MENGEJAR MAAF SANG ISTRI

MENGEJAR MAAF SANG ISTRI
Balasan surat


__ADS_3

Pesawat bertuliskan nama JN FAM, terlihat mulai lepas landas dari bandara, menuju sebuah negara dimana disana sedang diadakan sebuah seminar yang dihadiri para dokter-dokter berbakat di seluruh dunia. Gaffi terpilih untuk mewakili Italia, bersama dengan kelima dokter lainnya. Mereka berenam berasal dari seluruh Italia dengan masing-masing memiliki spesialisasi sendiri.


Seminar seperti memang sering dilakukan, biasanya dijadwalkan selama satu tahun akan dilakukan dua sampai tiga kali. Seminar bertaraf internasional ini memang diacak setiap kalinya, sehingga berbeda-beda tempat yang akan dijadikan sebagai tuan rumah seminar dokter ini.


Yang berkumpul tentunya adalah dokter-dokter dengan kemampuan yang baik. Semuanya akan hadir untuk mempresentasikan cara operasi yang mereka terapkan dalam melakukan tindakan penyelamatan pada pasien. Masing-masing dokter akan maju memutar video dan menjelaskan tentang jalannya operasi di dalam video itu.


Bagi Gaffi, entah ini seminar keberapa yang dia ikuti. Tapi memang Gaffi selalu ditunjuk sebagai perwakilan dokter bedah saraf otak untuk mengikuti seminar kedokteran ini. Alasannya jelas pasti karena kemampuan Gaffi yang tidak main-main. Julukan tangan dewa, disematkan pada Gaffi bukan tanpa alasan. Tapi memang kecepatan Gaffi melakukan operasi dan keakuratannya melebihi dokter lainnya.


" Senang bertemu dengan anda dokter Gaffi.. Dan terima kasih tumpangannya untuk kami semua.." ujar ketua perwakilan dokter dari Italia. Kalau tidak salah Gaffi ingat, dokter ini adalah dokter spesialis jantung terbaik di Italia. Dokter wanita ini sekitar empat sampai lima tahun lebih tua dari Gaffi,dia bernama Thalia Morena.


" Sama-sama dok.. Saya sendiri memang lebih suka memakai pesawat milik keluarga dibandingkan dengan pesawat umum lainnya. Lebih nyaman dengan pesawat pribadi.." ujar Gaffi merendahkan dirinya.


Bukan sombong karena memiliki pesawat pribadi. Tapi Gaffi dan keluarganya memang nyaman menggunakan pesawat pribadi keluarga d Niels. Tentunya karena pelayanannya sangat baik dan pilotnya pun sudah memiliki jam terbang yang tidak bisa dianggap remeh. Lagi, menggunakan pesawat pribadi tidak akan membuat kita mengantre untuk membeli tiket dan urusan keberangkatan lainnya.


" Sekali terima kasih ya dok.." dokter Talia itu terlihat mencoba mencari perhatian Gaffi dengan memilih duduk di kursi yang berada di dekat Gaffi.


" Iya dok,, tidak perlu sungkan." Gaffi menunduk. Dia kemudian memilih memejamkan mata untuk sekedar beristirahat dan menghindari pembicaraan yang menurutnya tidak penting yang mulai dibangun dokter Thalia itu.

__ADS_1


Gaffi bukan anak kemarin sore yang tidak paham dengan ciri-ciri orang yang tertarik dengannya. Dokter Thalia adalah satu dari sekian banyaknya wanita yang mencoba menarik perhatiannya selama ini. Dan sungguh selain dengan Bellvania dan Kate, Gaffi sama sekali tidak memiliki ketertarikan yang spesial dengan wanita lain. Emily pun bukan Gaffi yang menawarkan diri, tetapi Emilylah yang menyerahkan dirinya sendiri pada Gaffi. Kucing mana yang menolak jika diberi ikan?


Tak lama setelah Gaffi mencoba terpejam demi menghindari dokter-dokter yang mencari perhatiannya, seorang pramugari datang untuk menawarkan snack dan minuman. Pramugari itu paling akhir menemui Gaffi. Tentu saja dia tahu Gaffi adalah salah satu pemilik pesawat ini, jadi harus dilayani dengan baik.


" Tuan muda, apakah ada sesuatu yang anda inginkan untuk kami sediakan?" tanya pramugari itu setelah sebelumnya membungkuk memberi hormat.


" Buatkan saja aku kopi.. Hanya itu saja.." pinta Gaffi masih tetap dengan kondisi mata tertutup.


" Untuk snack nya tuan muda?" pramugari ini kembali bertanya.


" Tidak perlu.. Cukup kopi saja, tapi jangan terlalu manis dan pahit ya..!!" ujar Gaffi dan langsung oleh pramugari,pesanan Gaffi disiapkan.


Gaffi menyesap kopinya yang masih sedikit panas itu. Gaffi sangat menyukai aroma dari kopi yang dibuat dari mesin pembuat kopi. Rasa dan aromanya begitu memabukkan dan selalu bisa membuat otak Gaffi menjadi lebih rileks setelah berbagai macam peristiwa terjadi pada hidupnya.


Jarak tempuh dari Milan menuju ke negara di mana seminar kedokteran ini diselenggarakan memang tidak terlalu jauh. Sekitar dua jam berada di udara maka mereka akan sampai di tempat yang ditentukan. Dan kini, keenam dokter dengan gelar masing-masing itu sudah berada di negara Jerman, tepatnya di kota Berlin. Selama tiga hari ke depan mereka akan berada di kota ini.


" Apakah jemputan untuk kita sudah datang? " tanya dokter pria yang Gaffi ketahuilah adalah dokter spesialis bedah umum dari rumah sakit di Vatican. Nama dokter itu adalah dokter Fartur.

__ADS_1


" Sebentar, saya hubungi pihak penyelenggara dulu.. " dokter Thalia sebagai ketua tentu saja langsung dengan sigap menghubungi pihak penyelenggara.


" Mereka di depan.. " ucapnya setelah selesai dengan ponselnya.


" Mari kita ke sana.. " dokter Fartur memimpin kapan di depan. Kebetulan kota Berlin adalah kota kelahirannya meski dia besar di Milan. Jadi sedikit banyak dia tahu tentang kota ini.


Dari bandara ke hotel jaraknya empat puluh lima menit itu pun karena macet, jika jalanan biasa dalam waktu dua puluh menit juga sudah sampai. Gaffi langsung menuju kamarnya untuk beristirahat, tentu kamar single karena dia tidak suka berada di ruangan yang sama dengan orang lain. Entah darimana dia menuruni sikap itu, karena baik daddy Joaquin dan mommy Noura tidak ada yang begitu.


" Ah.... Lelahnya.... " Gaffi langsung membaringkan tubuhnya di ranjang berukuran king size karena dia meminta kamar luxury untuk nya.


" Lihat dulu ponsel ku... Dimana tadi aku letakan.. " gumamnya mencari-cari dimana letak ponselnya.


" Ah... Ini dia... Ada pesan tidak ya? " ujar Gaffi sambil bersenandung kecil menunggu ponselnya kembali menyala setelah dia matikan di pesawat tadi.


Ketika layar ponselnya menyala, betapa terkejutnya Gaffi dari sekian banyak yang mengirim pesan, satu pesan dari seseorang yang beberapa hari yang lalu diamuk nya di kantor, terlihat mengirimkan pesan bergambar padanya.


" Apa apa lagi ini orang,? " Gaffi malas membuka isi pesan dari Galen karena masih ingat kejadian tempo hari. Namun begitu di buka dan dibaca pesan bergambar itu, raut wajah Gaffi berubah menjadi tidak terbaca sama sekali. Entah apa yang cocok untuk melukiskan perasaanya saat ini.

__ADS_1


" Balasan dari surat mu sudah ada di tangan ku.. Kapan kau mau mengambilnya? "


__ADS_2