
Kate mulai aktif di perusahaan terhitung sudah dua bulan lamanya. Selama itu pula semuanya berjalan dengan baik di Berliana Group, bahkan penjualan naik drastis semenjak Kate aktif di perusahaan. Hari-hari Kate semenjak mulai aktif di perusahaan berangsur membaik. Jarang bertemu Gaffi membuat pria itu tidak lagi bisa mencari-cari kesalahannya. Dan semua keperluan Gaffi pun sudah ada Emily yang mengurusinya. Biarlah Kate dianggap istri tidak berguna, yang terpenting baginya Carmel masih dia yang mengurus.
Jika ditanya masihkah Kate mencintai Gaffi, jawabannya tentu saja masih. Dibilang bodoh pun Kate Terima, karena memang dirinya begitu bodoh. Ketika Gaffi memaki dirinya bahkan Kate sama sekali tidak marah, meskipun hatinya sakit. Kate mulai terbiasa dengan semua kehidupannya yang sekarang, termasuk kehadiran seorang pelakor di dalam rumah tangga nya.
Sore ini Kate pulang lebih awal dari perusahaan karena dia merasa sedikit lelah setelah menyiapkan acara pelelangan yang hasilnya akan dia sumbangkan kepada anak-anak yatim piatu yang membutuhkan. Kate masuk ke dalam mansion dengan menggendong Carmel. Namun bukannya hal menyenangkan yang menyambut kepulangannya, melainkan hal yang memuakkan.
Sekali lagi, dan hampir setiap hari, setiap jam Kate harus menyaksikan adegan kemesraan antara Gaffi dan Emily. Bahkan tadi Gaffi langsung mencium mesra Emily ketika melihat Kate masuk ke mansion. Kate mengabaikan itu semua dan memilih pergi ke kamarnya untuk segera membersihkan diri dan memandikan Carmel. Dengan begitu dia tidak harus terjebak dalam situasi yang baginya adalah neraka rumah tangganya.
" Nyonya.... " Diana ingin berujar tapi takut.
" Nggak apa mbak... Aku lama-lama juga akan terbiasa. Toh urusan ku dengan daddy nya Carmel hanya untuk menjadi ibu pengganti. Bukan istri pengganti kan? " ucap Kate tahu maksud pengasuh putrinya itu.
" Huft... Aku salut sekali sama nyonya.. Anda benar-benar wanita luar biasa tangguh.. " Diana mengacungkan dua jempol untuk Kate.
" Kamu bisa aja mbak.. Saya masih kalah kalau dibandingin sama ibu mertua saya. Anaknya lima tapi bisa menjadikan anak-anak nya orang-orang yang luar biasa... " dalam benak Kate, yang jelas semua saudara iparnya yang dimaksud, bukan suaminya.
" Mbak... Suatu hari nanti... Jika suatu hari nanti,, saya nggak lagi bisa merawat Carmel.. Bisa mbak janjikan satu hal sama saya, bahwa jangan sampai ada wanita itu yang merawat Carmel.. Bisa mbak janjikan hal ini sama saya? " tanya Kate.
Diana cukup terkejut mendengar ucapan nyonyanya ini. Seperti sebuah pertanda bahwa nyonyanya akan pergi meninggalkan semua yang ada di mansion ini terutama Carmel. " Saya akan membawa nona Carmel ke mansion utama nyonya, jika anda tidak lagi berada disini. Setidaknya di sana ada tuan muda dan nona muda yang bisa ikut menjaga. Ada juga tuan dan nyonya besar. Anda jangan khawatir."
__ADS_1
" Terima kasih mbak.. Kalau gitu aku bersih-bersih dulu ya... " pamit Kate.
Kate pun kembali ke kamar utama untuk membersihkan dirinya baru nanti dia ke kamar Carmel lagi untuk bermain dengan putri kecilnya. Namun Kate benar-benar terkejut saat melihat Gaffi ada di kamar utama. Sesuatu yang tidak pernah terjadi dua bulan belakangan ini karena Gaffi selalu tidur di kamar selingkuhannya.
Kate pun mengabaikan, merasa tidak ada hal penting yang dibicarakan. Kate masuk ke kamar mandi tanpa menyapa suaminya sedikit saja. Hal ini membuat Gaffi meradang. Tadi pun dibawah Kate sama sekali tidak menyapanya, padahal kemarin istri sahnya ini masih menyapanya ketika pulang kerja.
" Apa karena kamu tidak pernah lagi merasakan hukuman dari ku, jadi kamu mengabaikan ku... Perlukah kamu ku hukum lagi? " batin Gaffi menyeringai.
Lama Kate dikamar mandi, baru sekitar empat puluh lima menit Kate keluar. Dia berendam dengan air panas dulu tadi dengan aroma therapy rose favoritenya untuk merilekskan otot-ototnya yang tegang selama bekerja tadi.
Kate keluar hanya menggunakan handuk kecil yang bahkan tidak menutupi bagian pahanya dengan sempurna. Payudara milik Kate yang terlihat besar dan kencang pun sampai menyembul keluar dari handuk. Kate tadi lupa membawa pakaian gantinya karena Gaffi berada di kamar dan dia ingin menghindarinya.
Kate pun ikut terkejut melihat Gaffi masih di dalam kamar, lebih terkejut lagi melihat bagaimana Gaffi melihatnya dengan tatapan mesum yang ingin langsung memakan Kate itu. Kate pun berlari masuk ke walk in closet secepat yang dia bisa, namun tangan Gaffi lebih cepat meraihnya. Gaffi membanting Kate ke tempat tidur berniat ingin meminta haknya pada sang istri.
" Lepas mas... Aku masih harus menemani Carmel... " Kate meronta dan sibuk tangannya menutupi buah dadanya yang terlihat karena handuk tadi terlepas ketika Gaffi membantingnya ke ranjang.
" Temani aku malam ini,,, Carmel sudah ada pengasuhnya... " ucap Gaffi dengan suara serak menandakan bahwa Gaffi tengah dalam kendali penuh nafsunya.
" Minta saja temani selingkuhan mu yang seksi itu. Aku tidak sudi kau gagahi, bagi ku kau itu murahan... Memberikan apa yang kau milik kepada wanita lain.. Pergi... aku tidak sudi kau sentuh... "
__ADS_1
PLAK
" Diam kau... Murahan teriak murahan begitu maksud mu... HAH... " Gaffi langsung menyambar mulut Kate dan melakukannya dengan sangat kasar.
Kate masih memberontak, namun dia kalah tenaga dari Gaffi. Malam itu akhirnya Gaffi melakukannya lagi dengan sang istri. Dengan kasar, tidak ada kelembutan sedikit pun ketika Gaffi menyentuh sang istri. Kate terus menangis karena rasa sakit yang Gaffi akibatkan dari berhubungan kasar ini.
Meski Kate menangis, Gaffi seolah tidak peduli sama sekali. Gaffi tetap menggerakkan pinggulnya mencari pelepasan yang luar biasa karena milik sang istri begitu nikmat dimasuki olehnya.
" Sial... Kenapa milik mu jauh lebih nikmat dari milik Emily! " ucap Gaffi terang-terangan di depan Kate.
Kate terpaku mendengarnya, dibandingkan dengan wanita pelakor itu tentunya melukai harga dirinya. Kate yang awalnya menangis sekarang hanya diam saja dengan tatapan kosong. Harapannya hanya satu, Gaffi lekas menyelesaikan semuanya secepat mungkin.
Tapi harapan tinggalah harapan, Gaffi semalaman penuh melakukan lagi dan lagi. Tidak terhitung berapa kali Gaffi mengeluarkan spe****nya dalam rahim Kate. Kate pun juga tidak lagi mau menghitung berapa kali dia mendapatkan pelepasannya. Yang jelas semua itu tidak membuatnya terbang ke atar awan.
" Aaaarggghhhh.... Kau begitu nikmat Kate... " teriak Gaffi ketika dia mendapatkan pelepasan terakhirnya sebelum dia mengakhiri percintaan mereka malam ini.
Kate menangis, dia memunggungi Gaffi yang tidak lagi kembali ke kamar selingkuhan nya. Hal pertama yang Gaffi lakukan yaitu tidur satu ranjang dengan Kate. Jika dulu, Kate akan bahagia ketika Gaffi mau satu ranjang dengannya. Tapi semenjak Gaffi bersama Emily, yang dirasakan Kate hanya jijik pada suaminya itu. Sama halnya seperti sekarang ini, Kate begitu jijik dengan tubuhnya sendiri...
" Ini Yang kau inginkan kan? Sekarang kau mendapatkannya.... " ucap seseorang dalam pikiran Kate.
__ADS_1
" Aku tidak menyukainya.... Aku jijik.... aku benci.... "