
Bellvania menatap tidak percaya apa yang baru saja dia dengar dari mulut Gaffi sendiri. Disini dialah yang dirugikan karena harus kehilangan mahkotanya. Tapi dengan santainya Gaffi berucap seperti dirinya saja yang memperkosa Gaffi. Bellvania ingin sekali mencekik pria yang ada di depannya ini tapi dia urungkan karena takut di penjara.
" Disini aku yang paling dirugikan kenapa anda berucap seolah yang kehilangan keperawanan adalah anda.. " protes Bellvania sudah berdiri berkacak pinggang.
" Huft... Dengar ya situasi yang sesungguhnya tidak seperti yang kau bayangkan. Jika pun aku tidak terkena efek obat perangsang juga tidak mungkin aku menyentuh mu.. Kau juga sudah aku katakan pergi dari hadapan ku kau malah mendekatiku dan merayu ku. Jadi disini kita sama-sama dirugikan dan juga bersalah... " terang Gaffi berucap sebenarnya.
" Obat perangsang? " beo Bellvania tidak percaya.
" Hm... Karena aku bukan tipe pria yang suka dengan bebas membiarkan wanita manapun bercinta dengan ku.. Jika kau tidak percaya mari kita cek darah ku.. " Gaffi membenarkan.
Bellvania pun tidak bisa menyanggah kata-kata Gaffi lagi karena semua yang Gaffi katakan benar adanya. Tadi saat di dalam kamar mandi, Bellvania mengingat semua kejadian semalam. Bellvania bergidik ngeri saat ingat bahwa dia memang merayu Gaffi bahkan yang pertama memulai ini semua adalah dirinya.
Bellvania malu bukan kepalang tapi karena dirinya adalah seorang wanita tentu saja dalam hal ini dia yang merugi. Mengambil kesempatan dalam kesempitan itulah dia berlagak paling teraniaya disini. Tapi naasnya Gaffi bukan tipe pria yang dengan gampang begitu saja mengasihani wanita. Sungguh siap sekali nasih Bellvania saat ini.
" Karena itu aku mengatakan pada mu jika kau hamil aku akan bertanggung jawab jika tidak makan kita anggap kejadian semalam hanyalah sebuah kecelakaan saja.. " ujar Gaffi. Sebenarnya Bellvania enggan menerima keputusan ini tapi setelah Gaffi mengatakan kenyataan tadi, Bellvania jadi tidak punya nyali untuk mendebat pria di depannya ini.
" Tapi tetap saja aku rugi karena sudah kehilangan mahkota ku... hiks... hiks... " merasa sudah tidak bisa lagi menahan malu dan sakit hatinya, Bellvania pun menangis.
" Sudahlah jangan menangis. Sekalipun kau menangis darah juga aku tidak akan pernah mengubah keputusan ku.. Maaf, tapi pantang bagiku berhubungan dengan wanita yang tidak aku sukai.. " Gaffi langsung pergi meninggalkan Bellvania begitu saja keluar dari kamar pribadinya.
Keduanya masih di apartemen milik Gaffi saat ini. Entah takdir yang sengaja menguji kesabaran Bellvania tapi keduanya punya jam kerja sama yaitu masuk siang. Sungguh kebetulan yang indahnya seperti berada di neraka. Karena jam kerja sama itulah Gaffi tadi menawari untuk berangkat bersama. Bellvania tidak bisa menolah karena mobilnya masih ada di club semalam, termasuk uang dan ponselnya.
__ADS_1
Satu bulan berlalu, Bellvania mulai merasakan ada sesuatu yang aneh dalam tubuhnya. Dia yakin ini pasti ada sesuatu yang tumbuh di dalam dirinya karena cirinya memang sama. Bellvania tentu saja menangis histeris saat kenyataan tidak sesuai ekspetasi nya. Dirinya benar hamil anak dari dokter menyebalkan yang selama satu bulan ini tiba-tiba menghilang.
Ya, Gaffi tidak terlihat berada di rumah sakit selama satu bulan belakangan ini. Lebih tepatnya sejak kejadian bersama dengan Bellvania itu. Hal ini membuat Bellvania berasumsi bahwa Gaffi tidak mau bertanggung jawab hingga tiba-tiba menghilang dan pergi dari rumah sakit ini.
Tidak tahu saja Bellvania bahwa Gaffi telah menjadi dokter relawan ke rumah sakit di pedesaan yang sedang terjangkit penyakit menular. Gaffi sengaja ikut menjadi relawan karena tidak ingin larut dalam kenangan yang tidak sengaja dia buat bersama dengan Bellvania.
Gaffi sungguh tidak menyangka bahwa akibat dari peristiwa malam penuh gelora ini sangat melekat di ingatannya. Gaffi beberapa kali sampai meneguk ludah ketika mengingat malam penuh gelora sebulan yang lalu. Entah apakah Bellvania menggunakan pelet sekalipun, tapi yang diketahui oleh Gaffi dirinya telah berubah rasa pada wanita bernama Bellvania Rudolf.
" Dokter.... " panggil seorang pasien yang sejak tadi Gaffi diamkan karena pikirannya kembali ke Bellvania.
" Oh maaf... Saya sedang sakit kepala jadi tidak fokus... " ujar Gaffi guna menutupi rasa malunya dengan sedikit berbohong.
" Cepat periksa saya dok!! " pinta pasien itu sedikit sewot. Gaffi pun langsung memeriksa pasien yang ada di depannya ini daripada terus memikirkan wanita yang belum tentu memikirkannya.
Gaffi bebersih kemudian segera membuat masakan untuk makan malamnya. Dia membuat steak, karena makanan itu simple cara masaknya, tidak perlu macam-macam bahan dan cara pengolahannya. Karena sudah lapar, Gaffi langsung saja menyantap masakan yang dia buat. Tidak lagi menunggu nanti-nanti.
Setelah selesai dari kegiatan makannya, Gaffi memilih minum kopi di teras tempat yang dia sewa untuk merilekskan badannya yang sejak pagi tegang dan kaku. Gaffi pun baru mengingat bahwa sejak tadi dia tidak melihat ponselnya barang sebentar. Dicarinya ponselnya itu ternyata berada di meja yang ada di dalam kamar.
Gaffi cukup terkejut melihat pesan dan panggilan tidak terjawab yang jumlahnya begitu banyak sekali dari dokter Karina. Merasa penasaran pun akhirnya dokter Gaffi menelepon balik dokter Karina untuk bertanya ada gerangan apa menghubunginya sampai sebanyak itu.
" Selamat malam dokter Karina.. Apakah ada perlu sehingga anda menghubungi saya sebanyak itu? " Gaffi langsung bertanya tanpa memberikan kesempatan dokter Karina membalas salamnya.
__ADS_1
" Oh itu... Bukan masalah yang sangat penting, tapi ini dokter Bells meminta saya menghubungi anda... " jawab dokter Karina jujur.
" Dokter Bells? Memangnya ada masalah apa? " tanya Gaffi sedikit heran.
" Beliau meminta nomor ponsel ada apakah saya boleh memberikannya? Dan dia bertanya keberadaan Anda sejak tadi pagi.. Oh itu dokter Bells, saya akan berikan ponsel ini padanya... " tanpa menunggu reaksi Gaffi dokter Karina melakukan apa yang dikatakannya.
Gaffi sempat memanggil beberapa kali tapi dia tidak mendengar sahutan dari dokter Karina. Tentu Gaffi tahu sekarang ini pasti dokter Karina serang menghampiri Bellvania. Gaffi tentu saja jadi panik karena belum menyiapkan hati untuk mendengar siaran Bellvania.
" Hallo dokter Gaffi... " sapa Bellvania dari sana. Gaffi langsung berdebar mendengar suara itu. Pikirannya malah justru kembali ke malam penuh gelora saat mendengar suara Bellvania mendesah karenanya.
Gluk...
Gaffi menelan ludahnya kasar, kepalanya menggeleng kuat guna mengusir pikiran gila yang merasuki pikirannya. Gaffi sampai tidak mendengar bahwa Bellvania sudah memanggilnya beberapa kali karena Gaffi tidak menanggapi.
" Dokter Gaffi..... " Gaffi refleks menjauhkan ponsel dari telinganya saat mendengar pekikan Bellvania dari seberang sana.
" Hei... Jangan keras-keras teriaknya... " sentak Gaffi ikut berteriak.
" Itu karena anda dipanggil sejak tadi tidak dengar.. Saya..... Ingin... bicara.... "
BRUKKK
__ADS_1
Gaffi mendengar suara seperti benda jatuh sri seberang. Ditambah suara Bellvania yang tiba-tiba menghilang digantikan suara dokter Karina yang cempreng berteriak memanggil nama Bellvania. Panik takut terjadi sesuatu, Gaffi bergegas mengambil kunci dan langsung mengendarai mobilnya kembali ke kota.