Mengejar Pelangi

Mengejar Pelangi
Salah Paham


__ADS_3

Zella yang terburu-buru tidak menyapa Theo sedikit pun membuat Theo sedikit kecewa terhadap sikap Zella. Ia sebenarnya ingin menyusul Zella masuk ke dalam ruangannya, sayangnya Tuan Geoffrey sudah datang dan menyusul masuk ke ruang kerjanya.


"Nona Zella," panggil Tuan Geoffrey saat Zella sedang merapikan barang barangnya.


"Sebagai ungkapan terima kasih saya terhadap segala kebaikan Nona, saya akan mengirimkan Theodore sebagai asisten pribadi anda besok lusa. Saya sangat faham, anda lebih membutuhkannya. Dan Theo juga pasti sangat membutuhkan anda untuk mengembalikan daya ingatnya." ucap Geoffrey panjang lebar membuat Zella terdiam dan menatap Geoffrey tak percaya.


Zella melangkahkan kakinya mendekat ke arah Geoffrey, "Apa anda tahu jika dia Leviku?" tanya Zella dengan mata yang berkaca-kaca.


Geoffrey menganggukkan kepalanya dan Zella menghambur memeluk Geoffrey. "Terima kasih telah menyelamatkan Leviku, aku berhutang budi padamu, Tuan." ucap Zella terisak.


"Tidak perlu berterima kasih, Nona Zella. Ini adalah balasan dari kebaikan anda pada saya." balas Geoffrey membalas pelukan Zella.


Tepat saat mereka berpelukan, Theo membuka pintu ruangan dan tercengang melihat pemandangan yang sangat tidak ia inginkan.


"Theo." pekik Geoffrey membuat Zella tersadar dan melepaskan pelukannya.


"Maaf, Tuan. Saya tidak bermaksud mengganggu privasi anda. Tuan Azel sudah menunggu Nona Zella di depan." ucap Theo yag kemudian langsung undur diri.

__ADS_1


"Nona Zella, Levimu pasti salah paham dengan kita." ucap Geoffrey merasa tidak enak.


"Biarkan saja Tuan, nanti aku yang akan menjelaskan padanya. Jangan lupa kirimkan dia padaku besok lusa. Terima kasih banyak untuk segalanya. Saya pamit dulu." ucap Zella sambil meraih tasnya dan keluar dari ruangan Geoffrey.


Theo tidak tampak di mejanya saat Zella keluar dari ruangan Tuan Geoffrey.


"Hemmm, dia pasti kecewa." gumam Zella sambil terus berjalan menemui Azel dan mereka keluar dari Perusahaan Hilton.


Theo yang memang bersembunyi di balik pintu, kini kembali duduk di tempatnya dan mengusap wajahnya kasar. "Aku sungguh tidak rela jika Zella menerima cinta Tuan Geoffrey. Tapi aku juga tidak yakin berani merebut Zella dari tangan Tuan Geoffrey." gumam Theo yang mulai kesal dengan dirinya sendiri.


Saat sedang sibuk memikirkan Zella, Theo sampai tidak sadar saat Tuan Geoffrey sudah berdiri di depannya. "Aku baru kali ini melihatmu melamun, Theo. Apa kau sedang memikirkan seorang wanita?" tanya Tuan Geoffrey membuat Theo terperanjat.


"Oh tidak Tuan. Maafkan saya yang tidak melihat kedatangan anda." jawab Theo menutupi kegugupannya.


"Masuklah ke ruanganku, Theo. Aku membutuhkan bantuanmu." ucap Geoffrey dan Theo langsung mengikuti langkah Tuannya.


Geoffrey meminta Theo membantunya untuk mengecek beberapa berkas yang tertumpuk di meja kerjanya. Hingga waktu telah menunjukkan waktu pulang kerja, keduanya masih berkutat dengan tumpukan berkas yang sedikit berkurang.

__ADS_1


"Oh iya, Theo. Besok lusa kau harus kembali ke München untuk mengurus beberapa agenda di sana." jelas Geoffrey.


"Baik Tuan." jawab Theo singkat. Theo yang belum mengetahui bahwa Zella sudah lebih dulu kembali ke München menjadi patah semangat. Ia mengira Tuan Geoffrey membutuhkan waktu untuk berduaan dengan Zella saat ia tidak ada disini. Tapi cepat cepat ia buang prasangka buruknya terhadap Tuannya sendiri.


Tak lama kemudian, pesan dari Dokter Steffy masuk ke dalam ponsel Theo.


Dokter Steffy


Aku sudah mengarah ke pusat perbelanjaan.


Theo tidak membalas pesan dari Dokter Steffy. Ia masih setia menunggu san membantu Geoffrey sampai selesai mengecek berkas..


"Sepertinya aku lelah. Kau mau pulang atau lembur di sini?" tanya Geoffrey yang sudah berkali-kali menguap.


"Sebenarnya saya ada janji dengan Dokter Steffy, Tuan." jawab Theo.


"Oh, kalau begitu pergilah. Aku akan pulang dengan supir." ucap Geoffrey sambil bersiap-siap untuk pulang ke Mansion.

__ADS_1


__ADS_2