MENGEJAR MAAF SANG ISTRI

MENGEJAR MAAF SANG ISTRI
Bertanya tentang kebenaran


__ADS_3

Begitu turun dari pesawat pribadi miliknya, Galen segera meminta sopir yang menjemputnya untuk mengantarnya ke JN Hospital. Jujur saja Galen sudah pengen menjitak kepala Gaffi setelah mendapatkan laporan dari orang yang dia minta mengawasi Gaffi dua puluh empat jam.


Dari laporan yang Galen dapat, ternyata Gaffi menjadi dokter dari pasien bernama Emily dan Galen tahu siapa gadis bernama Emily itu. Belum lagi setahu Galen, wanita itu tengah mengandung, dan jangan sampai jika itu anak Gaffi atau siap-siap saja tuan muda ketiga keluarga de Niels itu akan kehilangan pabriknya.


Begitu Galen sampai, seseorang yang selama ini bekerja padanya juga pada Gaffi sudah siap di depan pintu rumah sakit menyambut kedatangan Galen. Pria itu membungkuk memberi hormat dan lekas mengantarkan Galen ke tempat di mana Gaffi berada. Langkah kaki mereka diketahui Galen menuju ke ruang ICU. Sejenak Galen bisa menyimpulkan bahwa wanita itu masih dalam kondisi pasca operasi.


" Tinggalkan aku disini.. Kau pergilah kembali bekerja!!! " titah Galen pada pria yang menyambutnya tadi.


" Baik tuan.. Saya harap anda akan menghukum tuan saya itu dengan berat... " ujar Damian, asisten pribadi Gaffi yang selama ini menjadi kata-kata Galen untuk mengawasi saudara kembarnya itu.


" Hm.. Pasti... " Galen sudah menahan ingin memaki Gaff sejak berada di dalam pesawat. Kini saatnya dia membuat Gaffi menjadi perkedel karena berani main-main dengan janjinya.


Galen berdiri di depan pintu ruang ICU dengan sabar. Mengumpulkan segala kesal di dadanya dan akan dia semprot kan pada tersangka yang telah membuatnya kesal setengah mati. Sudah lima menit Galen berdiri dan belum ada tanda-tanda si kutu kupret itu akan keluar dari ruang ICU. Namun saat hendak berbalik untuk duduk di kursi tunggu, tiba-tiba saja terdengar suara pintu di buka.


Galen mengurungkan niatnya dan langsung berbalik sambil berkacak pinggang menatap tajam Gaffi. Tentu saja hal itu membuat Gaffi terkejut setengah mati. Bisa-bisa dia akan menjadi perkedel jika tidak bisa menuntaskan rasa penasaran dari pria yang berdiri tegap di depannya ini.


" Tunggu sampai tes DNA nya keluar, setelah itu aku akan menjelaskan semuanya pada mu.. Benar... tunggu tes DNA,, aku janji akan mengatakan pada mu.. " Gaffi mendadak gugup. Hilang sudah Gaffi yang cool dan tenang.

__ADS_1


" Hanya itu? Tidak kah kau tahu berapa usia kandungan wanita itu? Bukankah ketika kalian masih bersama? Apa hanya itu yang butuh kau katakan pada ku? Kau tidak menyadari kesalahan mu, Gaffi de Niels.? " Galen bertanya sambil maju selangkah demi selangkah membuat Gaffi terpojok di pintu.


" Bukan anak ku... Sungguh itu bukan anak ku... Aku selalu pakai pengaman, benar, aku selalu memakai pengaman... " ucap Gaffi sedikit terbata. Sesungguhnya dia tidak begitu yakin dengan hal yang baru saja dia ucapkan. Tapi tidak ada pilihan lain selain mengatakan itu, nasibnya bergantung pada Galen saat ini.


" Aahh.. Kau yakin dengan itu? " Gaffi langsung mengangguk cepat. " Oke.. Tapi jika terbukti itu anak mu, siap saja kau menerima keputusan ku dan Kate... " Galen menunjuk hidung Gaffi dengan jari telunjuknya. Kemudian pergi dari sana dengan tertawa mengejek.


" Sial.. Siapa yang mengatakan hal ini padanya? Jangan sampai sisi iblisnya keluar atau tamatlah riwayat ku.. " monolog Gaffi langsung pergi dari sana.


Tanpa kedua pria yang berdebat di depan ruang ICU tadi, wanita yang terbaring di ruang ICU, wanita bernama Emily Castano itu baru saja sadar dari efek obat bius saat operasi kemarin. Emily mengerjab beberapa kali berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya. Kepalanya sedikit pusing dan tidak nyaman. Emily meraba perutnya dan mendapati perutnya sudah tidak lagi membuncit, hal ini membuatnya sangat panik sehingga terjatuh dari ranjang yang dia baringi.


Tiiiiiiiittttttttt......


" Nyonya anda tidak apa-apa? " tanya seorang perawat mendekati tubuh Emily.


" Ssshhh... Kepala saya sakit sekali Sus.. " keluh Emily.


" Hei tolong bantu nyonya ini naik ke ranjang!! " teriak suster yang berada di samping tubuh Emily.

__ADS_1


" Ya Tuhan, kepala anda berdarah lagi... Hei cepat panggil dokter Gaffi... " ujarnya lagi kala melihat perban di kepala Emily sudah terlihat merah karena darah. Mungkin saja tadi saat terjatuh Emily terbentur di bagian yang terluka itu.


Emily menatap tidak percaya suster yang sedang memeriksanya itu kala mendengar nama Gaffi di sebut. Emily saat kecelakaan tidak sadarkan diri dan merasa semuanya berjalan sangat cepat ketika sadar dia sudah berada di sini. Dan jika ada Gaffi, berarti dia diantarkan ke rumah sakit milik keluarga Gaffi. Tentu saja hal itu membuat Emily panik karena dia berjanji akan pergi sejauh mungkin dari Gaffi.


Namun dia kembali mengingat tentang kandungan nya, Emily langsung menggenggam tangan suster yang memeriksa denyut nadinya, " Sus, dimana anak saya? Anak saya baik-baik saja kan Sus? " Emily bertanya dengan berlinang air mata.


" Anak anda.... "


BRRAAKK


Ucapan suster itu terpotong saat pintu ruang ICU di buka dengan kasar dari luar dan nampaklah Gaffi di sana dengan wajah merah padam siap melahap siapa saja yang mengganggunya. Dia yang baru saja ingin pergi mengecek pasiennya yang lain terpaksa mengurungkan niat karena mendengar pasien di ruang ICU terjatuh dari ranjang. Gaffi paham apa yang dilakukan Emily sampai wanita itu jatuh dari ranjangnya.


" Apa kau ingin MATI HAH...??? Bagaimana bisa kau terjatuh dari ranjang? Apa kau bodoh? " sentak Gaffi membuat beberapa tenaga medis di dalam ruangan itu terkejut. Seorang dokter tidak diizinkan berlaku kasar pada pasien, siapa pun itu. Nah sekarang apa yang mereka lihat, sudah lebih dari sekedar kasar.


" Anak ku.. Aku berusaha mencari anak ku kak.. Dimana anak ku? " tanya Emily mengabaikan kemarahan Gaffi.


" Anak siapa itu? Katakan pada ku anak siapa itu? " bukan menjawab Gaffi malah ganti bertanya. Dia tidak lagi peduli dengan beberapa tenaga medis yang mendengarkan karena yang terpenting bagi Gaffi adalah jawaban dari Emily.

__ADS_1


" Itu... Itu anak.... Kakak.... "


Dehh... Degh... Degh...


__ADS_2