MENGEJAR MAAF SANG ISTRI

MENGEJAR MAAF SANG ISTRI
Menjadi lebih kuat


__ADS_3

Emily dan juga baby sitter Carmel begitu panik melihat Kate pingsan. Badan Kate juga sangat dingin, sesuatu yang aneh. Dan itu membuat Emily takut jika hal buruk terjadi pada Kate maka dia akan disalahkan. Emily pun langsung lari ke kamar milik Gaffi untuk memberitahukan Gaffi tentang kondisi Kate.


" Kak.... Kak Kate pingsan dan badannya sangat dingin. Aku takut kak terjadi hal buruk pada..... "


" Dia sudah biasa seperti itu.. Nanti juga akan bangun sendiri. Kau jangan panik.. " Gaffi langsung memotong ucapan Emily. Dirinya baru saja selesai membersihkan diri, tapi sudah dikejutkan oleh kehadiran Emily.


" Kemarilah!!! " pinta Gaffi.


" Tapi Kak Kate.... " Gaffi langsung menarik tubuh Emily kedalam pelukannya.


" Aku merindukan tubuh mu... Layani aku Emily... " Gaffi menjilati leher Emily bahkan menggigitnya.


" Aah... Kak.... Hentikan.... Kak Kate.... " Emily merasakan ada sebuah energi panas merasuki tubuhnya. Membuat nafasnya naik turun menahan panas hasrat itu.


" Layani aku Emily.... Tunjukan pada ku kebolehan mu di ranjang. Kita belum mencobanya disini... "


Dan.... Keduanya memulai percintaan mereka tanpa lagi peduli pada Kate. Beruntung bibi Pamela naik untuk melihat Kate, kalau saja tidak mungkin harus menunggu sampai Kate bangun sendiri baru bisa di baringkan ke tempat tidur.


Bibi Pamela menghela nafas kesal, tadi saat sebelum masuk ke kamar khusus Carmel ini, dia melewati kamar Gaffi dan mendengar suara laknat bersautan di dalam kamar itu. Kebetulan pintu kamar tidak ditutup rapat oleh Emily saat masuk tadi. Sehingga suara perpaduan Gaffi dan Emily terdengar sampai keluar.


" Kenapa bukannya semakin membaik,, rumah tangga tuan muda ketiga semakin mengarah ke kehancuran. Apakah dendam tuan muda benar-benar membutakannya hingga tidak bisa melihat berlian indah di depannya ini... " monolog bibi Pamela dalam hati. Dia sangat menyayangkan perilaku Gaffi yang tidak seperti Gaffi yang dulu.


" Bibi... " panggil baby sitter Carmel.


" Kenapa bibi tidak melaporkan hal ini pada tuan dan nyonya besar? " tanya baby sitter Carmel.

__ADS_1


" Aku tidak berani. Aku takut tuan muda ketiga akan melampiaskan amarahnya pada nyonya muda. Bagaimana pun juga saat ini tuan muda itu nekat... " ucap bibi Pamela.


" Kasian nyonya muda, bi. Kalau aku jadi beliau mungkin aku sudah tidak sanggup lagi tinggal di rumah yang seperti neraka ini. Untuk apa tinggal di rumah yang mewah namun hanya menghadirkan luka saja..... " baby sitter Carmel bicara.


Bibi Pamela membenarkan apa yang pengasih nona mudanya katakan itu. Tapi mereka berdua juga tahu bahwa dulunya mansion mewah ini selalu dihiasi tawa dan canda dari pemiliknya. Bahkan tak jarang para maid dan pengasuh Carmel ini melihat kemesraan dari Gaffi dan Bellvania.


Hal yang terjadi saat ini adalah kebalikan dari peristiwa yang masih lekat diingatan maid yang bekerja di mansion Gaffi ini setahun lalu. Kebahagiaan itu telah berganti kesengsaraan bagi seorang wanita yang tanpa sengaja masuk ke dalam lingkaran balas dendam Gaffi. Semua maid begitu menyayangkan perbuatan Gaffi, mereka tidak menyangka saia bahwa tuan mereka bisa berbuat jahat seperti itu.


Malam hatinya di meja makan, Kate terus memperhatikan sesuatu yang begitu menyayat hatinya. Sebuah tanda kemerahan yang sudah hampir berwarna keunguan, berada di leher putih milik Emily. Karena kulit Emily yang sangat putih seperti susu, meski Gaffi memberikannya tipis sekali pun akan tetap telihat oleh mata yang memandang.


Kate meremas ujung dress yang dia kenakan. Merasa marah, kecewa dan sedih secara bersamaan. Ketika tadi dia tersadar dari pingsan nya setelah dua jam lebih, yang dia lihat pertama kalo justru Gaffi dan Emily yang keluar dari kamar utama dengan rambut mereka yang masih basah. Dan sekarang ini dia justru melihat tanda bekas percintaan suaminya sendiri.


" Kau tahu apa itu luka yang begitu sakit tapi tidak bisa berdarah Emily? " sarkas Kate. Emily langsung tertunduk merasa tidak enak dengan ucapan Kate.


" Kenapa kau membahas hal seperti itu di meja makan? Kau ingin nafsu makan ku hilang? " hardik Gaffi.


Degh...


Gaffi langsung melihat ke wajah Kate, dia tidak menyangka Kate berani membahas ucapannya. Apalagi sekarang ini di wajah Kate sama sekali tidak terlihat takut pada Gaffi sedikit pun. Biasanya memandang Gaffi saja dia tidak berani, lalu apa ini...


" Kau berani melawan ucapan ku? " hardik Gaffi langsung berdiri.


" Melawan bagaimana maksud mu, mas. Aku hanya meminta pendapat mu tentang bahasan yang harus kita bahas di meja makan... " ucap Kate santai. Tangannya dengan lihat memotong steak yang ada di depannya.


BRAK....

__ADS_1


Gaffi memukul meja, " Aku sudah tidak nafsu makan lagi... " Gaffi hendak pergi sebelum suara Kate menginterupsi.


" Mulai besok aku akan aktif di perusahaan milik papa ku. Urusan rumah, biar simpanan mu ini yang mengurusnya... " ucap Kate tanpa melihat Gaffi di depannya.


Malas menanggapi ucapan Kate, Gaffi pun langsung pergi dari ruang makan menuju ke ruang kerjanya. Emily merasakan tidak nyaman berada satu ruangan dengan Kate yang seperti ini. Rasanya dia seperti tengah menghadap hakim dalam persidangan.


" Antarkan makanan untuk suami ku.... Dia pasti senang jika gundiknya yang mengantarkan makanan untuknya... " Kate langsung meninggalkan ruang makan dan langsung menggendong Carmel yang sudah tertidur pulas di stroller.


" Ini nona,,, anda bisa antarkan makanan ini pada tuan muda di ruang kerjanya... " bibi Pamela meletakan pinggan yang berisikan sepiring nasi beserta minumnya.


" Tapi bi,,, kenapa harus saya? Kenapa bukan Kak Kate saja? " Emily ingin menolak karena takut melihat bagaimana Gaffi tadi marah. Dia takut terkena pelampiasan emosi Gaffi.


" Tuan akan semakin marah jika nyonya muda yang mengantarkan makanan ini. Jadi, tolong antarkan ini untuk tuan muda, ya... " bibi Pamela ikut berlalu dari ruang ini menyisakan Emily seorang diri.


" Huft.... Apa yang harus aku lakukan jika Kak Gaffi marah? " gumam Emily bingung.


Di kamar utama, Kate meminta lima maid untuk membersihkan kamar itu dari sisa-sisa percintaan Gaffi dan Emily tadi. Bahkan Kate memerintahkan maid untuk mengepel lantai kamar itu menyeluruh dan tidak ingin ada sudut satu puji terlewatkan..


Kate terduduk di depan cermin menyisir rambutnya dan melakukan sedikit perawatan wajah sebelum dia tidur. Matanya menatap ke arah kaca dengan menyunggingkan seringai tipis di bibirnya yang tidak akan bisa di lihat oleh siapa pun.


" Seharusnya kau bisa melawan seperti diri ku ini. Dengan begitu suami mu ini tidak akan berani menginjak-injak harga diri kita.... Kau terlalu lembut... " ujar Kate.


" Kenapa kau keluar, dan apa yang kau lakukan tadi. Jika seperti ini maka aku yang akan menerima kemurkaannya... "


" Karena itu kau seharusnya bisa melawan suami mu itu. Lihat cara ku tadi... Dan praktekan, jika dia masih menganiaya mu maka aku yang akan maju untuk menghadapinya.... "

__ADS_1


Degh...


" Jangan... Jangan kau apa-apa kan dia.... " Kate langsung panik dan mengangetkan semua maid yang membersihkan kamarnya.


__ADS_2