
Kini Theo mencari dongeng apa yang pas untuk ia ceritakan ke Nona mudanya itu. Meskipun terdengar permintaan yang aneh, tetap saja karena Theo sendiri yang menawarkan hal itu pada Zella. Setelah menemukan dongeng yang pas untuk dibacakan, Theo pun menoleh ke arah Zella.
"Hemmm, cepat sekali nona muda ini terlelap." gumam Theo yang kemudian meletakkan ponselnya dan menyelimuti tubuh Zella.
Dipandanginya paras cantik Zella yang sedang tertidur membuat Theo menginginkan hal yang lebih dari pada itu. Jauh di dalam lubuk hati Theo berharap Zella adalah masa lalu Theo. Selama enam tahun, baru kali ini hati Theo merasa tergelitik dengan seorang wanita. Sayangnya, Tuan Geoffrey juga sangat menginginkan Zella.
Theo memberanikan dirinya menyentuh wajah Zella dan menelusurinya dengan jari tangan Theo mulai dari kening Zella, turun menyentuh hidung Zella dan kini tangannya berhenti tepat di bibir Zella, mengusapnya perlahan membuat gemuruh didada Theo semakin menyeruak.
Bukan hanya Theo, Zella yang sudah terlelap merasakan gelenyar aneh saat bibirnya diusap pelan dengan Theo. Zella tetap memejamkan matanya meski ia sudah terjaga dari tidurnya. Dibiarkannya tangan Theo terus bergerilya di bibir Zella sambil menikmati rasa rindu yang membuncah di dadanya.
Sayangnya Zella harus merasakan kecewa yang kesekian kalinya saat mendengar ponsel Theo berdering. Theo melepaskan tangannya dan mengambil ponselnya. Karena takut mengganggu istirahat Zella, Theo pun menjawab panggilan di balkon kamar Zella.
Zella membuka matanya sambil menatap kesal ke arah punggung Theo yang berjalan menuju balkon. "Dasar pemberi harapan palsu." gerutu Zella menyibakkan selimutnya.
Setelah memutuskan panggilannya, Theo kembali masuk ke kamar Zella dan sedikit salah tingkah mendapati Zella yang sudah duduk di atas tempat tidurnya dengan tatapan tajam ke arah Theo.
"Maaf, Nona Zella. Apa anda terbangun karena saya?" tanya Theo dengan raut muka bersalah.
"Hemmm," jawab Zella yang langsung membuang mukanya dan terlihat sangat kesal.
Melihat gelagat Nona Mudanya kurang bersahabat, Theo langsung mendekat ke arah Zella dan meminta maaf.
"Maafkan saya, Nona. Saya benar-benar tidak bermaksud menggangu anda." ucap Theo. "Tadi Tuan Geoffrey menelfon saya dan menanyakan tentang keadaan anda, Nona Zella. Dia terdengar sangat mengkhawatirkan keadaan anda." jelas Theo yang kini duduk di tepi ranjang Zella.
"Tuan Geoffrey meminta anda tetap tinggal di sini, Nona selama anda berada di Berlin. Dia juga mengabarkan bahwa perusahaan anda dalam keadaan yang baik." jelas Theo lagi.
__ADS_1
"Tentu saja, karena aku memasrahkan semuanya pada Uncle Tom." jawab Zella dengan nada yang kesal.
Kini Zella sudah berbalik menatap Theo dan kedua pandangan mereka saling bertemu. Kali ini bukan sorot mata kesal dari Zella melainkan sorot mata yang penuh dengan kerinduan. Hingga membuat Theo menundukkan pandangannya dari Zella karena takut ia bertindak di luar batasnya.
"Saya benar-benar mohon maaf, Nona Zella." ucap Theo sambil beranjak dari tempat tidur Zella.
"Jangan bergerak dan pergi dari tempat dudukmu." ucap Zella membuat Theo diam di tempat.
"Katakan pada Tuan Geoffrey bahwa keadaanku baik-baik saja. Aku tidak mau membuat orang lain khawatir terhadapku." jelas Zella.
"Tapi, Nona. Bukankah itu suatu perhatian yang luar biasa dari Tuan Geoffrey?" ucap Theo dan Zella langsung menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak suka." jawab Zella.
"Baiklah, Nona. Sekali lagi maafkan saya." lagi lagi Theo meminta maaf pada Zella.
Theo sedikit terkejut dengan permintaan Nona mudanya. Baru kali ini ia mendapati Direktur pemilik perusahaan besar bersikap sangat rendah hati pada orang bawahan seperti dia.
"Maksud anda, Nona?" tanya Theo.
"Kau bisa memanggilku Zella dan aku bisa memanggilmu - kakak-." jawab Zella membuat Theo makin terkejut. Mana mungkin ia memanggil Nona Mudanya dengan panggilan nama saja.
"Itu hal yang tidak mungkin, Nona." ucap Theo. "Begini saja, Anda bisa memanggil saya Theo dan saya tetap memanggil anda Nona." jelas Theo.
"Kenapa?" tanya Zella.
__ADS_1
"Karena itu sangat tidak sopan jika saya hanya memanggil anda dengan nama saja." jawab Theo.
"Kalau begitu aku sekarang perintahkan padamu, untuk memanggilku -Zella- dan aku akan memanggilmu -Theo-." ucap Zella lagi dan Theo tetap menggelengkan kepalanya hingga kini Zella benar-benar kesal.
"Bukankah saat di luar kantor anda bukanlah atasan saya? Jadi, anda tidak bisa memberi perintah seenak anda, Nona Zella." jawab Theo yang kemudian berdiri dan hendak meninggalkan kamar Zella.
Zella benar-benar kesal mendapati Theo yang terus saja menolak permintaannya. Tapi ia kembali ingat pesan Dokter Brian untuk tidak terlalu mengejar Theo untuk mengembalikan ingatannya. Beberapa artikel yang ia baca pun juga memberi saran agar lebih sabar dalam melakukan terapi pada orang yang kehilangan beberapa memorinya.
Baru tiga langkah Theo meninggalkan Zella, terlihat cahaya kilat yang masuk ke kamar Zella dan terdengar suara petir menggelegar hingga Zella meringkuk masuk ke dalam selimut. Theo langsung berbalik dan membuka selimut Zella.
Melihat selimutnya terbuka, Zella langsung memeluk Theo dengan sangat erat.
"Aku takut, jangan pergi. Kumohon jangan pergi lagi. Aku tidak ingin sendiri lagi." pinta Zella yang terdengar sangat ketakutan.
Ingatan Zella kembali saat ia harus kehilangan Levi saat hujan badai terjadi di sekitar Sungai Isar enam tahun yang lalu. Dan kali ini, ia tidak ingin Levi nya hilang lagi.
Theo membalas pelukan Zella dan mencoba menenangkannya.
"Tidak perlu takut, Aku tidak akan pergi." balas Theo yang tidak lagi menggunakan bahasa formal. Sayangnya Zella yang masih diliputi ketakutan tidak begitu mendengarkan ucapan Theo dan terus memeluknya erat.
Theo kini mengira bahwa Nona Mudanya pasti memiliki trauma mendalam dengan hujan dan petir. Ia pun akhirnya merebahkan tubuhnya di samping Zella dalam keadaan yang masih berpelukan dan kini keduanya berada dalam satu selimut. Theo terus mengusap punggung Zella hingga tak ada rasa takut lagi yang menyelimuti Zella.
Zella benar-benar merasa nyaman dalam pelukan Theo, dan lama kelamaan matanya pun terpejam. Tak hanya Zella yang merasakan kenyamanan, kini Theo pun merasa sangat nyaman berada di dekat Zella.
Meski tadi rasa sakit di kepala dan sesak di dadanya sempat datang, tapi sekuat tenaga ia tahan demi kebaikan Zella. Dan kini rasa sakit itu berangsur angsur hilang. Theo pun memberanikan dirinya tidur di samping Zella.
__ADS_1
Semalam suntuk Theo dan Zella tidur dalam satu selimut dan saling berpelukan. Keduanya sama-sama terbuai dalam mimpi indah mereka yang tidak pernah muncul selama enam tahun ini.