
Pulang dari taman bermain, wajah Gaffi ditekuk kelihatan masam sekali. Hal itu menjadi perhatian Galen yang kebetulan melihat saudara dan keponakannya pulang dari taman bermain.
" Itu kenapa wajahnya masam amat? Nggak mungkin kan gara-gara masuk rumah hantu? " gumam Galen sangsi.
" Aish.. Tanya aja lah, daripada penasaran.. " Galen pun mengikuti Gaffi sampai ke kamar Carmel dan menyerahkan putri Gaffi itu ke pengasuhnya untuk dimandikan.
" Kenapa kau disini? " tanya Gaffi yang terkejut melihat Galen tiba-tiba ada di pintu kamar putrinya.
" Apa ada masalah? " tanya Galen.
" Bisa minta tolong selidiki semuanya tentang sekolahan Carmel. Termasuk murid dan orang tuanya.. "
" Alasannya? " tanya Galen. Dia tidak bisa melakukan seperti apa yang Gaffi minta tanpa adanya alasan yang kuat.
" Carmel di bully di sekolah. Aku baru dengan dari gurunya ketika kami tidak sengaja bertemu di taman bermain.. Aku sadar ini salahku tidak benar-benar perhatian pada putri ku, tapi apa aku diam saja ketika putri ku di bully.. " ujar Gaffi.
" Oke.. Tunggu kabar dari ku.. " Gaffi bisa bernafas lega karena Galen mau membantunya.
Meski Gaffi memiliki kekuasaan yang sama seperti Galen karena dia juga putra daddy Joaquin, tapi untuk urusan yang satu ini memang Galen jauh lebih pandai. Daripada Gaffi salah mengambil tindakan dan semuanya jadi menyalahkannya, jadi dia hanya bisa menyerahkannya pada orang yang memang pandai di bidang ini. Dia Terima beres saja untuk masalah ini.
***********
__ADS_1
Keesokan harinya meja makan gempar karena berita tentang dibully nya Carmel di sekolah. Setelah di konfirmasi pada Carmel, nyatanya memang benar seperti itu. Tentu saja hal ini membuat daddy Joaquin marah besar karena ada yang berani membully cucunya.
" Kita ke sekolah Carmel ramai-ramai aja.. Biar mereka tahu Carmel itu cucunya siapa.. " usul Ghadi.
" Setuju... Ayo kita semua antar Carmel ke sekolah. Gaf, kamu nggak ada operasi pagi kan? " tanya Gafar. Rasanya akan percuma saja kalau Gaffi sendiri malah tidak bisa ikut.
" Nggak.. Ini niatannya juga mau ngantar Carmel ke sekolah.. " ucap Gaffi.
" Setuju.. Ayo kita segera membereskan masalah ini.. Enak aja keponakan yang aku rawat dari kecil di bully.. Sialan.. " gumam Gafar emosi.
Jadilah pagi ini semua anggota keluarga de Niels mengantarkan Carmel pergi ke sekolah. Kedatangan keluarga besar de Niels ini tentu membuat satu sekolahan heboh. Siapa yang tidak kenal keluarga de Niels, hanya orang yang tinggal di planet lain saja yang tidak tahu. Dan pagi ini, semua anggota keluarga de Niels justru berkumpul di sekolah taman kanak-kanak.
Pemilik yayasan sekolahan tempat dimana Carmel bersekolah tentu saja langsung menyambut kedatangan dari tuan besar de Niels. Ditemani kepala sekolah dan guru senior, semuanya menyambut kedatangan keluarga de Niels.
" Tentu saja ada.. Perlu kita bicara di dalam saja, tidak baik orang lain mendengarnya.. " ujar daddy Joaquin kelihatan berwibawa sekali.
" My Girl... Kamu masuk ke kelas dulu ya, grandpa ada perlu dulu sama tuan ini.. Nanti grandpa kunjungi kelas kamu.. Okay.. " daddy Joaquin jongkok di depan Carmel, kemudian mengusap pipi dan puncak kepala Carmel.
" Oke grandpa.. Nggak boleh marah-marah ya.. " ujar Carmel mengingatkan. Daddy Joaquin mengangguk dan membentuk OK dengan jarinya.
" Gaf,, antar putri mu ke kelasnya.. Dan kalian berdua tahu apa yang harus dilakukan? " daddy Joaquin menatap Gafar dan Ghadi.
__ADS_1
" Beres bos.. " keduanya langsung pergi meninggalkan gerombolan keluarga de Niels entah kemana.
Gaffi mengantarkan Carmel ke kelas, sedangkan daddy Joaquin, mommy Noura dan Galen pergi ke ruangan kepala sekolah untuk berbincang-bincang mengenai sekolah dan masalah Carmel.
Suasana di ruangan itu terasa sangat mencekam, pasalnya tadi daddy Joaquin terlihat sangat lembut di depan cucunya, sekarang terlihat sudah mulai menampakkan taringnya. Sengaja daddy Joaquin berbuat seperti ini untuk mengintimidasi pihak sekolah agar menindaklanjuti masalah pembullyan Carmel. Pasalnya menurut Galen, anak-anak yang membully Carmel berasal dari keluarga kelas atas yang juga memiliki pengaruh di kota ini. Sayang sekali anak-anak itu didik tidak baik oleh orang tua mereka sehingga tidak mencerminkan keluarga kelas atas.
" Langsung saja, tujuan kami kemari ingin agar sekolah menindaklanjuti masalah pembullyan cucu saya.. Bisa dilakukan? " pemilik yayasan menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Dia sekarang ini berada di situasi yang terjepit di tengah pusaran keluarga orang kaya.
" Begini tuan Joaquin, saya harap anda bisa mentolerir masalah ini karena sebenarnya ini hanyalah masalah anak-anak yang bahkan tidak tahu apa yang mereka ucapkan.. Saya harap anda tidak akan memperbesar masalah ini.... "
" Masalah anak-anak? Justru karena masih anak-anak perlu diperhatikan dengan betul agar tidak mencetak generasi buruk di masa depan.. Jika masih kanak-kanak saja tidak ditunjukan mana kebaikan dan kejahatan, mau jadi apa mereka ketika besar nanti.. Anda bisa mengatakan itu karena yang di bully adalah cucu saya, tapi bagaimana jika itu terjadi pada anak dan cucu anda? Apa anda masih bisa mengatakan ini masalah anak-anak? " wajar daddy Joaquin sudah terlihat marah karena dia tersinggung dengan ucapan pemilik yayasan.
" Maafkan kami tuan.. Sebenarnya kami tidak bisa melakukan hal itu bukan karena kami membenarkan tindakan anak-anak itu. Hanya saja kami berada di pihak yang.... " ucapan kepala yayasan terpotong ketika Galen menyahuti langsung ucapan itu sebelum selesai diucapkan.
" Kalau masalah itu jangan khawatir, lakukan saja sesuai arahan kami maka yayasan anda tidak akan tersentuh orang itu.. Anda tidak akan merasa dirugikan jika membantu kami karena kami dipihak yang benar.. " ucap Galen.
Kepala yayasan nampak terdiam untuk berpikir dengan apa yang harus dilakukannya. Anak yang membully Carmel adalah cucu dari mantan walikota Milan, dimana orang tua anak ini adalah pemilik perusahaan besar di bidang real estate dan si ibu dari anak ini adalah petinggi di pemerintahan kota Milan. Mencari gara-gara dengan mereka jelas akan mempersulit yayasan ini, karena itu kepala yayasan sempat ragu dengan ini semua.
Tapi jika tidak membantu keluarga de Niels atau berseberangan dengan mereka, resikonya jauh lebih besar ketimbang menjadi musuh keluarga anak yang membully Carmel itu. Rasanya sulit sekali tapi pada akhirnya kepala yayasan bersedia melakukan apa yang keluarga de Niels minta karena seperti kata mereka tadi, mereka berada di posisi yang benar.
" Apa yang harus kami lakukan tuan Joaquin? " tanya kepala yayasan.
__ADS_1
" Panggil orang tua anak itu hari ini ke sekolahan, sisanya kami yang urus.. "
Kepala yayasan meneguk ludahnya kasar, sepertinya akan ada perang Dunia di sekolah ini nantinya. Semoga saja, tidak akan sampai mempengaruhi nama baik yayasan dan tidak berakibat pada anak-anak yang bersekolah disini.