
Menyesal, berulang kali Gaffi selalu mengatakan hal itu. Tapi tetap saja tidak ada yang berubah dalam hidupnya. Semuanya belum juga kembali meski dia telah berusaha menebus kesalahan dengan menantikan dengan sabar kepulangan sang istri. Sepertinya, memang tidak akan mungkin apa yang dia usahakan hampir empat tahun ini membuahkan hasil.
Tubuh Gaffi terbaring lemah di ranjang pesakitan. Jika biasanya dia yang menjadi dokter dan memeriksa pasien, namun kini justru berbalik, Gaffi lah yang menjadi pasien. Beberapa jam yang lalu dia ditemukan tidak sadarkan diri di kamarnya dengan mulut yang mengeluarkan bisa. Mommy Noura lah yang menemukan Gaffi seperti itu. Niat hati ingin mengajak anaknya untuk sarapan, namun yang dia lihat justru anaknya terbaring di lantai dengan mulut yang berbusa.
Beberapa jam yang lalu,
Mommy Noura selesai berbincang dengan daddy Joaquin langsung pergi ke dapur untuk melihat maid dan koki yang menyiapkan sarapan untuk keluarga utama. Kali ini mommy Noura meminta untuk dibuatkan croissant saja karena itu menu sarapan favorit anak-anaknya sejak kecil.
" Apa semuanya sudah siap, bi? " tanya Noura pada kepala pelayan yang sedang menata hidangan di meja makan.
" Sudah nyonya.. Saya akan segera memanggil tuan muda.. " bibi Madela panut hendak memanggilnya keempat tuan muda untuk sarapan, tapi dihentikan oleh mommy Noura.
" Biar saya saja bi.. Bibi lanjutkan saja pekerjaan di sini.. " ujar mommy Noura langsung naik ke lantai tiga tempat dimana kamar keempat putranya berada.
Di mulai dari Galen, kemudian Gafar, dan Ghadi, laku yang terakhir adalah Gaffi. Kamarnya yang berhadapan dengan Ghadi namun dideretan yang berbeda dengan ketiga saudaranya, membuat Gaffi selalu paling akhir dipanggil.
Tok... Tok...
" Gaf,, kita sarapan dulu yuk.. Habis itu baru istirahat.. Gaffi... " mommy Noura mengetuk pintu kamar Gaffi berkali-kali namun tak kunjung di buka.
" Kenapa mom? " tanya Ghadi yang baru keluar dari kamar.
__ADS_1
" Kok Gaffi mommy panggil nggak keluar ya.. " keluh mommy Noura.
" Masuk aja mom,, kali dia mandi.. Kan baru aja pulang.. " saran Ghadi.
Ceklek..
" Gaf,, ayo sarap..... Aaaarrggghhh..... GAFFI.... " mommy Noura berteriak sampai orang yang dibawah pun langsung berlarian ke atas.
Trio G yang turun lebih dulu, dan baru berada di tanggal lantai dua, langsung kembali naik ketika mendengar teriakan sang mommy.
" Mom... Ya Tuhan.. Gaffi.. " Gafar yang mendekat pertama kali dan langsung mengangkat tubuh Gaffi tanpa bertanya atau berucap sepatah katapun.
" Kita ke rumah sakit, nak.. " ajak mommy Noura yang langsung diangguki Galen.
Jadilah Gaffi langsung dibawa ke rumah sakit menggunakan mobil milik Gafar yang disupiri oleh Ghadi sedangkan Gafar sendiri berada di kursi belakang bersama dengan Gaffi. Di belakang mobil itu, ada mobil Galen yang di dalamnya ada Galen serta kedua orang tuanya. Kedua mobil ini melaju dengan sangat kencang membelah jalanan kota Milan.
Begitu sampai, semua suster dan dokter jaga di ruang IGD terkejut melihat dokter Gaffi terbaring tak sadarkan diri dan ada busa di mulutnya. Semuanya sungguh tidak menyangka, dan tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Dokter Gaffi baru pulang dari lemburnya beberapa menit yang lalu, tapi kini sudah kembali ke rumah sakit, namun dengan kondisi yang berbeda saat dia pulang tadi.
" Tuan besar... " sapa dokter senior yang menangani Gaffi. Tentu saja anak dari pemilik rumah sakit akan mendapatkan penanganan dari dokter senior.
" Dokter Carl,, bagaimana putra ku? " tanya daddy Joaquin sedikit tidak sabar.
__ADS_1
" Tuan muda sudah melewati masa kritisnya, namun yang saya heran, sejak kapan tuan muda mengkonsumsi obat anti depresan? Karena dari tes yang kami lakukan, tuan muda mengalami overdosis dalam mengkonsumsi obat anti depresan... " terang dokter Carl.
Semua tentu saja terkejut dan tidak menyangka bahwa Gaffi bisa berlaku seperti itu. Bahkan Galen langsung menjadi sasaran amukan dari mommy Noura karena menempatkan Gaffi pada situasi yang menjadikannya harus mengalami hal semacam ini. Dengan adanya kejadian ini, bisa dipastikan selama ini Gaffi menyembunyikan dengan sangat baik penyakitnya.
Kembali ke tempat dan waktu yang sekarang, mommy Noura masih terus menangis dalam pelukan daddy Joaquin atas apa yang menimpa Gaffi. Mau menyalahkan siapa karena memang semuanya terjadi karena akibat dari apa yang dulu Gaffi tanam. Tapi rasanya ini semua terlalu kejam, hampir empat tahun Gaffi menunggu tanpa adanya kepastian.
Galen mencoba menghubungi Kate, namun tidak kunjung dijawab padahal sudah lebih dari lima kali dia menghubungi istri Gaffi itu. Akhirnya Galen pun mengirimkan pesan pada Kate, mengabarkan tentang kondisi Gaffi saat ini. Sungguh rasanya Galen ingin sekali menenggelamkan dirinya, entah benar atau tidak keputusannya. Tapi melihat Gaffi yang biasanya kuat bahkan sering mengajaknya bertengkar, namun kini terbaring tidak berdaya membuat Galen merasa dirinya tidak berguna.
" Entahlah... Jika kalian bisa melewati ini berarti kalian masih berjodoh.. " gumam Galen hendak berbalik, namun dia terkejut melihat sosok sang mommy berada di depannya.
" Mom... "
" Apa maksud mu dengan melewati semua dan berjodoh? Kau menyembunyikan sesuatu Galen? " mata mommy Noura memicing tajam menatap si sulung yang sepertinya tengah menyembunyikan sesuatu.
" Tidak ada mom.. " Galen masih berusaha tenang, padahal tatapan sang mommy berhasil mengintimidasinya..
" Katakan atau mommy tidak akan pernah memaafkan mu selamanya.. " ancaman dari sang ibu negara sudah muncul.
" Hubungan Kate dan Gaffi sekarang tidak menjauh juga tidak semakin mendekat mom.. Menurut laporan dari anak buah ku, saat ini Kate tengah dekat dengan pria lain disana.. " akhirnya Galen mengatakan apa yang selama ini dia sembunyikan.
" Ya Tuhan... Putra ku... " mommy Noura akhirnya pingsan, menyusul Gaffi tidak sadarkan diri.
__ADS_1