
Tiga tahun lebih telah berlalu, selama tiga tahun ini baik Gaffi maupun Kate tetap saking berkirim surat meski tidak terlalu sering karena kesibukan masing-masing. Namun, bagi Gaffi, dua tahun ini telah mampu mengikis rasa percaya dirinya bahwa Kate akan kembali padanya. Gaffi benar-benar putus asa saat ini, dua tahun tidak sebentar baginya tapi tidak ada kabar satu pun dari sang istri tentang kepulangannya.
Tahun pertama kepergian Kate, Gaffi masih optimis bahwa mereka akan segera kembali bersama. Tahun kedua kepergian Kate, dia pun masih memiliki keyakinan yang tinggi di tahun berikutnya Kate akan kembali pulang untuk bisa bersamanya. Namun nyatanya, di tahun ketiga kepergian Kate, tidak ada kepastian kapan Kate pulang, dan itu membuat Gaffi putus asa.
Gairah hidupnya menghilang, membuat Gaffi tak ubahnya seperti zombie. Hidup sebagai manusia namun seperti kehilangan jiwa. Dan yang Gaffi lakukan setiap harinya hanya bekerja dan bekerja saja. Mengurusi Kate saja yang kini berusia empat tahun sudah sangat jarang. Lebih banyak mommy Noura dan saudara Gaffi lainnya yang menemani putri kecilnya.
Meski begitu, tidak pernah Gaffi tidak menyayangi putri kecilnya. Belahan jiwanya dengan Bellvania itu selalu menjadi alasan terkuatnya untuk kuat menghadapi apa yang terjadi dengan hidupnya, meski kini putus asa sekalipun namun Gaffi tetap bertahan demi Carmel. Namun meski begitu Gaffi selalu menyibukkan diri dengan pekerjaan dan sering lembur atau menginap di rumah sakit.
Seperti pagi ini, jam tubuh pagi dia baru pulang ke rumah padahal dia itu shift pagi yang seharusnya kemarin sore jam empat dia sudah pulang ke rumah. Mommy Noura hanya bisa menggeleng kepala karena tingkah putranya yang semakin hari terlihat semakin mengenaskan.
" Dad... Coba bicaralah dengan Galen.. Lihat putra mu itu, sudah mirip seperti manusia tanpa nyawa saja.. " ujar mommy Noura iba melihat kondisi Gaffi.
" Daddy tidak bisa mengganggu gugat keputusan dari Galen mom... Karena apa yang Galen lakukan adalah keinginan Kate sendiri, itu yang daddy tahu.. " daddy Joaquin merasa menyesal menolak keinginan sang istri karena memang apa yang dikatakannya itu benar adanya.
__ADS_1
" Masalah Geya sudah berakhir dan bahkan anak kita yang bontot itu sudah bahagia bersama dengan suaminya yang sekarang.. Geya juga sedang mengandung anak keduanya, tapi lihat Gaffi masalahnya tidak kunjung menemukan jalan keluar. Malang nasibnya.. " mommy Noura rasanya sudah ingin menangis.
Daddy Joaquin hanya bisa menghela nafas frustasi melihat kesedihan yang istri tercintanya rasakan. Rasanya dia merasa sebagai suami tidak berguna jika melihat istrinya bersedih tanpa dia bisa melakukan apapun demi mengenyahkan kesedihan sang istri. Putra pertamanya itu kekeh sekali tidak mau segera memberikan izin Gaffi pergi menemui Kate. Alasannya pun selalu sama, Gaffi belum benar-benar berubah. Padahal tiga tahun lebih ini, dia tidak pernah melakukan kesalahan yang bisa membuat pandangan Galen buruk terhadapnya.
*******
Di sebuah negara di benua yang jauh dari Eropa, Kate tengah sibuk dengan pembukaan cabang dari toko kue dan bunganya. Terlalu sibuk dengan semua usaha yang dilakukan selama hampir empat tahun ini, membuat tidak begitu banyak perubahan pada kondisi mentalnya, meski penyakit mentalnya tidak bertambah parah.
Saat ini, Kate pun sedang keluar bersama Iden untuk melihat-lihat tempat yang rencananya seminggu lagi akan dibuka. Tempat dimana toko Kate yang baru akan dibuka. Di tempat yang jauh lebih strategis dari pusat karena tempat ini Iden sendiri yang mencarikannya.
" Bagaimana? Untuk dekorasi apakah sudah sesuai dengan keinginan mu? " tanya Iden.
" Hm... Tapi untuk warnanya aku ingin yang di bagian depan harus lebih cerah dari tempat lama.. Kali ini aku tengah mengincar pasaran anak remaja, jadi harus cerah dan ceria dekorasinya. " komentar Kate ketika melihat tempat yang sudah empat puluh persen siap.
__ADS_1
" Kalau begitu, kau sampaikan saja pada desainer nya.. Menurut mu mana yang cocok dengan begitu semuanya akan sesuai dengan apa yang kau harapkan.. " Kate mengangguk.
Kate telah mencurahkan segalanya di toko tempatnya memulai semua dari awal itu. Tanpa embel-embel sebagai wakil presdir Berliana Group, dan hanya seorang Kate saja. Berkat toko inilah sedikit demi sedikit Kate mulai mampu melupakan semua kejadian menyakitkan yang dia pernah alami. Namun sebenarnya kesibukan Kate ini tidak membawanya sembuh dari kondisi penyakit mentalnya, tapi justru sebaliknya.
Perkembangan Kate dalam berobat cenderung sangat lambat karena dia mulai mengurangi jadwal kontrolnya. Dulu biasanya dia akan ke rumah sakit dua minggu sekali, atau bahkan sampai seminggu sekali. Namun kini, sebulan sekali saja kadang Kate memilih untuk mengundurnya dengan alasan sedang sibuk di tokonya. Dokter Anastasya pun tidak bisa berbuat banyak karena apa yang pasien lakukan diluar kepentingan berobat, itu sama sekali bukan urusan dokter. Lagi dia juga sudah pernah menegur Kate, namun tidak diindahkan.
" Eh... " Kate terkejut ketika ponselnya bergetar ketika dipegangnya.. Ada nama Galen disana.
Belum sampai Kate mengangkat panggilan Galen, panggilan itu diakhiri oleh Galen sendiri. Ketika Kate hendak menghubungi balik, tapi Galen justru mengiriminya pesan. Dan pesan itu mampu membuat Kate seperti tertampar dengan kenyataan. Kate bahkan sampai terjatuh saking dia sangat shock dengan apa yang dibacanya barusan.
**Kak Galen..
Gaffi ditemukan pingsan dengan kondisi cukup mengkhawatirkan.. Dokter mengatakan dia terlalu banyak mengonsumsi obat anti depresan hingga OD.. Aku tidak tahu sampai kapan bisa menahan dirinya untuk tidak mencari mu, tapi jujur saja dia mulai putus asa**....
__ADS_1