MENGEJAR MAAF SANG ISTRI

MENGEJAR MAAF SANG ISTRI
Tidak peduli dunianya


__ADS_3

" Hoek.... Hoek... Hoek... "


Gaffi terus mengeluarkan isi perutnya setelah berhasil keluar dari rumah hantu tadi. Carmel awalnya menertawakan sang daddy karena ketakutan melihat hal semacam hantu yang jelas tidak nyata itu. Tapi lama kelamaan Carmel merasa khawatir daddy nya tidak kunjung berhenti muntah-muntah.


" Daddy, are you okay? Daddy butuh sesuatu? " tanya Carmel mulai panik.


" It's okay my Girl.. Hanya jangan mengajak daddy masuk ke sana lagi.. Okay.. " pinta Gaffi dengan wajah melas dan sangat pucat.


" Why? Hantu itu tidak nyata daddy.. Kenapa daddy takut sampai begitu nya? " Carmel bertanya karena memang penasaran.


" Wajah yang dibuat semenjijikan itu, daddy bukan takut, tapi wajah hantu itu yang tidak enak dipandang my Girl.. Hiiiii.. " Gaffi bergidik ngeri dan merasakan mual lagi.


" Tapi tetap saja tidak seharusnya daddy seperti ini.. Kalau begini kan aku jadi kalah taruhan dengan uncle.. " ujar Carmel sedikit sedih.


" Memang apa yang dijanjikan uncle mu itu.. Keduanya benar-benar.. "


" Mereka minta aku untuk memijit mereka jika benar daddy takut masuk rumah hantu.. "


Gaffi menepuk jidatnya, kedua saudaranya itu ingin memanipulasi putri kecilnya. Rasanya Gaffi ingin sekali marah dan menjewer telinga kedua saudaranya itu. Tapi kini Gaffi tidak berani karena kedua saudaranya itu selalu membantunya merawat Carmel ditengah kesibukan mereka. Tak jarang mereka mengajak Carmel jalan-jalan. Dan rasa Terima kasih ini membuat dirinya tidak bisa memarahi kedua saudaranya.


" Sekarang kita pulang saja daddy.. " ajak Carmel.. Dia merasa kasian dengan daddy nya.


" Daddy nggak apa my Girl.. Kita bisa naik wahana permainan lain.. Tapi tunggu sepuluh menit dulu ya.. " ujar Gaffi meminum satu obat untuk menetralkan jualnya.


" Yakin? Daddy nggak apa? " Gaffi pun mengangguk.

__ADS_1


" Daddy tidak mungkin menghancurkan hari membahagiakan putri daddy hanya karena masalah sepele seperti ini.. Okay... " Carmel mengangguk dan langsung memeluk tubuh sang daddy.


Meski jarang memiliki waktu berdua, tapi Carmel selalu diajar untuk menyayangi sang daddy. Karena itulah dia selalu bisa mengerti kondisi daddy nya uang memang tidak bisa terlalu banyak memberinya perhatian karena hatinya sedang tidak baik-baik saja.


Carmel selalu mengingat ucapan dari uncle, aunty ataupun grandpa dan grandny nya. Mereka mengatakan bahwa jika Carmel merasakan rasanya kehilangan mainan, daddy nya juga merasakan kehilangan sama seperti Carmel. Tapi bukan mainan yang hilang dari dalam diri Gaffi, melainkan seseorang yang sangat berarti untuknya.


Sejak saat itu secara diam-diam Carmel selalu memperhatikan daddy nya. Meski jarang memiliki waktu bersama, setiap pulang kerja Gaffi akan menyempatkan ke kamar Carmel sejenak untuk melihat kondisi putrinya. Di setiap harinya menu makanan Carmel juga Gaffi yang mengatur nya. Pernah ada anak di sekolahan yang mengganggu Carmel karena dia yang pintar dan sangat cantik, Gaffi datang keesokan harinya menyelesaikan masalah ini.


Gaffi memang tidak mengatakan apapun, tapi Carmel melihat itu semua. Tidak ada yang bisa membuat Carmel membenci Gaffi karena kurangnya waktu mereka, karena Carmel tahu bahwa daddy nya telah berjuang sangat keras selama ini dalam merawat dan menjaganya.


" Okay.. Sekarang daddy sudah baik-baik saja. Ayo kita baik rollercoaster, atau kamu mau naik kincir itu dulu.. " Gaffi menunjuk ke arah adanya wahana air yang mengharuskan mereka basah-basahan.


" Kita kan nggak bawa baju ganti daddy.. " ujar Carmel. Sebenarnya dia ingin, tapi mereka tidak membawa persiapan apapun saat berangkat tadi.


" Kita kan bisa beli di sana my Girl.. " Gaffi menunjuk sebuah toko pakaian yang lengkap.


Carmel terus saja tertawa gembira karena bisa berlibur bersama daddy nya. Ini pertama kalinya bagi Carmel dan Gaffi liburan bersama, mengingat itu hati Gaffi perih sekali rasanya. Terlalu sibuk mengurusi sakit hatinya, dia sampai menyakiti hati putri kecilnya. Rupanya ini maksud Galen untuk membahagiakan diri sendiri dan tidak fokus pada sesuatu yang tidak pasti.


Bisakah hubungannya dengan Kate kembali lagi, juga Gaffi belum tahu karena Galen tidak mengatakan apapun. Awalnya berat, tapi kini tidak masalah, toh Gaffi memiliki Carmel yang akan selalu di sampingnya dan tidak akan pernah meninggalkan nya. Terlambat menyadari memang, tapi lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali.


" Selamat siang... Jadi ini daddy nya Carmel ya.. " sapa seorang wanita cantik yang tiba-tiba berada di samping Gaffi


" Ya? " Gaffi menoleh menatap bingung wanita sok akrab di depannya ini


" Oh Maaf... Saya guru Carmel di taman kanak-kanak.. Perkenalkan saya Leona.. "

__ADS_1


" Ah,, maaf saya tidak tahu akan hal itu.. Saya Gaffi, daddy nya Carmel. " Gaffi menjabat uluran tangan guru Carmel.


" My girl,, sini sebentar!! " panggil Gaffi.


" Oh... Miss Leona.. nice to see you.. " sapa Carmel melompat senang ke arah gurunya.


" Nice to see you too, Carmel.. Jadi ini yang kau sebut liburan indah kemarin? " tanya Leona.


" Yes.. Aku senang sekali.. Daddy ku adalah dokter, jadi beliau sangat sibuk.. Berlibur dengan daddy adalah hal yang menyenangkan.. Karena sangat sulit membuat daddy tidak sibuk.. " ucap Carmel dengan wajah polosnya.


Gaffi menatap sendu putrinya, tidak menyangka kesalahannya begitu dalam membuat sang putri kesepian. Tapi Gaffi sudah bertekad dalam hati akan semakin mencurahkan banyak kasih sayang dan waktu untuk Carmel, dan akan dia mulai dari sekarang.


Gaffi menatap Leona yang ternyata juga menatapnya, sepertinya Leona ingin menyampaikan sesuatu pada Gaffi tapi ragu apakah Gaffi berkenan mendengarkan ucapannya. Leona bingung antara jujur tentang Carmel atau tidak, tapi sebagai guru dia harus memikirkan anak didiknya dan masalah yang mereka miliki.


" Tuan Gaffi... Bisa kita bicara sebentar? Ini tentang Carmel.. " pinta Leona.


" Tentu... Kita duduk di sana saja.. " Gaffi mengajak Leona duduk di kursi tak jauh dari tempat mereka. Tentunya dari kursi itu masih bisa memantau Carmel yang bermain di kolam.


" Apakah anda bisa sedikit saja meluangkan waktu untuk mengantar Carmel ke sekolah atau menjemputnya? Maaf saya lancang, tapi karena tidak adanya orang tua yang muncul di samping Carmel, anak itu dibully temannya.. " ucap Leona jujur.


Disini tentu saja Gaffi kaget, berani sekali membully anaknya, tapi kembali lagi ini adalah kesalahannya sendiri. Sibuk dengan dunianya, tapi tidak pernah mau tahu dengan kesibukan dunia putrinya. Gaffi hanya bisa menghela nafas jika sudah seperti ini.


" Terima kasih atas sarannya Miss Leona, tapi bisakah saya mendapatkan data dari anak-anak yang membully Carmel? " pinta Gaffi.


" Memangnya apa yang akan anda lakukan dengan itu semua..? " tanya Leona sedikit merasa takut.

__ADS_1


" Sesuatu yang tidak akan mereka lupakan karena menghina putri ku.. "


__ADS_2