
Pernah mengalami peristiwa dimana istrinya mengalami sakit yang parah sehingga menyisakan trauma tersendiri, membuat Joaquin de Niels membangun sebuah rumah sakit bertaraf internasional di kota MIlan, Italia. Dengan begini, ketika anggota keluarganya sakit, maka akan langsung mendapatkan penanganan yang terbaik dari dokter-dokter yang berkerja di rumah sakit ini.
Cita-cita Gaffi sejak kecil adalah menjadi seorang dokter. Empat tahun tanpa hadirnya sosok mommy yang koma karena melahirkannya dan keempat saudara kembarnya, membuat Gaffi bertekad menjadi seorang dokter untuk bisa menyelamatkan keluarganya terutama sang mommy.
Gaffi menjadi dokter spesialis bedah saraf otak dengan presentase keberhasilan dan kesembuhan pasiennya diatas angka 80 %. Gaffi mendapatkan julukan tangan dewa karena hampir semua pasien yang pernah ditanganinya selalu sembuh dari sakitnya.
Setelah jabatannya sebagi presdir di JN CS Hospital, Gaffi kembali menjalani hari-harinya sebagai dokter biasa. Membuka praktek, kemudian kerja shift malam, dan juga harus standby jika tiba-tiba ada pasien darurat yang butuh penangananya. Meski begitu Gaffi ternyata lebih nyaman dengan kehidupan seperti ini. Dimana niat awalnya menjadi seorang dokter benar-benar terealisasikan
Jam sembilan pagi Gaffi sampai di rumah sakit, dan langsung menuju ke tempat prakteknya yang ada di gedung B. Gaffi menyapa beberapa tenaga medis yang berpapasan dengannya. Tidak ada lagi perbedaan antara dirinya dan anggota tenaga medis di rumah sakit ini membuat Gaffi lebih nyaman bercengkrama dengan staff lainnya. Sekarang Gaffi memiliki banyak teman sesama dokter maupun suster.
" Morning, sus... Apa pasien saya pagi ini banyak?" sapa Gaffi pada suster Carol yang menjadi asistennya sekarang.
" Morning juga pak dokter... Banyak kok pasien dokter pagi ini. Ramai seperti biasanya bahkan hari ini bertambah beberapa pasien lagi dok..." lapor suster Carol.
" Sepertinya hari ini aku nggak bisa santi ya sus... Sepuluh menit lagi, kasih tahu pasien antrean pertama untuk masuk ya.." ucap Gaffi. Suster Carol membentuk tanda OK dengan tangan dan jarinya.
Gaffi tersenyum, kemudian masuk ke dalam ruangan prakteknya. Gaffi menghela nafas ketika melihat tumpukan berkas milik pasien yang hari ini akan diperiksanya. Setelah melakukan prakteknya pagi ini, dia nantinya akan berkeliling ke kamar-kamar dimana pasien yang dia tangani berada. Rutinitas setiap hari yang selama dua minggu ini menjadi pelipur laranya karena belum menemukan keberadaan sang istri.
" Semangat Gaf,, demi mendapatkan penilaian baik dari Galen. Dengan begitu aku bisa segera bertemu dengan Kate. " ujar Gaffi menyemangati dirinya.
__ADS_1
Seseorang akan terasa begitu berharga ketika kita sudah kehilangan orang tersebut. Kata-kata inilah yang pantas diucapkan untuk Gaffi. Dirinya justru menyadari pentingnya sang istri dalam hidupnya ketika Kate telah meninggalkannya. Cintakah? Gaffi tidak bia begitu saja menyimpulkan, tapi dia merasa sangat kehilangan tanpa Kate di sisinya.
Total semua pasien yang diperiksa Gaffi ada enam belas orang. Dari jam sembilan lebih sepuluh menit, hingga hampir mendekati jam makan siang barulah pasien Gaffi habis. Rasanya lumayan lelah, tapi melihat bagaimana orang-orang berjuang untuk sembuh, membuatnya berpikir bahwa dengan dia berusaha keras mendapatkan pangakuan dari Galen, maka dia akan segera bertemu dengan Kate lagi.
" Sus, sudah habiskan pasiennya... Nanti sehabis makan siang ikut saya keliling ya.." ujar Gaffi keluar dari ruangan prakteknya.
" Siap dok... Tapi ini dok, ada orang yang tadi cariin dokter. Dia nunggu dokter di sana , ujung lorong sana katanya pengan ngomong penting sama dokter Gaffi." ujar suster Carol.
" Perempuan atau laki-laki, sus?" tanya Gaffi kurang antusias.
" Perempuan dok.. Cantik lagi.." mata Gaffi langsung terbelalak. Dalam pikirannya yang mencarinya adalah Kate. Gaffi pun bergegas menuju ke tempat yang ditunjukkan oleh suster Carol tadi.
Emily tersenyum melihat Gaffi, meski dia melihat dengan jelas, dimata Gaffi ada sedikit kekecewaan ketika melihatnya. Emily pun mengajak Gaffi untuk mengobrol di tempat yang nyaman sekalian makan siang bersama. Ada beberapa hal yang harus Emily katakan, karena itu dia nekat menemui Gaffi.
" Kak, gimana kabar kakak ? Apa kakak baik-baik saja?" tanya Emily basa basi.
" Hm... Seperti yang kau lihat..." ujar Gaffi sedikit terdengar kurang sabaran.
" Maaf ya mengganggu waktu kakak sebentar karena ada beberapa hal yang harus aku sampaiin." Emely menjeda ucapannya.
__ADS_1
" Langsung aja,Ly.. Aku masih ada beberapa pekerjaan setelah ini." ujar Gaffi tidak sabaran.
" Kak,, setelah ini aku sama kakek akan pergi jauh. Tuan muda pertama memberiku banyak sekali uang, beliau bilang aku cukup harus pergi dari hidup kakak dan jangan muncul lagi... Aku bilang pada beliau bahwa aku yang sudah menyerahkan diri ku pada kakak, jadi ini sepenuhnya bukan salah kakak. " Emily berusaha tersenyum, meski dalam hatinya dia ingin sekali menangis.
" Aku sayang sama kak Gaffi, tapi karena kita ngga berjodoh jadi aku mau ucapin selamat tinggal ya kak.. Semoga setelah ini kakak akan bahagia.. " Emily maju untuk mencium pipi kanan Gaffi setelah itu langsung pergi tanpa menunggu jawaban dari Gaffi.
Gaffi melihat punggung Emily yang semakin menjauh dari pandangannya. Merasa kasian pada gadis yang telah menyerahkan hidupnya pada dirinya namun justru harus berakhir seperti ini. Sejak awal memang Gaffi sudah mengatakan bahwa dia tidak akan menjanjikan apapun pada Emily. Karena sampai kapanpun hati Gaffi masih akan tetap mencintai wanita pertama dalam hidupnya.
" Lihatlah Bells, tidak ada yang berjalan lancar dalam hidup ku setelah kepergian mu... " gumam Gaffi merasa begitu tertekan.
Gaffi menyandarkan tubuhnya ke dinding, menutup matanya memikirkan semua perjalanan hidupnya yang kini berantakan. Gaffi ingin sekali bertemu Kate dan meminta maaf atas apa yang dia lakukan pada wanita itu selama satu tahun pernikahan mereka. Namun jika seseorang yang paling kuat di keluarganya sudah ikut campur, maka bisa dipastikan bahwa Gaffi tidak akan mudah untuk bisa menemukan Kate.
Gaffi bangkit berdiri, namun seketika pandangannya menjadi gelap. Gaffi terjatuh di lorong yang sepi tidak sadarkan diri...
Di tempat lain, Kate menatap piring yang tadinya berada di meja tiba-tiba saja terjatuh tanpa disentuh. Perasaan Kate berkecamuk saat ini, merasa ada hal buruk yang terjadi pada seseorang yang masih menguasai hidup dan hatinya.
Kate lekas pergi menuju kamarnya untuk segera mengambil ponselnya yang tertinggal di sana. Kate merasa akan mendapatkan kabar dari Galen entah kabar apa itu. Ketika melihat layar ponselnya, memang terlihat ada dua pesan bergambar.
Kate menangis ketika melihat menangis melihat kedua foto bergambar itu. Hatinya perih dan sakit melihat kedua foto itu. Kate ingin pergi melihatnya namun ketika dia tahu bahwa sudah ada orang lain yang akan menjaganya.
__ADS_1