Mengejar Pelangi

Mengejar Pelangi
Si Gladiator


__ADS_3

Byuuuurrr!


Ctaaaarrr!


Terdengar bunyi guyuran dan libasan ikat pinggang di salah satu ruangan di markas besar milik Rafe.


"Aaaarrrrgghhh, sakiiiit." suara teriakan Maya terdengar sangat melengking di telinga anak buah kepercayaan Rafe.


Maya kembali kena hukuman yang ketiga kalinya karena ketahuan berusaha untuk melarikan diri. Inilah kehidupan Maya saat ini. Dikurung di ruangan kosong yang hanya ada kasur dan bantal saja.


Maya dijadikan Rafe sebagai Gladiator *#** untuk semua anak buahnya yang sedang menginginkan pelepasan saat penat menjalankan misi khusus dari Rafe. Maya hanya dirawat dua hari di rumah sakit.


Sepulang dari rumah sakit, Maya langsung mendapat hukuman dari Rafe sampai detik ini. Ia tidak dapat melakukan aksi bunuh diri lagi karena tidak ada benda tajam di ruangannya. Setiap melakukan percobaan untuk kabur, Maya selalu ketahuan dan berakhir dengan hukuman yang menyakitkan.


"Maya, sebentar lagi kau akan didandani oleh seorang MUA. Setelah itu kau harus melayani sepuluh anak buah Rafe yang memang sedang butuh melepaskan penat mereka setelah menjalankan misi khusus dari Rafe." jelas salah satu anak buah Rafe membuat Maya kembali gigit jari.


"Aku hanya berharap cepat mati agar aku dapat keluar dari neraka ini!" pekik Maya.

__ADS_1


Rafe sama sekali tidak pernah datang untuk mengecek keadaan Maya sama sekali karena ia benar-benar sudah mempercayakan semuanya pada anak buahnya.


...***...


Tidak hanya Maya yang kini menjadi Gladiator *#**. Renata yang harus rawat inap di Rumah Sakit Jiwa pun mengalami hal yang sama. Renata sangat senang membuka bajunya saat Dokter Pria datang untuk memeriksanya.


Dan dia selalu meminta Dokter maupun perawat pria untuk menjamah tubuhnya yang sangat mulus dan sintal itu karena memang sebelumnya ia adalah seorang model. Bohong jika dokter tidak tergoda dengan Renata. Meskipun Renata gila, tapi tidak mengurangi kenikmatan saat bercinta dengan dia.


Pagi ini Jadwal Dokter Igam memeriksa Renata. Ia sengaja memeriksa Renata saat Renata sudah selesai mandi.


"Pagi Renata, waaah sudah terlihat segar ya pagi ini?" sapa Dokter Igam.


"Normal kan dok?" tanya Renata dan Dokter Igam mengangguk. "Aku mau diperiksa pake ini dok." pinta Renata menunjuk ke stetoskop milik Dokter Igam.


"Okey. Sini Dokter periksa." ucap Dokter Igam menempelkan stetoskop nya di dada Renata.


Renata langsung mendorong tangan Dokter Igam, "Bukan disini, tapi di dalam sini." protes Renata menunjukkan ke arah buah d*-danya yang masih tertutup. Renata kemudian membuka kancing bajunya dan langsung melepaskannya. Kemudian ia melepaskan pengait br* dan melemparkannya sampai tersangkut di bahu Dokter Igam.

__ADS_1


Melihat tubuh pasiennya yang sangat mulus dengan ukuran da-d* yang terbilang sangat montok membuat Dokter Igam dan perawat laki-laki yang mendampinginya menelan ludahnya kasar.


Meskipun yang dihadapi adalah seorang pasien penyakit jiwa, tetap saja kemolekan tubuh sintal Renata membuat senjata dokter Igam dan perawat laki-lakinya terasa sesak di bawah sana.


Renata menarik tangan Dokter Igam dan meletakkan stetoskop milik Dokter Igam tepat di atas nip*le miliknya yang sudah tegak mencuat ke atas. "Naaaah, ini enak sekali dokter. Dinginnya cess banget." ceracau Renata.


"Aku pindahin ke kiri juga makin enak dokter. Dokter mau gak cicipin punya aku?" tanya Renata sambil membusungkan dadanya membuat Dokter Igam kali ini gantian dibuat gila olehnya.


"Renata, cepat pakai bajumu!" perintah Dokter Igam yang takut melanggar kode etiknya sebagai dokter.


"Dokter bodoh. Sama kayak Leviku yang selalu menolak pesonaku." ceracau Renata yang terus memberanikan dirinya merangkul leher Dokter Igam dan memaksanya untuk mencicipi miliknya.


"Bayu, jangan diam saja. Cepat pakaikan baju Renata dan kita segera pergi dari sini." perintah Dokter Igam.


Bayu pun segera menarik tangan Renata dan memakaikan bajunya dengan paksa. Renata terus berteriak dan mengamuk menolak untuk pakai baju.


Akhirnya Dokter Igam merekomendasikan Renata untuk dilakukan tindakan ECT (Electroconvulsive Therapy) atau yang juga dikenal sebagai terapi kejut listrik (Electro shock Therapy).

__ADS_1


Renata pun terus meronta ronta saat dibawa ke ruang ECT. Kini ia menjalani terapi kejut listrik dengan berderaian air mata hingga akhirnya tidak sadarkan diri.


__ADS_2