
Reyna mengamati jalan yang dilewatinya bukanlah jalan ke arah apartemen miliknya.
"Tuan, ini bukan jalan ke apartemen saya." ucap Reyna.
"Apartemen? Bahkan kau tidak menunjukkan alamatnya padaku." tukas Rafe santai.
"Oh My God. Bodohnya aku." rutuk Reyna dalam hati. Ia segera membuka ponselnya dan menunjukkan pada Rafe peta ke arah apartemennya.
"Aku tidak butuh itu." ucap Rafe yang menepis pelan tangan Reyna.
"Lalu anda akan membawa saya kemana, Tuan?" tanya Reyna.
"Tentu saja ke Mansionku. Papi ingin bertemu denganmu." jawab Rafe dan Reyna hanya menganggukkan kepalanya.
Setidaknya setelah menemui Tuan Nico, ia bisa memesan taksi untuk kembali ke apartemennya. Sesampainya di Mansion Rafe, terlihat Tuan Nico duduk di teras dan nampak menunggu seseorang.
__ADS_1
Setelah memarkirkan mobilnya, Rafe segera keluar lebih dahulu untuk membukakan pintu untuk Reyna. Tetapi Reyna sudah lebih dulu membuka pintu dan keluar dari mobil. Betapa terkejutnya Reyna, saat Tuan Nico berdiri dari tempat duduk dan menyambut kedatangannya.
"Herzlich willkommen (Selamat Datang) Reina. Aku sudah menunggu kedatanganmu." ucap Tuan Nico yang justru membuat Reyna sangat kikuk kali ini.
Rafe yang sangat memahami keterkejutan Reyna, langsung merangkul tubuh Reyna dan membisikkan sesuatu. "Bersikaplah yang baik, Reyna. Sapa papiku."
"Ehemmmm, suatu kehormatan bagi saya, Tuan Nico. Tuan apa kabar?" tanya Reina yang sedang berusaha untuk biasa saja meskipun gemuruh dalam dadanya sangat tidak karuan.
Kini dia ada dalam rangkulan Rafe yang hari ini memang terlihat sangat tampan, cool, dan satu lagi wangi parfum Beau De Jour Eau de Parfum by Tom Ford begitu membuat Reyna sangat ingin berlama-lama dalam dekapan Rafe.
"Jangan begitu sungkan denganku, Reyna." ucap Tuan Nico sambil mempersilahkan Reyna masuk ke dalam Mansionnya. "Panggil saja aku Papi, seperti Rafe memanggilku." lanjut Tuan Nico membuat Reyna mengerutkan dahinya.
"Tentu saja tidak, Tuan." jawab Reyna menggelengkan kepalanya sambil berusaha melepaskan rangkulan Rafe.
Rafe pun melepaskan rangkulannya dan berjalan lebih dulu dari Reyna. Sesampainya meja makan, Rafe menarik kursi untuk Reyna dan sikap Rafe kali ini membuat Reyna benar-benar bingung.
__ADS_1
"Reyna, saya sangat berterima kasih dan berhutang budi padamu karena kamu telah menyelamatkan nyawa saya." ucap Tuan Nico saat pelayan di mansionnya mulai mengambilkan makan unyuk Tuan Nico, Rafe dan juga Reyna.
"Saya hanya melakukan sesuai dengan tugas saya Tuan Nico. Karena memang kami diperintahkan untuk selalu mentaati Tuan kami. Bukan begitu, Tuan Rafe?" tanya Reyna.
"Sayangnya Kau tidak termasuk yang taat, Reyna." ucap Rafe membuat Reyna tertegun.
"Kau tidak dengar papiku menyuruhmu memanggilnya dengan sebutan papi? Kenapa kau tidak menurut dan masih memanggilnya Tuan?" tanya Rafe membuat Reyna bingung harus menjawab apa.
"Maaf," ucap Reyna sambil menunduk.
"No Problem, Reyna. Aku tahu kau pasti belum terbiasa. Silahkan makan dulu. Setelah itu kita lanjutkan perbincangan kita." ucap Tuan Nico mempersilakan untuk makan.
Reyna pun mulai menyantap makanannya pelan, begitu juga Rafe dan juga Tuan Nico. Setelah mereka menghabiskan makanan dan para pelayan sudah membersihkan meja makan, Tuan Nico kembali membicarakan suatu hal yang memang ingin disampaikan.
"Reyna, aku tahu kau adalah gadis yang hidup sebatang kara di kota ini. Orang tuamu tinggal di Quedlinburg dan bekerja sebagai pegawai di suatu pabrik yang mungkin sebentar lagi akan purna." ucap Tuan Nico dan Reyna masih diam mendengarkan kemana arah pembicaraan Tuan Nico.
__ADS_1
"Baiklah, aku tidak mau bertele-tele panjang lebar. Sebagai ungkapan terima kasihku, aku memintamu menikah dengan Rafe, putraku. Aku juga akan mengangkat kehidupan keluargamu di Quedlinburg dari kesusahan." ucap Tuan Nico yang selama ini sudah mengetahui latar belakang dan seluk beluk keluarga Reyna.
Reyna benar-benar sangat terkejut dengan permintaan Tuan Nico. Terlebih saat ia mengetahui orang tuanya datang dari pintu Mansion.