
Mansion utama keluarga de Niels saat ini tengah panik karena Carmel yang kembali rewel. Padahal dua hari yang lalu, setelah bertemu dengan Kate, putri kecil Gaffi ini sudah kembali seperti sedia kala. Tenang, tidak banyak menangis dan sangat penurut. Tapi lihat pagi ini, semua anggota keluarga utama minus Gaffi sampai harus membatalkan pekerjaan mereka demi bisa membuat Carmel tenang.
Saat ini Carmel tengah berada digendongan Geya, melihat taman bunga milik mommy Noura yang ada di halaman belakang mansion. Sudah tiga puluh menit Geya menggendong keponakannya ini, tapi sang keponakan tidak kunjung ingin lepas dari gendongannya. Padahal tangan Geya sudah sangat pegang, apalagi pinggangnya sudah terasa kencang.
" Kalian bertiga lakukan sesuatu? Bisa patah pinggang ku jika seperti ini terus!!! " Geya melotot tajam ke arah ketiga saudara kembarnya yang kini tengah menikmati teh di pagi hari. Jarang-jarang mereka bisa serempak tidak bekerja seperti ini, jadi mereka manfaatkan saja untuk sekedar berbincang sambil ngeteh di pagi hari.
" Ck.. Itu keponakan ku sendiri Ge.. Bersabarlah, lagian ini bagus untuk latihan agar kelak kau tidak kaget jika punya anak dengan Rouge... " Gafar balas mengomel.
Jika disinggung Rouge, maka pipi Geya akan merona merah seperti tomat rebus. Membuat Gafar yang melihatnya langsung ingin muntah. Tadi saja Geya marah-marah, sekarang justru merona malu karena disinggung cinta pertamanya.
" Dasar wanita... " cibir Rouge pelan.
" Apa kau tidak berniat untuk membujuk daddy agar mau memaafkan Gaffi? Setidaknya anak itu masih bisa tinggal di sini membantu mommy menjaga Carmel.. Kita tidak bisa selamanya mangkir dari kerjaan kan... " ujar Gafar.
" Aku ada niatan sih... Tapi aku harus melihat dulu bagaimana respon daddy. Kalian tahu sendiri daddy semarah apa.. "
" Ehmm... Yah cuma cabut saja hukuman tidak boleh tinggal di mansion. Masalah sah dan kekuasaan tidak usah dicabut juga tidak apa. Yang penting itu anak bisa tinggal disini... " Ghadi yang sudah selesai dengan game dalam ponselnya lekas ikut bergabung dalam pembicaraan bersama ini.
" Nanti aku bantu ngomong deh.. " ujar Gafar.
" Oke... Kita ngomong sama daddy... " Galen hendak berdiri dari tempat duduknya untuk mencari daddy Joaquin terpaksa duduk kembali saat tiba-tiba Carmel didudukan di pangkuannya.
" Ge.... " seru Galen.
" Aku kebelet.... Titip dulu... " seru Geya dari jarak yang sudah cukup jauh dari Galen.
__ADS_1
" Sialan... " batin Galen misuh-misuh.
JN SC HOSPITALS
Gaffi berjalan gontai menuju ke ruangan pribadinya. Dia mendapatkan shift malam karena menggantikan rekannya yang bertukar shift dengannya waktu itu. Dan sangat kebetulan sekali semalam ada operasi darurat, dan selama hampir lima jam Gaffi terkurung di ruang operasi karena pasiennya kali ini memiliki komplikasi.
Gaffi melihat jam dinding di kantornya, seharusnya dia sudah pulang sekitar satu jaman yang lalu. Tapi kini sudah dia terlambat pulang, masih lagi ada tugas yang harus dia kerjakan. Berkeliling pasiennya sebelum benar-benar pulang ke apartemennya.
Gaffi menghela nafas lelah, resiko menjadi dokter yang harus profesional bahkan harus rela kurang istirahat, terlambat makan bahkan kadang sampai tidak makan, belum lagi jika harus seperti yang dialami Gaffi saat ini. Meski pun lelah, tapi Gaffi senang dengan profesi yang dia jalani saat ini. Baginya melihat pasiennya bisa kembali sehat adalah kebahagiaan tersendiri baginya.
" Huft..... Lelahnya... " Gaffi merenggangkan ototnya.
Gaffi lekas masuk ke kamar mandi di ruangan pribadinya, karena dia akan langsung pulang setelah berkeliling ke bangsal pasiennya. Tak butuh waktu lama, hanya sepuluh menit saja Gaffi sudah selesai bersiap. Mengenakan kemeja berwarna hitam, kemudian mengenakan jubah dokternya tidak lupa dengan stetoskop yang menggantung di lehernya. Pesona Gaffi memang luar biasa ketika memakai atribut seperti sekarang ini.
" Always, every day... Dokter Gaffi memang dokter paling famous di rumah sakit ini.. Jarang ada dokter yang sesempurna dokter Gaffi, sudah tampan, ramah, sangat hebat, dan juga begitu bertanggung jawab dengan pasien dan pekerjaannya. " satu suster yang lain ikut memuji.
" Suster Louise.. Temani saya keliling ya, saya harus lembur jadi suster yang jaga malam pastinya sudah pulang.. " ajak Gaffi.
" Baik dok... " suster Louise, suster paling lama bekerja di bagian bedah saraf, langsung beranjak dari kursinya mengikuti langkah Gaffi.
Setelah selesai dengan semua pekerjaannya, Gaffi langsung menuju ke parkiran khusus pegawai rumah sakit. Dia ingin segera pulang dan langsung tidur karena tubuhnya sangat lelah sekali. Namun belum juga mobil buggati metalicnya melaju, sebuah telepon menghentikan rencananya untuk pulang.
Melihat nama mommy Noura di layar ponsel nya, Gaffi lekas mengangkatnya. Seketika dia panik karena takut jika telepon ini merupakan kabar buruk tentang sang putri.
" Halo mom... " sapa Gaffi.
__ADS_1
" ...... "
" Baik mom... Aku ke sana sekarang... " Gaffi menutup panggilan dari mommy Noura dan lekas melajukan mobilnya menuju ke mansion utama. Gagal sudah rencananya untuk segera beristirahat di apartemen pribadinya. Panggilan dari mansion utama jauh lebih penting dari sekedar istirahat saja.
Kedatangan Gaffi ke mansion utama disambut Galen yang saat ini tengah menggendong Carmel. Begitu Gaffi berada di depannya, Galen langsung menyerahkan Carmel ke gendongan Gaffi.
" Nih, gendong anak mu.. Kami sudah lelah.. " ujar Galen kemudian masuk ke mansion meninggalkan Gaffi dan Carmel.
Alis Gaffi mengernyit ketika melihat tingkah saudara kembarnya yang tidak biasa itu. Lelah menggendong katanya, bahkan Galen berada di mansion ketika seharusnya pria itu berada di kantornya di JN Group.
Gaffi makin bingung ketika melihat semua anggota keluarga de Niels minus keluarga yang tinggal di Roma sudah berkumpul di ruang keluarga. Gaffi menggaruk kepalanya yang tidak gatal menggunakan tangan yang tidak menopang tubuh Carmel dalam gendongannya. Gaffi menatap ke arah Geya mencoba memberi kode tentang apa yang terjadi di saat ini.
" Duduk Gaf... " titah daddy Joaquin. Gaffi tanpa. banyak bicara langsung saja menuruti titah dari daddy Joaquin. Gaffi duduk dengan memangku Carmel.
Jujur saja saat ini perasaan Gaffi sudah tidak karuan gugupnya. Dia merasa sedang disidang oleh semua anggota keluarga, dan itu sangat mendebarkan. Rasanya jantung Gaffi berpacu tiga kali lebih cepat dari biasanya, wajahnya pias, telapak tangannya muncul keringat dingin. Dia sudah seperti seorang penjahat yang sedang disidang untuk dijatuhi hukuman.
" Ehmmm,, ini ada acara apa ya? " tanya Gaffi memberanikan diri untuk bertanya.
" Menyidang mu,, apalagi??? " ujar Gafar semakin membuat Gaffi ketakutan di tempat.
" Kau tahu apa hukuman mu kan? " tanya daddy Joaquin yang langsung diangguki Gaffi. " Selain boleh tinggal di mansion, yang lainnya masih tetap berjalan. Kau paham... " ucap daddy Joaquin.
Gaffi terlihat bingung, tidak begitu paham maksud dari daddy nya. Dia menengok ke semua anggota keluarganya mencari tahu apa yang dimaksud sang daddy, tapi semuanya hanya menatapnya dan tersenyum.
" Kau boleh tinggal di mansion, hanya saja semua hukuman mu yang lain akan tetap berjalan. Jika kau ingin tanya sampai kapan, hanya kau sendiri yang tahu jawabannya... Seberapa kuat kau ingin berubah dan melakukan penebusan, akan mempengaruhi kecepatan mu untuk kembali memperoleh semua..."
__ADS_1