
Pletak...
Daddy Joaquin memukul kepala dari putra ketiganya itu. Putranya yang paling gemar sekali membuat kehebohan dan masalah sejak masih kecil. Lihat sekarang ini, semua yang dialaminya adalah buah dari ulahnya sendiri. Seandainya dia tidak mencari gara-gara dengan istrinya, sampai memanggil wanita lain untuk menjadi simpanannya, hal yang terjadi padanya kini sangat bisa dicegah.
" Aaaargg.. Sakit dad.. Kenapa aku dipukul? " protes Gaffi memegang dahinya yang kena pukul sang daddy.
" Diam.. Selama ini aku selalu membiarkan mommy mu yang turun tangan menghukum mu.. Tapi sekarang ini sungguh tangan ku gatal ingin memukuli mu, dasar anak nakal... " tangan daddy Joaquin sudah terangkat ke arah Gaffi.
" Ampun dad.. Ini masih di rumah sakit, apa kata karyawan kita kalah melihat daddy memukul ku.. " Gaffi segera berlari berlindung di belakang Galen yang berwajah datar saja sejak tadi.
" Peduli kau pada citra mu di sini? Lalu kenapa kau marah-marah di ruang ICU jika kau peduli dengan citra mu.. Seluruh karyawan di rumah sakit ini bahkan sudah tahu tentang masalah ini dan kau masih peduli dengan citra mu.. " sentak daddy Joaquin mendorong tubuh Galen menyingkir dari depan Gaffi. Tentu saja Galen masih berwajah datar kali ini.
" Maaf dad.. Aku panik tadi.. " Gaffi masih berusaha kabur dari amukan daddynya.., " Sial.. Seharusnya aku tidak kemari tadi... " batin Gaffi merutuki kebodohannya.
" Gaffi kemari kau... Daddy lelah mengejar mu.. " daddy Joaquin sudah kembali terduduk di sofa karena lelah berputar-putar mengejar putranya yang nakal itu.
" Makanya diam saja duduk di sana daddy, tidak perlu marah-marah. Daddy sudah berumur, jadi jangan gampang marah... " Gaffi langsung mendapatkan pelototan dari daddy Joaquin dan juga Galen.
Gaffi pun akhirnya memilih duduk, rupanya dia juga baru sadar jika Emily sudah bangun dan menyaksikan kejadian konyol yang dia pertontonkan tadi. Jelas saja Gaffi malu, tapi dia pura-pura saja tidak peduli dengan itu semua. Biarlah, toh dia juga tidak akan bertemu Emily lagi setelah ini..
__ADS_1
" Emily,, boleh aku nanya sesuatu nggak? " tanya Gaffi.. Di dalam ruangan ini, hanya dia yang belum tahu tentang masalah yang terjadi pada Emily.
" Boleh kak silahkan saja.. " Emily tersenyum manis.
" Suami mu itu siapa? Can tadi kau bilang? " tanya Gaffi sedikit penasaran.
" Can asisten pribadi dari tuan Damacus, rekan kerja keluarga kita.. " Galen yang menjawab. Mendengar itu Gaffi benar-benar terkejut bukan main. Ternyata selain Galen tahu, suami Emily bukanlah orang biasa.
" Trus dia dimana sekarang? Dan kenapa kamu dalam kondisi hamil malah berkendara sendiri? " tanya Gaffi lagi.
" Suami ku sedang melakukan perjalanan bisnis kak. Dan aku bukan berkendara sendiri, tapi aku naik taksi tadi. Dan kebetulan taksi yang aku tumpangi berada di jalur yang sama dengan truk itu kalau aku tidak salah ingat. " terang Emily, " Sebentar lagi juga suami ku akan tiba di sini.. " tambah Emily.
" Oh ya,, apa dokter kandungan sudah mengatakan tentang anak kamu? " tanya Gaffi sebelum benar-benar pergi dari ruangan rawat inap Emily.
" Sudah kak, anak aku laki-laki, dan mungkin butuh beberapa waktu untuk di inkubator karena lahir prematur. Untuk nama, aku akan menunggu suami ku datang kak.. " jawab Emily yakin. Gaffi pun benar-benar pamit dari ruangan Emily diikuti daddy Joaquin dan Galen di belakangnya.
Masalah selesai, Gaffi bersyukur ketakutannya tidak menjadi kenyataan. Dia rasanya sudah hampir gila karena tidak bisa lagi berpikir jalan keluar yang terbaik andai saja benar anak Emily itu adalah anaknya. Gaffi kini benar-benar bisa bernafas lega karena semuanya berakhir dengan penjelasan yang memuaskan dari Emily.
Merasa ada yang aneh, Gaffi pun berbalik menghentikan langkah Galen dan daddy Joaquin. Ada beberapa hal yang harus dia tanyakan dan luruskan. Mata Gaffi memicing seperti mencurigai kedua orang ini, akhirnya dia pun memberanikan diri bertanya.
__ADS_1
" Sejak awal apa kau tahu tentang kehamilan Emily dan siapa yang menghamilinya?" tanya Gaffi ditujukan pada Galen. Dan begitu menyebalkan sekali Galen langsung mengangguk tanpa banyak berpikir lagi.
" Serius kau sudah tahu dari awal?" Galen kembali mengangguk, " Sialan kau.. Lalu kenapa kau marah-marah pada ku tadi HAH?" Gaffi langsung maju tepat di depan wajah Galen, matanya melotot horor ke arah saudara kembarnya ini.
" lalu siapa yang dengan bodohnya menunggu Emily tersadar untuk bertanya ayah dari anaknya.. Memangnya ketika kau bercinta dengannya kau tidak pakai pengaman?" tanya Galen vulgar sekali.
" Je...je..jelas pakai lah..." Gaffi tersipu malu saudaranya ini bertanya tanpa filter sama sakali.
" Jika pakai kenapa kau ketakutan seperti itu? Dasar bodoh..." setelah mengatakan hal itu Galen dan daddy Joaqiun meninggalkan Gaffi yang meruntuki kebodohannya sendiri karena tidak percaya pada dirinya sendiri.
" AAARRRRRGGGGG... Kenapa seharian ini semua orang membuat ku kesal...?" Gaffi marah dan menjambak rambutnya frustasi.
Bayangkan saja seberapa besar masalah yang dia perbuat dalam satu hari ini. Semua karyawan rumah sakit jadi tahu tentang perselingkuhannya dulu, lalu Galen membuatnya kesal, Emily juga membuatnya kesal., dan lebih parah dari itu semua, ternyata selama berselingkuh dengan Emily, wanita itu juga menduakan nya bahkan sampai memiliki anak segala. Bukankah sangat lengkap sekali penderitaan Gaffi dan kekesalannya.
Galen dan daddy Joaquin tidak langsung pulang melainkan mengumpulkan petinggi di rumah sakit milik keluarga de Niels ini. Tujuannya tentu saja untuk membungkam mulut semua karyawan agar apa yang mereka dengar dan lihat hari ini tidak akan bocor sampai keluar. Dan diharapkan semuanya tidak lagi membahas masalah ini, karena jika ketahuan akan ada sangsi untuk hal tersebut.
Sungguh Gaffi yang dijuluki pembuat onar sejak kecil sangatlah sesuai dengan dirinya bahkan sampai sudah besar dan memiliki seorang putri. Apa jadinya Gaffi tanpa keluarganya yang selalu mendukungnya meski dia pernah berbuat salah asalkan Gaffi menyadari dan menginginkan dirinya berubah.
Tidak ada orang tua yang bisa membenci anaknya meski anak itu bahkan mencoreng namanya sendiri. Karena bagi orang tua, anak adalah segalanya. Mereka tidak akan disebut orang tua jika tidak memiliki anak.
__ADS_1