
Patah semangat tanpa keinginan untuk menyerah, adalah modal yang harus dimiliki oleh Gaffi jika harus berhadapan dengan saudara tertuanya. Dan inilah yang selama satu bulan ini dia usahakan tetap dia tanamkan dalam hati dan jiwanya.
Satu bulan berlalu dari menghilangnya Kate lantaran disembunyikan oleh Galen. Dan selama itu pula Gaffi terus berjuang untuk merayu Galen agar lekas memberitahunya keberadaan sang istri. Entah mengapa Gaffi seperti merasa bahwa sebentar lagi istrinya agar pergi sangat jauh dari Milan. Karena hal itu dia harus bisa bertemu, walau hanya sebentar tapi Gaffi ingin Kate tahu bahwa dia telah menyesal.
Gaffi memasuki ruangan kantor Galen begitu saja tanpa permisi. Sekretaris pribadi Galen juga sudah hafal kepentingan apa yang dilakukan saudara dari bosnya ini di kantor. Semua orang yang bekerja di JN Group hampir setiap dua hari sekali melihat Gaffi datang berkunjung.
" Ck... Apa pekerjaan mu di rumah sakit begitu senggang? Hampir setiap hari kau kemari... " protes Galen mengalihkan pandangannya dari laptop ke pria yang duduk di sofa tanpa permisi.
" Aku sibuk... Tapi aku akan selalu meluangkan waktu untuk mengunjungi mu, menganggu mu agar kau mengatakan keberadaan istri ku.. " ucap Gaffi acuh.
" Dan jawabannya tidak akan aku beri tahu... " sembur Galen.
" Berarti aku akan terus menganggu mu sampai waktu yang tidak bisa kita ketahui... "
" Terserah... "
Galen kembali mengerjakan pekerjaan tanpa sedikit pun peduli dengan keberadaan Gaffi di ruangannya. Gaffi sendiri hanya duduk bermain ponsel miliknya sama sekali tidak peduli jika kehadirannya sama sekali tidak dianggap oleh Galen. Lama kelamaan juga Galen akan risih dan akhirnya mengatakan keberadaan Kate.
Berjam-jam sudah Gaffi berada di ruangan Galen, hanya diam sama sekali tidak bersuara namun tetap saja membuat Galen kesal setengah mati karena seperti merasa sedang ada yang memperhatikannya. Galen melihat jam tangan mewahnya dan menyadari bahwa sekarang sudah waktunya untuk makan siang.
Meski merasa risih dengan kehadiran Gaffi, tapi bagaimana pun juga Gaffi tetap saudaranya. Galen pun menawari Gaffi untuk pergi makan siang bersama. Gaffi menyetujui hal itu karena semenjak pagi tadi dia belum sekalipun memasukan makanan ke dalam mulutnya.
__ADS_1
" Kau tidak ada niat menjenguk Carmel? " tanya Galen ketika mereka sudah duduk berhadapan di restoran yang sekretaris Galen sudah pesan tadi.
" Mommy belum ingin bertemu dengan ku, itu artinya juga aku belum bisa bertemu dengan Carmel. Aku sebenarnya merindukannya tapi pegi merindukan Bells dan Kate... " jawab Gaffi sambil kedua matanya melihat buku menu.
" Kau tidak rindu Emily? " Galen menggoda.
" Sudah bertemu beberapa hari lalu... " Gaffi menanggapi santai.
" Hei kau... Beraninya kau menemuinya lagi!! " Galen menunjuk wajah Gaffi dengan kesal.
" Dia datang untuk berpamitan.. Aku juga tidak tahu dia mencariku sampai ke rumah sakit. Jadi aku menemuinya secara tidak sengaja... "
" Oh ya... Dia bilang kau memberinya uang yang sangat banyak. Terima kasih untuk itu.. " ujar Gaffi
" Kenapa bisa masuk hutang ku pada mu? Kau tahu sendiri aku ini sudah jadi miskin karena semua fasilitas ku disita daddy. Sekarang kau meminta ku untuk berhutang? Tidak bisa... " dengan keras Gaffi menolak. Dia memang belum miskin sekali, hanya saja penghasilannya sekarang ini hanya berasal dari kerjanya sebagai dokter dan beberapa saham kecil pribadi miliknya.
Mendengar ucapan Gaffi, sontak membuat Galen terpingkal. Miskin katanya? padahal gaji Gaffi sebagai dokter itu sudah yang paling tinggi diantara dokter lainnya di JN CS Hospitals. Ini semua karena pencapaian Gaffi yang adalah dokter spesialis bedah saraf otak yang sudah memiliki banyak j terbang.
Galen sesungguhnya tidak benar-benar memasukan pengeluaran nya untuk Emily pada Gaffi. Murni dia hanya bercanda, karena dia yang meminta Emily pergi maka dia yang harus menggantikan tanggung jawab Gaffi pada Emily. Karena Gaffi sendiri sudah membuat janji dengan Emily akan menghidupi anak itu dan kakeknya sampai dimana Emily bisa mandiri menghidupi kakeknya.
Ketika hidangan yang keduanya pesan sudah tiba, Gaffi masih terus mengerucutkan bibirnya lantaran memiliki hutang yang tidak sedikit pada Galen. Gaffi takut jika Galen memanfaatkan hutang tersebut untuk menekannya agar tidak bisa bertemu lagi dengan Kate. Mimpi buruk Gaffi tidak boleh terjadi, dimana dia tidak ingin hidup dalam kesendirian tanpa ada seorang pun yang menemaninya.
__ADS_1
" Len, aku merasa bahwa Kate sebentar lagi akan pergi jauh sekali dari sini.. Apa itu benar? " tanya Gaffi ragu.
" Dia butuh berobat Gaf... Kau tahu bagaimana kondisi mentalnya? Pasti kau tidak tahu detail penyakit mental yang diderita Kate kan... "
" Kondisi mental Kate saat ini jauh lebih parah dibanding sebelum dia bertemu dengan Bells. Kate bahkan memiliki dua kepribadian yang sangat berlawanan. Alasannya karena dengan kepribadian yang dia ciptakan, dia berani untuk mengatakan tidak pada mu... Kau pasti pernah merasakan dirinya bukan Kate yang kau kenal kan? "
Gaffi terkejut, tidak menyangka bahwa penyakit mental Kate sudah ditahapan itu. Kemudian Gaffi secara tiba-tiba mengingat beberapa kali Kate bahkan berani membantahnya dan melakukan hal-hal yang tidak biasa Kate sendiri lakukan. Gaffi berpikir bahwa disaat itulah Kate telah menjadi pribadi lain dalam dirinya untuk menghadapinya.
Galen tersenyum saat melihat saudaranya seperti membenarkan ucapannya. Hanya saja mungkin selama ini Gaffi tidak tahu bahwa itu bukanlah Kate, melainkan Late. Kepribadian lain yang diciptakan Kate sendiri saat dirinya menghadapi suatu peristiwa yang menakutkan baginya.
Pertemuan dengan Galen tadi sedikit membuka isi hati dan pikiran Gaffi tentang kepergian Kate. Jikalau memang maksud Kate pergi adalah untuk berobat, Gaffi pasti akan mengerti dengan syarat suatu hari nanti, ketika Kate sudah sembuh, mereka akan kembali bersama.
Namun semua itu sepertinya hanya keinginan Gaffi sendiri, karena nyatanya apa yang kini ada dihadapannya merupakan wujud dari keinginan Kate. Tidak akan pernah Gaffi sangka bahwa akan ada dimana dirinya mengalami hal semacam ini. Dia sungguh tidak menginginkan semua ini terjadi, Gaffi hanya ingin memulainya dari awal, saling memaafkan, saling menerima dan saling membangun perasaan keduanya.
Gaffi menghela nafas lelah, segera menghubungi nomor ponsel seseorang yang dipercaya bisa menyelesaikan masalah ini.
" Dam, aku nggak mau tahu apa yang sekarang ini sedang diusahakan istri ku, gagalkan...!!! " titah Gaffi dengan Nara bicara tegas tidak mau dibantah.
" ....... "
" Aku tidak mau tahu, bahkan jika semua isi tabungan ku terkuras habis, aku hanya ingin semuanya digagalkan... Kau masih orang ku kan? "
__ADS_1
" ..... "
" Kalau begitu, buktikan ucapan mu... " Gaffi menutup teleponnya. Tangannya meraih sebuah berkas yang tergeletak di meja kerjanya, entah siapa yang mengantarkan berkas itu. Namun karena berkas itulah Gaffi langsung mengalami mood buruk.