merasakan dilema itu datang menerjangnya.
Tapi ribuan kata terucap, jutaan air mata yang tertumpah tetap tidak akan bisa mengubah keputusannya untuk pergi. Dirinya memilih tetap pergi meski membawa serta semua luka yang dia rasakan selama ini. Tapi karena yakin, dia akan sembuh dari semua itu ketika dia benar-benar akan pergi nanti.
Kate dan Gaffi bisa saja menyelesaikan semuanya tanpa harus berpisah. Bicara baik-baik tentang perasaan keduanya, sakit hati keduanya, tapi itu tidak akan menyelesaikan masalah karena keduanya sudah menanam luka yang dalam dihati masing-masing. Katakan saja mereka sudah saling memaafkan, tapi keduanya belum benar-benar sembuh dari luka itu.
Akan ada kalanya Kate merasa Gaffi membencinya dan akan mengasarinya. Akan ada masanya dimana melihat Kate, akan membuat Gaffi mengingat dendam nya. Yang mereka butuhkan saat ini bukanlah saling bicara, melainkan saling menjauh menyembuhkan luka dan jika masih ada cinta dalam proses penyembuhan itu mereka akan bersama.
Kate duduk dihadapan dokter Marcello, hari ini adalah sesi kedua pertemuan mereka. Sejak tadi dokter Marcello mendengarkan cerita yang diucapkan oleh Kate tentang suaminya. Sedikit banyak dokter Marcello tahu kegundahan hati dari Kate jika tetap pergi. Tugasnya adalah membuat Kate memahami keinginan hatinya, karena itu yang paling penting.
" Apakah kau takut jika kau pergi maka suami mu akan bersama wanita lain? Karena itukan kau bimbing untuk pergi Kate? " tanya dokter Marcello.
__ADS_1
" Mungkin iya, mungkin tidak.. Aku sendiri tidak yakin para perasaan ku, lebih tidak yakin pada perasaannya.. " jawab Kate terdengar ambigu.
" Coba kau selami lagi hati mu, katakan apa yang kau inginkan. Pikirkan dengan baik jangan terburu-buru karena takut endingnya kalian berdua menyesal. Tapi ada kalanya kau butuh bicara dengan suami mu, dengan begitu kau mungkin lebih yakin.. " saran dokter Marcello.
" Aku takut bertemu dengannya. Aku selalu menyalahkan dia atas apa yang menimpa anak dalam kandungan ku. Aku tidak bisa begitu saja bertemu dan bicara dengan nya... "
" Kalau begitu telepon saja.. Tidak harus bertemu yang penting saling bicarakan.. Itu jauh lebih baik dari pada kau pergi dengan perasaan yang tidak kelar.. "
Kate benar-benar memikirkan apa yang baru saja dikatakan oleh psikolognya. Memang benar juga, dia pergi dalam kondisi begini juga dia tidak akan bisa menjalani pengobatan. Kate harus fokus menyembuhkan penyakit mentalnya, karena itu dia kekeh pergi meski hatinya melarang untuk pergi.
Kate juga sudah meluangkan gugatan cerai pada Gaffi, dia dengar surat dari pengadilan sudah Gaffi Terima. Haruskah dia dan Gaffi membicarakan semua ini lagi, apakah perpisahan itu adalah hal yang paling baik bagi keduanya? Ataukan masih ada jalan untuk bersama, bagi keduanya.. Pertanyaan ini memenuhi pikiran Kate.
" Aku.. Jatuh cinta...? " beo pria yang duduk di depan Kate itu.
" Hm... "
" Belum pernah.. Aku pikir awalnya apakah aku ada kelainan seksualitas, maksudnya aku gay. Karena aku belum pernah merasakan cinta sama sekali. Tapi saat aku mencoba menyelami hati ku, aku juga tidak jatuh cinta pada pria manapun. Bisa dikatakan aku belum menemukan seseorang yang bisa membuatku jatuh cinta... " terang Marcello.
__ADS_1
" Ppffffttttt.... Bagaimana bisa kau mengatakan diri mu itu Gay. Kau tahu sendiri sesensitif apa masyarakat tentang itu semua. Apa kau tidak takut dikucilkan...? " Kate merasa cara berpikir Marcello ini lucu.
" Hahahaha... Aku hanya merasa diri ku mungkin berbeda. Tidak ada salahnya mencari jati diri sebelum terjun ke masyarakat. Kau tahu aku sekali pun belum pernah tertarik dengan wanita, bayangkan usiaku sekarang berapa. Karena itu mungkin aku memiliki hal yang berbeda... "
" Berbincang dengan mu selalu membuatku tertawa. Kau pandai sekali berucap membuat orang ingin tertawa terus rasanya... " Kate masih tertawa bahkan kini perutnya sudah begah karena banyak tertawa.
" Ck... Aku jujur ya, bukan hanya karena ingin melihat kau tertawa... " Marcello pura-pura merajuk.
Sesi mereka yang kedua ini pun terus berlanjut. Marcello berusaha untuk mengorek sedikit kisah lama Kate. Dimulai dari yang paling segar diingatan Kate, lebih tepatnya peristiwa dimana Kate tanpa sengaja kambuh ketika menyetir mobil hingga berakibat menabrak Bellvania sampai meninggal di tempat.
Sebenarnya alasan Bellvania meninggal bukan hanya tertabrak, melainkan pendarahan yang hebat karena keguguran. Penyebab keguguran itu adalah mobil Kate yang menyerempetnya hingga Bellvania terjatuh dan menghantam jalanan. Kate tidak menabrak langsung melainkan hanya menyenggol hingga membuat Bellvania terpental jauh.
Marcello seperti menemukan jarum dalam tumpukan jerami ketika mendengar dengan sendiri nya apa yang terjadi menurut cara pandang Kate. Awalnya Marcello berpikir Kate sungguh menabrak hingga Bellvania meninggal. Namun seperti apa yang dikatakan oleh Kate.
" Meskipun aku tidak menabrak nya secara langsung dan kak Bells meninggal karena pendarahan di kandungannya. Tapi yang membuat kak Bells terjatuh adalah aku.. Tetaplah aku yang dianggap pembunuhnya. "
Marcello harus melaporkan masalah ini pada Galen. Beruntung Kate masih belum sadar karena metode hipnotis nya. Dengan begini mungkin sedikit jauh membuat cara pandang Gaffi pada Kate berubah. Marcello mengirimkan pesan berupa pesan suara.
__ADS_1
Semoga saja sebelum Kate berangkat untuk melakukan penyembuhan pada mentalnya. Semua masalah antara Gaffi dan Kate bisa terselesaikan. Tidak menampik bahwa Kate sangatlah cantik, Marcello mengaku jatuh hati pada pandangan pertama. Tapi sekali lagi dia sejak awal paham, bahwa pasiennya saat ini sedang mengalami krisis jati diri, itu semua karena cinta yang tidak bisa terealisasikan dengan baik. Keduanya saling menyakiti karena tidak tahu harus berbuat seperti apa..