
Mendapatkan kabar yang tidak sedap selama beberapa hari belakangan ini membuat Kate akhirnya tumbang juga. Rasa lelah bercampur dengan sedih dan penyesalan, menjadi penyakit yang mampu melemahkan tubuh Kate hingga jatuh sakit. Saat ini, Kate dirawat di rumah sakit di kota, beruntung kedua orang tua Kate ada di sana sehingga ada yang membantu merawat Kate.
Untuk pertama kalinya setelah semua kesibukan Kate dan juga berbagai hal melelahkan yang dia lakukan, dia tumbang justru karena berita dari suami dan anaknya. Inikah teguran Tuhan padanya, membuat Gaffi menunggu sebagai bentuk penyesalannya namun dirinya justru senang dengan kehidupannya sendiri tidak lagi peduli dengan suami dan putri mereka.
Kate duduk di ranjang rumah sakit, menatap jendela dengan tatapan kosong. Rasanya hatinya mendadak hampa, padahal sebelumnya dia begitu penuh dengan rencana-rencana kerja di toko bunga dan kuenya. Ternyata itu semua hanya kebahagiaan yang disebut pelarian belaka, nyatanya sama sekali tidak bisa membuat dirinya lupa akan kepahitan hidupnya saat ini.
Tok... Tok...
" Masuk.. " seru Kate dari dalam. Lamunannya buyar karena mendengar suara pintu diketuk.
" Hai Kate.. " kepala Iden melongok ke dalam tapi hanya kepala saja karena dia masih menyembunyikan tubuhnya di belakang tembok.
" Hai kak Iden.. Ayo masuk, kenapa diluar begitu.. " ujar Kate meminta Iden untuk masuk.
Iden mengangguk kemudian membawa tubuhnya masuk. Di tangannya ada dua benda yang langsung membuat senyum Kate terbit dengan sangat lebar sekali. Iden membawa bunga di tangan kirinya dan kue buatan oma di tangan kanannya. Dua hal yang termasuk dalam hal yang disukai oleh Kate.
Jelas saja Kate merasa tersanjung setiap bersama dengan Iden. Jujur saja ini adalah kali pertama ada pria yang begitu perhatian pada Kate. Gaffi saja tidak pernah sebaik dan seromantis itu padanya. Jadi bukanlah salah Kate terlena dengan semua yang ada di tempat dia berada sekarang.
" Kenapa bisa sakit? Oma sampai khawatir lho.. " Iden memberikan bunga pada Kate yang langsung disambut Kate dengan hati yang senang.
__ADS_1
" Aku kelelahan.. " jawab Kate singkat.
" Tentu saja lelah.. Kau bahkan lebih sibuk dari ku yang notabene pemilik perusahaan.. " ledek Iden. r
" Ya.. Ya.. Yang pemilik perusahaan. Apalah diri ku ini yang hanya owner toko bunga dan kuae.. " Kate menambahkan. Keduanya pun tertawa, seolah beban di pundak mereka menghilang. Nyatanya baik Kate dan Iden sekarang dalam suasana hati yang buruk.
Sebenarnya Iden baru mengetahui tentang status Kate tadi sebelum dia memasuki ruang rawat Kate. Meski tidak terlalu jelas, tapi secara garis besar Iden memahami arti dari pembicaraan kedua orang tua Kate tentang penyebab Kate sampai jatuh sakit.
" Ini pasti karena berita tentang Gaffi dan Carmel, makanya Putri kita sampai jatuh sakit seperti ini.. " ucap Katharina beberapa menit yang lalu sebelum Iden masuk ke ruangan Kate.
" Mau bagaimana lagi, keduanya sudah berjanji untuk segera kembali bersama Kate justru bahagia dengan kehidupannya saat ini.. Bukankah kita orang tua Kate jelas pasti ingin anak kita bahagia.. " Lionel menanggapi.
" Istri ku... Ini adalah harga yang harus Gaffi bayar atas apa yang pernah dia lakukan pada putri kita dulu.. Andai pun mereka berpisah, berarti itu adalah kebahagiaan mereka jika tidak lagi bersama.. Kota serahkan pada takdir saja.. Oke*.. "
Iden mengambil kesimpulan bahwa Kate terikat dengan pria bernama Gaffi itu. Hubungan keduanya tidak baik hingga terpaksa harus berpisah seperti yang Kate jalani hampir empat tahun ini. Hanya saja masalah seperti apa dan kejelasan status Kate, belum bisa Iden simpulkan. Lebih tepatnya Iden takut menyimpulkan dan berakhir dia akan patah hati dengan kenyataan yang mungkin tidak sesuai dengan anggannya.
" Kenapa melamun? " tanya Kate. Sejak tadi Iden hanya diam dan terus memandangi Kate, membuat dia merasa tidak nyaman karena itu.
" Hanya berpikir ini dan itu saja.. Lihatlah diri mu Kate, meski wajah mu pucat kau tetap sangat cantik.. " puji Iden.
__ADS_1
" Tentu... Kecantikan berasal dari hati bukan dari wajah.. Jika sampai kita memiliki paras yang sempurna, itu adalah bonus.. " nada bicara Kate masih ceria seperti biasanya, tapi Iden bisa mengetahui bahwa hati Kate sedang tidak baik-baik saja.
" Apa kau punya masalah Kate? Kalau karena kelelahan saja tidak mungkin kau sampai ambruk sekarang.. Karena setahu perjuangan mu di awal lebih melelahkan daripada ini. " tanya Iden mencoba memancing Kate.
" Yah... Begitulah, aku memang memiliki sedikit masalah.. Eh... tidak.. tidak... bukan sedikit, tapi banyak masalah.. Aku telah mengacaukan semuanya kak Iden, hingga akhirnya orang lain terluka karena ku.. " ucap Kate dengan mimik wajah yang langsung berubah sendu.
" Mau cerita? " Kate menggeleng.
Kate bukan orang bodoh ataupun garis polos yang tidak membaca isi hati seorang pria dari setiap perbuatan dan tutur katanya. Kate tahu bahwa Iden jatuh hati padanya dan selama ini dia mendekati Kate dengan tujuan ingin mendapatkan hati Kate. Tidak ingin berbohong atau munafik, Kate memang nyaman bersama dengan Iden. Pria yang lemah lembut, pandai memperlakukan wanita dan paling penting adalah kesabarannya.
Kate tidak ingin mengecewakan Iden, karena dia begitu baik padanya. Tapi diam tanpa mengatakan status yang dia miliki otomatis semakin memberi harapan Iden dan akhirnya justru menyebabkan sakit yang lebih dari ketika Kate jujur dengan keadaannya. Katakanlah Kate haus kasih sayang dari pasangan, jelas itu karena dia belum pernah mendapatkan itu dari Gaffi.
" Kak Iden... Sebelumnya aku minta maaf, tapi ada yang perlu aku katakan saat ini pada mu Kak.. Apa kau mau mendengarkan? " tanya Kate masih dengan senyum menghiasi wajahnya tapi raut wajahnya masih nampak sedih.
" Jika kau ingin menolak perasaan ku maka diam saja dan jangan mengatakan apapun.. " Iden tiba-tiba saja berdiri dan hendak pergi dari sana. Dia tidak siap patah hati, Kate adalah cinta pertamanya.
" Kak Iden maaf... Aku sudah bersuami dan kami sudah memiliki seorang anak.. Aku... "
" Sudah aku katakan lebih baik kau diam, Kate.. " sentak Iden yang langsung meninggalkan ruangan rawat Kate.
__ADS_1
Kepergian Iden dan respon Iden membuat Kate merasa bersalah dan bersedih hati. Salahkan dirinya yang sejak awal tidak mengatakan statusnya pada Iden. Menyimpannya justru membuat Iden semakin berharap Kate bisa membalasnya. Tapi setelah apa yang menimpa Gaffi tempo hari, menyadarkan Kate bahwa sebenarnya dia tidak bisa kehilangan Gaffi. Kebahagiaan dirinya yang sesungguhnya ada pada Gaffi.