MENGEJAR MAAF SANG ISTRI

MENGEJAR MAAF SANG ISTRI
saling terbuka


__ADS_3

" Kate... Kau kah itu? " tanya Gaffi setelah lama terdiam ketika mendengar suara yang begitu dia kenal menyapanya.


" Hm.. Maaf mengganggu mu, tapi aku ingin kita bisa bicara.. " ujar Kate.


" Katakan dimana kau sekarang aku akan ke sana. Kita bisa bicara Kate...? " Gaffi begitu bersemangat karena Kate ingin berbincang dengannya.


" Bisakah kita tidak bertemu dan hanya mengobrol lewat ponsel. Jujur aku belum..... Maaf aku belum siap bertemu dengan mu... Bisakah kaka Gaffi mendengarkan apa yang ingin aku katakan tanpa menyela ataupun protes? " Gaffi kecewa. Kate tidak ingin bertemu dengannya.


Gaffi tetap antusias karena ini kali pertama setelah semua masalah mereka mendera, mereka bisa bicara bersama tanpa emosi, tanpa ancaman, tanpa kekerasan, hanya bicara untuk saling memahami satu sama lain. Gaffi bersedia mengikuti kemauan Kate untuk mendengarkan semua ucapan Kate namun tentunya Gaffi juga ingin Kate mendengarkan ucapannya. Beruntung Kate mau sehingga pembicaraan mereka berjalan cukup baik sampai disini.


" Sebelumnya aku ingin minta maaf, karena kesalahan ku sehingga baik kakak maupun aku kehilangan sosok kak Bells. Aku tidak sengaja kaka, sungguh aku tidak pernah memimpikan menggantikan dirinya sebagai istri mu meski aku menyukai mu. Aku cukup tahu diri bahwa aku tidak sempurna seperti wanita lainnya.... " kalimat pertama yang Kate ucapkan.


" Aku hanya ingin pamit dengan kakak karena dalam waktu dekat aku akan pergi untuk berobat. Sehingga aku bisa menjadi wanita sempurna seperti wanita lainnya karena mungkin jika hari kita bertemu dan berjodoh tiba, aku sudah bisa menyempurnakan diri ku kak.. "


" Kate... Sungguh aku tidak pernah tahu kau mengalami semua itu. Aku tidak tahu bahwa kau memiliki ketakutan yang begitu besar, bahkan sampai separah itu. Maafkan aku karena turut ambil bagian dari semakin parahnya penyakit mu... " ujar Gaffi cepat memotong. Dia tidak ingin Kate salah paham padanya dengan sengaja membuat Kate menjadi gila.


Perbincangan mereka berpusat pada rasa saling menyesal dan meminta maaf atas semua kesalahan pahaman yang ada di antara mereka. Gaffi yang paling banyak mengucap maaf karena paling banyak melukai Kate hingga seperti ini. Termasuk maaf karena tidak bisa menyelamatkan calon anak mereka.

__ADS_1


Kate menangis ketika mengingat bahwa dia telah kehilangan buah hatinya. Hati Gaffi seperti terisir sebilah pisau yang tajam saat mendengar tangisan Kate. Dia merasa berdosa karena yang merasa kehilangan bukan hanya Kate tapi Gaffi juga. Bayangkan dalam waktu kurun satu tahun dia kehilanganmu dua calon anaknya, dari wanita yang berbeda. Gaffi ingin gila rasanya jika mengingat itu semua.


" Maafkan aku... Ini semua murni kesalahan ku,, jadi tolong jangan menangis Kate,, aku sakit mendengar kau menangis. Maaf kan aku Kate... maafkan aku... maafkan aku... " Gaffi pun ikut menangis meratapi apa yang telah menimpanya dan wanita yang kemarin-kemarin masih berada di sampingnya.


" Aku mohon ampuni aku Kate... Jangan tinggalkan aku... Aku tidak bisa hidup sendiri bertemankan penyesalan dan sepi ini... Ampuni aku Kate.... " tangis Gaffi semakin menjadi. Rasanya hatinya begitu sesak sekali saat ini.


Kate sendiri tidak berucap sedikit pun, hanya suara isakan tangis yang terdengar di telinga Gaffi. Suara yang sama seperti yang dia keluarkan, menyedihkan karena keduanya sama-sama memiliki luka yang begitu dalam karena semua masalah ini.


Lama keduanya hanya saking menangis tanpa mengucap suatu apapun. Keduanya sama-sama terluka. Sama-sama saling menyakiti dalam diamnya mereka. Gaffi berusaha menguasai hati dan pikirannya ketika disaat seperti ini dia harus bisa menenangkan bukan hanya dirinya tapi juga Kate. Banyak yang harus mereka bicarakan yang jauh lebih penting dari hanya sekedar penyesalan.


" Kate bisa kau mendengar ku? " tanya Gaffi setelah bisa menguasai suasana hatinya.


" Kali ini aku yang akan bicara aku mohon dengarkan aku baik-baik... " jeda Gaffi.


" Aku mohon cabut gugatan cerai mu, mari kita perbaiki ini semua sebelum terlambat. Mari kita sama-sama memberi waktu untuk sembuh dari luka kita selama ini. Mari kita sama-sama memperbaiki semua ini ke arah yang lebih baik. Aku akan menanti sampai kau ingin kembali lagi pada ku Kate. Aku mohon jangan membuat kita berpisah. Aku tidak bisa tanpa mu... " ujar Gaffi dengan tulus dari dalam hatinya.


" Aku mohon Kate. Aku akan merubah sikap ku pada mu, aku mohon izinkan aku mendapatkan kesempatan kedua untuk tetap bisa membina rumah tangga bersama mu. Satu tahun, lima sampai sepuluh tahun pun aku rela menanti mu, asalkan kita bisa kembali bersama.... "

__ADS_1


" Coba kau pikirkan dulu Kate, aku menantikan jawaban mu... " ujar Gaffi di akhir kalimatnya.


Kate pun meminta waktu untuk menjawab dan langsung menutup ponselnya. Dia merasa senang karena Gaffi mau mencoba untuk memperbaiki semua masalah dalam pernikahan mereka tapi apakah itu akan baik-baik saja nantinya. Benarkah waktu yang saat ini paling keduanya butuhkan untuk menyembuhkan luka dan memperbaiki hati untuk bersama. Kate merasa dilema.


" Huft.... Tenang Kate... Kau pasti bisa melewati ini semua.. Kau mencintai dia jadi seharusnya kau memberinya kesempatan... " ujar Kate mencoba mempengaruhi keputusannya untuk bercerai.


" Dia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, kami hanya butuh waktu untuk menyembuhkan luka setelah itu pasti bisa kembali... Tapi... benarkah itu... " bahu Kate melemas ketika semuanya masih belum dalam sesuatu hal yang pasti.


Kate menghela nafas untuk menghilangkan sesak di dadanya. Berharap dengan mengatur pernapasan nya dia bisa menjadi lebih tenang dalam berpikir. Bolehkah dia egois? Bolehkah jika dia berusaha untuk membahagiakan dirinya sendiri tanpa peduli perasaan orang lain? Bolehkah?


Kate sangat ingin mengiyakan ucapan Gaffi. Memberi pria itu kesempatan, menarik gugatan cerai nya di pengadilan, sama-sama menyembuhkan luka di hati kemudian di waktu yang tepat akan kembali bersama. Tapi bagaimana dengan kedua orang tuanya. Apakah keduanya akan bisa memahami dan menerima keputusannya.


Untuk mencari dukungan dari keinginannya, Kate mengirimkan pesan pada Marcello dengan bertanya apakah tidak apa jika dia bersikap egois. Dia yang awalnya menikahi Gaffi demi perusahaan dan nama baik keluarga, bolehkan jika sekarang dia menerima Gaffi kembali demi dirinya sendiri.


Kate tersenyum bahagia ketika mendapatkan balasan dari Marcello yang mana justru mendukungnya melakukan apapun yang dia inginkan...


# Lakukan apapun yang menurut mu itu benar Kate. Karena dengan begitu kau tidak akan merasa menyesal di kemudian hari. Terkadang tanpa kita sadari kita telah melewatkan jodoh jika terlalu mendengarkan kata-kata orang lain.. Aku selalu mendukung mu... #

__ADS_1


Kate senang sekali memiliki teman sebaik Marcello, mengingatkan nya pada mendiang Bellvania yang selalu ada untuknya dan mau mendengarkan setiap keluh kesannya. Kate pun berencana menemui kedua orang tuanya besok untuk membahas masalah ini. Semoga saja kedua orang tua Kate mau mengerti kata hatinya.


__ADS_2