Mengejar Pelangi

Mengejar Pelangi
Pura-pura Kencan


__ADS_3

Zella terus berlari tanpa menghiraukan Theo yang mengejarnya. Jauh di lubuk hatinya ia sangat gembira melihat Theo masih sangat peduli dengannya. Tapi mengingat tiga hari belakangan ini Theo mengacuhkannya, Zella harus membalas mengacuhkan Theo kali ini.


Brukkk!!!


Zella menabrak dada bidang Theo yang sudah berdiri tepat di depannya.


"Awwwh!!" pekik Zella mengusap kepalanya.


"Nona Zella, anda tidak apa-apa?" tanya Theo memeriksa kening Zella dan Zella langsung menepis tangan Theo dan berlari meninggalkannya.


Theo mengusap wajahnya kasar. Dia benar-benar sangat menyesali sikapnya beberapa hari ini. Theo pun segera berlari mengejar Zella yang terlihat sudah sampai di gerbang Mansion.


Zella kini meluruskan kakinya di teras sambil meneguk air yang diberikan oleh Kak Azel.


"Aku harus segera menghubungi Kak Azel dan bertemu dengannya." gumam Zella. Ia pun mengetikkan pesan untuk meminta kak Azel menjemputnya di Mansion Geoffrey.


"Nona Zella." panggil Theo sambil mengatur nafasnya. "Saya minta maaf karena beberapa hari ini mengacuhkan anda." ucap Theo yang kini duduk di samping Zella.


Zella masih acuh dan tidak menanggapi Theo. Ia hanya memijit mijit kakinya pelan tanpa menoleh ke adah Theo sedikit pun.


"Nona Zella, saya mohon bicaralah." pinta Theo. "Saya akan melakukan apapun yang anda minta asalkan anda mau memaafkan dan berbicara dengan saya, Nona Zella."


Zella menarik nafasnya dan menghembuskannya pelan. "Termasuk meninggalkan Tuan Geoffrey?" tanya Zella menatap ke arah Theo.


Kali ini Theo bungkam tak mampu menjawab pertanyaan Zella. Mana mungkin Theo bisa meninggalkan Tuannya yang selama enam tahun ini sudah berlaku baik padanya.


"Lain kali perbaiki kata katamu, Theo jika masih ingin bicara denganku." ucap Zella terdengar sangat pedas. Zella pun segera masuk ke dalam Mansion meninggalkan Theo yang masih duduk terdiam.


Zella segera membersihkan dirinya dan memilih dress yang pas digunakan untuk berkencan. Ia sedikit memoles wajahnya dan mengikat rambutnya ke atas. Kini Zella terlihat sangat cantik meskipun ia hanya bertemu dengan kakak kandungnya.


Mobil Azel sudah masuk gerbang Mansion saat Theo masih terduduk di teras. Theo menatap tidak suka ke arah Azel membuat Azel tersenyum tipis membalas tatapan Theo.


"Aku mau menjemput Nona Grizelle Alexandria." ucap Azel yang terlihat sangat tampan.


"Mau dibawa kemana Nona Muda kami?" tanya Theo penuh selidik.

__ADS_1


"Hanya berkencan dan mengajaknya berkeliling di Potsdamer Platz." jawab Azel yang memang sengaja memberi tahukan Theo kemana mereka akan pergi.


"Tunggulah disini, aku akan memanggil Nona Muda," ucap Theo meninggalkan Azel sendirian di teras.


Zella yang sudah siap segera mengambil tasnya dan keluar dari kamarnya.


"Anda mau pergi kemana, Nona Zella?" tanya Theo saat Zella baru saja menutup pintu kamarnya.


Zella yang sedikit terkejut hanya menjawab pertanyaan Theo asal asalan. "Hanya kencan pertama, jadi aku akan ikut saja dia mau mengajak kemana." jawab Zella membakar api cemburu di dada Theo.


"Bukankah anda baru mengenalnya?" tanya Theo. "Kenapa dengan mudahnya anda berkencan dengan orang yang baru anda kenal Nona Zella?" Theo mulai gusar. Terlebih melihat Zella yang sangat cantik kali ini.


"Apa pedulimu?" gertak Zella. "Aku bisa menjaga diriku sendiri, Theo." balas Zella yang mulai berbalik meninggalkan Theo.


Theo makin tidak rela Zella pergi dengan laki-laki lain. Dengan cepat Theo menarik ikatan rambut Zella hingga membuat rambut Zella terurai sangat indah.


"Anda tidak boleh pergi dengan mengikat rambut anda, Nona. Itu akan memanggil pria buas di luaran sana untuk memangsa anda." ucap Theo menyembunyikan ikatan rambut Zell di saku celananya.


"Dasar aneh, kembalikan ikat rambutku!" gertak Zella geram.


Theo harus segera membersihkan dirinya dan mengikuti kemana Zella pergi. Sedangkan Zella langsung menemui Azel dan pergi meninggalkan Mansion.


"Levi pasti sedang cemburu mengetahui kau berkencan dengan pria lain." ucap Kak Azel.


"Sepertinya begitu, aku ingin tahu saja seberapa besar rasa cemburu nya itu." jawab Zella. "Bagaimana kabar papa Green, kak? Apa dia merindukan aku?" tanya Zella kemudian.


"Tentu saja Zella, papa sangat merindukanmu. Segeralah pulang." pinta Kak Azel.


"Aku akan segera pulang membawa Kak Levi." jawab Zella.


Keduanya kini saling berbagi cerita dan melepaskan kerinduan mereka. Meskipun mereka masih tetap berkomunikasi via telefon, tetap saja pertemuan mereka kini adalah untuk melepas rindu.


Sampai di Potsdamer Platz, Azel langsung mengajak Zella ke sebuah restoran yang menyajikan berbagai menu kesukaan Zella.


"Satu bulan ke depan, aku akan membantumu mendapatkan Levi." ucap Kak Azel.

__ADS_1


"Apakah ingatannya akan kembali secepat itu kak?" tanya Zella yang merasa bahwa itu adalah suatu hal yang mustahil.


"Memang ini diluar kendali kita, Zella. Tapi kau yakin tentang kekuatan cinta, bukan?" tanya Azel dan Zella menganggukkan kepalanya.


"Terus saja buat Levi cemburu. Aku yakin dia akan segera mengikatmu dan memasukkan mu ke dalam kandang." ucap Azel sambil terkekeh mengingat sorot mata Levi Yang mematikan tadi.


...***...


Di lain sisi, Theo kini sedang bersiap-siap ke Potsdamer Platz untuk mengawasi Zella yang sedang berkencan dengam Azel. Sayangnya baru saja ia keluar dari Mansion, Dokter Steffy datang yang berniat untuk bertemu dengan Theo.


"Kau mau pergi kemana Theo?" tanya Dokter Steffy.


"Aku ada urusan di Potsdamer Platz, Dokter Steffy." jawab Theo yang tampak terburu-buru.


"Bolehkah aku ikut? Aku juga ingin mencari sesuatu di sana." ucap Dokter Steffy yang kemudian mengikuti langkah Theo.


"Terserah." jawab Theo dan Dokter Steffy pun segera masuk ke dalam mobil Theo.


Theo sebenarnya sudah sangat bosan meladeni Dokter Steffy yang terus menerus mendekati dirinya. Berkali-kali dia menolak ajakan Steffy, tapi berkali-kali pula Theo terpaksa hatus menerima ajakan Steffy.


Theo masih sangat kesal dengan saran Steffy untuk menjauhi Zella.


"Bagaimana menurutmu terapi kita kemarin? Apakah ada perkembangan, Theo?" tanya Dokter Steffy.


"Sepertinya aku ingin menghentikan terapi yang bertahun tahun tidak ada hasilnya, Dokter Steffy." ucap Theo yang masih fokus membawa mobilnya. Dalam fikirannya dipenuhi bayangan Zella dan Azel, apa yang sedang mereka berdua lakukan?


"Apa kau sudah ingin melupakan masa lalumu, Theo?" tanya Dokter Steffy.


"Tidak," jawab Theo singkat.


"Lalu, apa alasanmu menghentikan terapi?" tanya Dokter Steffy terus mendesak Theo.


Karena Theo mulai kesal, ia menepikan mobilnya dan berhenti di dekat halte bus.


"Dokter, saya sedang ada kepentingan mendadak. Turunlah karena saya tidak bisa terus menerus menjawab pertanyaan anda." pinta Theo.

__ADS_1


"Tidak Theo, jangan turunkan aku. Baiklah aku akan diam dan tetap ikut dengan mu." ucap Dokter Steffy dan Theo segera menjalankan mobilnya kembali.


__ADS_2