
Sejak kepergian Kate, Gaffi yang mendapatkan hukuman dari daddy Joaquin memutuskan untuk keluar dari mansion miliknya. Dia lebih memilih tinggal di apartemen yang dekat dengan rumah sakit, membiarkan Carmel dalam asuhan mommy Noura.
Sesekali Gaffi akan pergi menjenguk Carmel, tapi tidak bisa dia lakukan dalam waktu yang lama, tapi Gaffi selalu mengusahakan setiap hari menemui sang putri. Biasanya Gaffi akan mampir ke mansion utama, tapi tidak sampai masuk ke dalam. Daddy Joaquin masih melarangnya untuk masuk ke mansion, entah sampai kapan.
Galen sedikit terkejut karena saat dia pulang kerja di waktu yang sudah malam, dia melihat mommy Noura belum tidur. Mommy Noura duduk di kursi ruang keluarga menatap ke arah luar yaitu halaman belakang yang banyak sekali ditumbuhi bunga-bunga yang ditanam olehnya.
" mommy belum tidur? " Galen mendekat ke tempat mommy nya berada.
" Belum Len... Kamu lembur ya, senasib kalau begitu kita... " canda mommy Noura. Galen memeluk mommy nya sebentar, berusaha membuat mommy nya merasa nyaman karena Galen bisa melihat gurat lelah dalam wajah mommy Noura.
" Apa yang membuat mommy ku ini lembur? Coba katakan pada ku... " tanya Galen dengan nada bicara yang terkesan sedang bercanda.
" Carmel rewel terus dari tadi, Len. Tidur cuma sebentar kemudian mulai menangis lagi. Sudah rata semua penghuni mansion bergantian menggendongnya, tapi masih juga belum menunjukan akan tenang... " cerita mommy Noura.
" Kenapa tidak dibawa ke rumah sakit aja mom. Lalu daddy di mana? "
" Daddy mu sudah tidur karena lelah, sedangkan mommy tadi memanggil Gaffi saja untuk memeriksa Carmel.. "
" Gaffi nya kemana mom? " Galen celingukan mencari siluet sang adik.
" Tuh di taman belakang lagi gendong Carmel. Udah mau diam dia karena diberi obat Gaffi dan digendong daddy nya. Tadi sama sekali nggak mau berhenti nangisnya, mommy sama daddy pengen banget rasanya nyebur ke laut karena tidak berdaya. "
Galen terkekeh mendengar keluh kesah mommy Noura yang bagi Galen lucu sekali. Mommy nya ini memang paling pintar mendramatisir situasi apapun yang tengah dihadapinya.
__ADS_1
Galen berpamitan ke taman belakang untuk mengecek Carmel dan Gaffi. Apakah ada yang keduanya perlukan, Galen harus segera bertanya dan menyiapkan semuanya.
Gaffi terus menepuk punggung putri kecilnya yang ternyata sedang tidak enak badan. Tadi siang begitu dia keluar dari ruang operasi, ponselnya tidak berhenti berdering dan itu adalah panggilan dari mommy Noura. Gaffi terkejut bukan main saat mommy Noura mengatakan bahwa Carmel dalam kondisi tidak baik-baik saja dan terus menangis. Sejenak tadi Gaffi mendengar sendiri tangisan Carmel, dan itu membuat hatinya sakit sekali.
Gaffi membatalkan semua janji temunya dengan pasien ataupun kolega bisnis barunya. Gaffi langsung bergegas kembali ke mansion utama. Beruntung sang daddy melunak karena Carmel sakit, sehingga mengizinkan Gaffi masuk ke dalam mansion utama.
" Dor.... " Gaffi berjengit kaget lantaran mendapatkan tepukan keras di bahunya..
" Sialan kau... Aku hampir mati karena terkejut.. " sentak Gaffi tapi dengan suara tertahan.
" Hehehe... Carmel sudah tidur? Kalau sudah bawa masuk aja, nggak baik lama-lama di luar Gaf.. " ucap Galen yang khawatir dengan keponakannya.
" Sebentar lagi,, dia baru aja tidur satu menit yang lalu.. Aku takut dia bangun dan malah menangis lagi.. Seharian aku gantian dengan yang lain menggendong Carmel karena my Princess ini sama. sekali nggak mau turun dari gendongan... " adu Gaffi dengan mata yang terus menatap ke arah putrinya.
" Merindukan mamanya.. Carmel secara fisik aku periksa tidak ada gejala sakit sama sekali, tapi karena mood yang jelek membuatnya terus merasa tidak nyaman dan menangis... "
" Ehmmm.... Len, bisakah Carmel bertemu dengan Kate? " Gaffi mencoba memberanikan diri untuk bertanya.
" Hanya Carmel, tidak dengan ku... " dia menambahkan kembali syarat yang mungkin akan membuat Galen luluh.
" Kau yakin tidak ingin ikut bertemu dengannya? " tanya Galen memancing.
" Ingin... Tentu saja aku sangat ingin. Tapi apakah kau mengizinkan? Apakah Kate mau bertemu? Itulah yang akhirnya membuatku sadar bahwa kau dan dia tidak akan membiarkan aku ikut... " Gaffi tersenyum miris.
__ADS_1
Galen bisa melihat penyesalan yang begitu mendalam pada Gaffi karena dari matanya sangat terlihat. Sorot mata teduh menyiratkan kesepian, sakit hati dan juga penyesalan karena tidak bisa membawa dirinya lepas dari masa lalu dan berakhir menyakiti masa depannya.
Meski Gaffi menyesal pun sekarang ini, tapi Kate saat ini sedang tidak baik-baik saja. Kate terluka, bahkan lukanya begitu menganga sangat besar sekali. Jika dipertemukan sekarang pun justru akan semakin menjauh dan tidak akan bisa kembali lagi.
Galen jujur memiliki tujuan tersendiri membuat keduanya terpisah. Kejam, memang iya tapi Galen tahu ini yang terbaik untuk mereka. Tiga atau lima tahun lagi, jika mereka bertemu, pasti keadaannya akan membaik. Jadi biarlah waktu yang sama-sama menyembuhkan luka yang mereka goreskan dihari mereka masing-masing.
" Maaf ya, harus menempatkan mu dalam situasi seperti ini.. Tapi jika kalian bertemu atau kembali bersama sekarang aku sangat yakin kalian akan saling melukai lagi. Jadi beri kesempatan pada waktu untuk menyembuhkan luka kalian, baru setelah itu semuanya akan kembali baik-baik saja... " ucap Galen menepuk pelan pundak saudara kembarnya yang rapuh ini.
" Aku tidak yakin kami akan bersama lagi Len... Dia mengirimkan surat perceraian pada ku. Tadi siang aku baru menerimanya... " ujar Gaffi sendu.
" Dia dipaksa kedua orang tuanya untuk menceraikan mu.. Bersabarlah, aku akan mencoba membantu kalian.. Jika kau masih ingin tetap mempertahankannya, maka aku akan membantu mu.. "
Gaffi tersenyum kemudian mengangguk mengerti. Benar yang dikatakan Galen, dipaksakan sekarang pun hanya akan semakin membuat dia dan Kate terluka. Apakah Gaffi sudah cinta? Dia sendiri tidak tahu apa jawabannya. Perasaannya saat ini, Gaffi sendiri kurang bisa menyelami. Dia hanya tidak ingin kehilangan Kate tanpa tahu benarkah itu adalah bukti dia mencintai istrinya atau tidak..
Setelah beberapa menit dan dirasa Carmel sudah lelap. Gaffi membawa Carmel masuk menuju ke kamar pribadinya. Kamar yang dulu pernah dia tempat dengan Bellvania semasa wanita yang menjadi cinta di hatinya itu masih hidup.
Gaffi meletakan Carmel di ranjang king size di kamarnya. Kemudian memberikan beberapa guling di bagian yang dulu biasa menjadi tempat Bells berbaring. Kemudian Gaffi ikut tertidur di samping putri kecilnya. Gaffi menatap wajah cantik putri kecilnya bersama dengan Bellvania. Sangat mirip dengan kecantikan yang dimiliki oleh mendiang istrinya.
" Baru aku sadari ternyata putri kecil kita ini sangat mirip dengan mu Bells. Akankah dia memiliki nasib yang sama dengan mu suatu hati nanti, bertemu dengan pria yang bisa mencintainya tanpa syarat..." kemudian Gaffi pun ikut terlelap karena terus terang saja dia sangat lelah hari ini.
" Gaf.... Gaffi.... " terdengar suara seseorang memanggilnya. Namun ketika Gaffi membuka sebentar matanya dia melihat seseorang yang begitu dia rindukan..
" Ya... Aku lelah.... "
__ADS_1