MENGEJAR MAAF SANG ISTRI

MENGEJAR MAAF SANG ISTRI
Telah yakin memutuskan


__ADS_3

Kate duduk di sebuah kursi di taman kota tempatnya tinggal. Dia memikirkan berbagai macam hal, yang salah satunya adalah tentang pertanyaan yang Galen sampaikan padanya. Kate harus melepaskan salah satu dan diantara kedua yang dia genggam mana yang berat sebelah atau mana yang menurutnya merupakan keinginannnya.


Kate tidak pergi ke tokonya selama dua hari ini, dia terus berpikir tentang apa yang akan dia lakukan. Kate sebenarnya merasa berat meninggalkan apa yang telah dia rintis dari 0 hingga seperti sekarang ini. Tapi Kate juga mencintai Gaffi. Mendengar Gaffi sakit karena dirinya membuat hati Kate sangat terluka dan dia sedih kala tidak ada di samping suaminya saat ini.


" Apa harus aku lakukan? " batin Kate dengan mata yang lurus menatap beberapa orang yang juga ada di taman itu.


Kate masih dia termenung sampai dia mendengar ponselnya berbunyi. Sepertinya ada pesan masuk di ponselnya dan Kate pun membukanya. Pesan itu dari Galen yang menyampaikan apa yang Gaffi ucapkan agar Kate tidak salah memilih dan menyesal di kemudian hari.


* Lakukan apapun yang membuat mu bahagia.. Karena tujuan manusia hidup itu untuk bahagia.. Jika memang kebahagiaan mu tidak bersama ku maka lepaskan semua tentang kita.. *


Pesan dari Galen bukan membuat Kate menjadi tenang tapi justru membuatnya menjadi semakin sedih. Kate sendiri tidak tahu apakah yang dia jalani di tempat ini adalah kebahagiaan yang dia cari atau tidak. Sekali lagi Kate di buat tidak tahu harus berbuat apa.


" Nona... Nona.. Apakah anda mau membeli bunga? " tanya seorang gadis kecil yang mendatangi Kate.


" Ya..? " Kate sedikit terkejut.


" Anda ingin membeli bunga ini atau tidak? Bunga ini sangat bagus nona.. " ucap gadis kecil itu menyerahkan setangkai bunga pada Kate.


" Myosotis sylvatica atau bunga forgot me not kan?? " tanya Kate pada gadis itu. Gadis itupun mengangguk, Kate cukup terkesan mengetahui anak ini tahu arti dari bunga ini.

__ADS_1


" Bunga yang memiliki simbol untuk cinta yang abadi.. Aku yakin, kakak pasti akan menemukan cinta sejati kakak.. Apakah kakak ingin membeli ini? " tanya gadis itu lagi.


" Tentu.. Apa kau bisa mencarikan ku tanaman ini yang bisa ditanam di rumah. Aku ingin memilikinya.. " tanya Kate,


" Tentu.. Selama Anda menanamnya dengan harapan Anda bisa bertemu dengan cinta sejati Anda,, bunga ini akan tumbuh sangat subur nantinya.. " ucap gadis itu menyerahkan keranjang berisi bunga dan menerima uang dari Kate setelahnya gadis itu pergi.


" Ternyata justru karena bunga ini aku jadi bisa berpikir tentang kami.. " ucap Kate tersenyum. Kate pun memilih pulang ke rumah karena ada yang harus dia lakukan.


Sesampainya di rumah, Kate lekas menghubungi Galen untuk mengucapkan keputusan apa yang dia buat saat ini. Dan tentunya Kate akan bertanggung jawab dengan keputusan itu. Bagaimana pun juga semuanya harus jelas, tentang dia dan Gaffi, tentang hubungan mereka. Agar tidak akan ada lagi yang tersakiti.


Beruntung di panggilan pertama langsung diterima oleh Galen. Kate mengucapkan semua yang seharusnya dia ucapkan, dan dia mengatakan bahwa itu adalah keyakinan dirinya untuk menjalani seperti apa pilihannya.


" Iya,, kak.. Maaf aku sempat bimbang untuk beberapa saat.. Tapi kini aku sudah yakin. " sahut Kate.


" Baik kalau begitu.. Semoga semuanya lancar, Gaffi pasti bisa menerima ini semua.. Lakukanlah apa yang menurut mu benar Kate. Ini hidup mu, kau yang berkuasa atas apapun pilihan hidup mu.. " sambungan telepon pun tertutup.


Ucapan Galen semakin membuat Kate mantap dengan pilihannya. Meski akan sedih dan kehilangan diawal, tapi Kate yakin semuanya akan menuju ke akhir yang bahagia. Suatu hubungan tidak bisa dipaksakan untuk baik-baik saja ketika memang tidak baik. Karir juga bukan suatu hal yang harus dikejar hingga melupakan apa yang menurutnya berharga. Jadi Kate mantap dengan pilihannya, terluka adalah teman dalam hidup manusia. Pernah terluka sekali, sehingga jika terluka lagi, rasanya tidak akan sesakit saat pertama kali.


************

__ADS_1


Galen bisa bernafas lega sekarang ketika Kate sudah memberikan keputusan. Entah itu nantinya bisa diterima Gaffi atau tidak, setidaknya adiknya itu tidak akan digantung kondisi dan situasinya. Semoga saja setelah ini badai dalam rumah tangga Gaffi akan selesai. Mau dilanjut atau tidak, itu adalah hal yang tidak bisa Galen campuri.


" Siapa yang menelepon mu? Luce? " tanya Gaffi. Kebetulan Galen dan Gaffi ada di ruang yang sama. Gaffi sudah keluar dari rumah sakit kemarin, dan dia sekarang sedang ditemani Galen.


Sesuai dengan keputusan dari tuan besar de Niels yang disini adalah daddy Joaquin, Gaffi dilarang sendirian dimana pun dia berada. Jika asistennya tidak bisa menemani, maka salah satu dari anggota keluarga akan menemani Gaffi. Daddy Joaquin tidak ingin kecolongan lagi dan berakhir kehilangan salah satu dari anaknya. Geya saja sudah meninggalkan dirinya karena masalah yang tidak kalah peluk dengan Gaffi, jangan sampai Gaffi pun melakukan hal yang sama.


" Kenapa? Penasaran atau penasaran banget.. " canda Galen yang akhir-akhir ini senang bercanda dengan Gaffi. Seperti ketika mereka masih kecil dulu.


" Cih... Aku tidak suka ikut campur kisah Lovey Dovey kalian.. " ucap Gaffi setengah mengejek.


" Yang Lovey Dovey juga siapa? Kami tidak berada di dalam sebuah hubungan seperti itu.. Menerima ku yang duda ini, siapa wanita yang bersedia.. " ujar Galen menampik ucapan Gaffi. Ini Galen jujur lho, karena dia tidak memiliki hubungan lebih dengan Lucena.


" Huft... Diantara kami kau yang menikah dulu dan menyandang status duda terlebih dahulu.. Sekarang aku yang hampir duda dua kali, Geya juga menikahi seorang duda.. Apakah kita berlima akan berputar-putar dengan lingkaran seperti itu ya? " ucap Gaffi random.


" Ck.. Jangan berpikiran aneh-aneh kau.. Memangnya kenapa dengan hidup kita, itu menyenangkan tahu.. Aku senang pernah menikah walaupun pernikahan ku tidak seperti orang pada umumnya.. " ucap Galen bangga karena pernah menikah.


" Heleh.. Duda tapi perjaka juga buat apa.. " cibir Gaffi yang sepertinya lebih pengalaman untuk itu.


Keduanya tertawa bersama, biarlah Gaffi tertawa sepuasnya dulu sebelum nantinya Galen akan memberitahukan tentang keputusan Kate. Galen berharap, hiburan darinya ini bisa mengalihkan luka yang akan Galen sampaikan padanya nanti.

__ADS_1


__ADS_2