
Kini Maya, Reyna, dan Tuan Nico berada di dalam rumah sakit yang sama. Setelah mengetahui kejadian di Mansion, Rafe sangat marah dengan Maya terlebih Maya tidak hanya mencelakai Papi tapi juga hampir menghilangkan nyawa Reyna.
Rafe segera menelfon Zella dan membatalkan janjinya malam ini. Tidak lupa Rafe menceritakan apa yang telah terjadi di Mansionnya. Tepat saat panggilan berakhir, Dokter yang memeriksa Tuan Nico keluar dari ruangan.
"Bagaimana keadaan papi saya, Dokter?" tanya Rafe.
"Keadaan Tuan Nico tidak begitu mengkhawatirkan. Dua atau tiga hari lagi keadaannya pasti sudah pulih seperti sedia kala." jelas Dokter.
Rafe sangat tenang mendengarkan informasi dari dokter. Ia pun segera masuk ke ruangan untuk menemui papinya.
"Rafe, dimana Maya?" tanya Tuan Nico saat melihat Rafe masuk dan duduk di sampingnya. "Dia benar-benar sangat berbahaya."
Rafe yang tadinya belum akan menceritakan apa yang terjadi di Mansion, pun akhirnya menceritakan apa yang terjadi antara Maya dan Reyna.
"Pastikan Reyna baik-baik saja. Aku berhutang nyawa padanya, Rafe." tukas Tuan Nico. "Dan Maya, jangan biarkan dia mati terlebih dahulu karena aku akan menghukumnya sendiri nanti."
__ADS_1
"Baik Pi. Aku akan mengawasi mereka." jawab Rafe yang kemudian menitipkan papinya pada orang kepercayaannya dan pergi untuk melihat keadaan Maya dan juga Reyna.
Maya dan Reyna sama-sama masih dalam keadaan yang sangat kritis. Luka tusuk yang terdapat di perut Reyna hampir saja mengenai otot ligamennya, untungnya tidak ada organ yang terkena goresan oisau sedikitpun. Sedangkan luka tusuk Maya hanya mengenai permukaan kulit luar saja, tidak separah yang dialami oleh Reyna.
Tak lama kemudian Zella dan Levi datang untuk menanyakan keadaan Tuan Nico dan menanyakan apa yang terjadi.
"Terima kasih Zella sudah memperingatkan aku untuk segera pulang. Jika tidak, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada papi." ungkao Rafe.
"Maya memang sangat berbahaya, Rafe. Tapi aku salut, setidaknya ia pernah berubah menjadi baik selama bersama kalian." jelas Zella membuat Rafe langsung menggelengkan kepalanya.
"Aku pastikan setelah ini dia tidak akan pernah hidup tenang sampai ia menghembuskan nafas terakhirnya." kecam Rafe yang benar-benar sudah muak dengan Maya.
Sedangkan Maya kini lebih dulu melewati masa kritisnya dibandingkan Reyna. Ia membuka matanya perlahan dan setelah terbuka sempurna, ia mengingat apa saja yang baru saja terjadi padanya.
"Oh My God, aku masih hidup." gumam Maya pelan dan terdengar oleh kaki tangan Rafe yang memang dipekerjakan khusus menjaga Maya.
__ADS_1
"Benar Maya, dan kami pastikan anda tetap hidup sesuai dengan perintah Tuan besar kami." jawab kaki tangan Rafe.
"Tidak, tidak mungkin. Aku pasti sudah mati. Ya aku seharusnya sudah mati." ucap Maya mulai ketakutan. Ia sangat paham betapa kejamnya Rafe saat menindas seseorang, terlebih padanya yang sudah terlihat sangat bersalah.
"Tuan, kumohon tolong bunuh saja aku." pinta Maya sambil berusaha menarik infus dan beberapa alat medis dari tubuhnya. Tapi langsung saja gagal karena tubuhnya masih sangat lemah dan tidak ada tenaga sama sekali.
"Anda juga tidak akan bisa melakukan upaya bunuh diri lagi Maya. Karena itu tidak dibenarkan oleh bos kami."
"Kalau begitu, katakan pada Rafe. Aku mau meminta maaf pada Zella dan keluarganya. Bahkan aku pun sudi untuk berlutut di kakinya." pinta Maya dengan suara bergetar.
"Semuanya terlambat Maya, aku sudah tidak akan mempercayai pembohong sepertimu. Kau hampir saja membunuh papi ku. Jadi kali ini, harapanmu cukup satu, bertahan untuk menjalani segala hukuman dariku." ucap Rafe yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Maya.
"Dokter, aku ingin dia diberi perawatan yang terbaik karena dia harus segera bekerja untukku." ucap Rafe saat Dokter jaga masuk untuk memeriksa keadaan Maya.
Maya terus berteriak meminta tolong agar ada seseorang yang mau membunuhnya sekarang juga. Sayangnya kali ini benar-benar tidak ada yang mempedulikan Maya sama sekali.
__ADS_1