Mengejar Pelangi

Mengejar Pelangi
Theo Kembali ke Berlin


__ADS_3

Zella yang terus dipandangi oleh Tuan Geoffrey merasa sedikit tidak nyaman.


"Tuan Geoffrey, apakah saya boleh bertanya sesuatu tentang asisten anda?" tanya Zella membuat Geoffrey mengalihkan pandangannya.


"Nona Zella, lebih baik anda beristirahat dulu agar lekas pulih." jawab Geoffrey yang belum siap membicarakan tentang Theodore.


Zella juga berkali-kali menguap akibat efek obat yang diberikan oleh dokter Brian. Akhirnya Zella pun terlelap dan Geoffrey tetap tidak beranjak dari kamar Zella. Ia mengedarkan pandangannya di setiap sudut kamar Zella.


Tampak foto Theo terpampang jelas di dinding kamar Zella.


"Hemmm, sepertinya kau sangat mencintai suamimu, Zella. Aku tidak yakin bisa menggantikan posisinya di hatimu atau tidak." gumam Geoffrey sambil memandangi Zella yang sedang tertidur karena pengaruh obat.


"Kau sangat cantik dan benar-benar mengulik hatiku untuk bisa mendapatkanmu, tapi aku tidak yakin untuk itu." Geoffrey mulai menutup wajahnya dengan tangannya.


Geoffrey akhirnya meninggalkan Zella dan keluar dari kamar Zella.


"Nak Geoffrey, terima kasih sudah menjenguk cucu kami." ucap Granny pada Geoffrey.


"Sama-sama, Nyonya." jawab Geoffrey. "Kalau begitu, saya undur diri dulu Nyonya." Geoffrey pamit dan kembali ke Mansionnya.


"Aku berharap Nak Geoffrey bisa mengisi kekosongan di hati Zella." ucap Granpa.


"Semoga saja, aku juga berharap Zella bisa move on dari masa lalunya." balas Granny.


...***...


Sesampainya di Mansion, Geoffrey mendapat informasi dari asistennya di Berlin jika ada pembengkakan penggunaan dana perusahaan. Informasi tersebut juga sampai di telinga Theodore.


"Saya akan kembali ke Berlin dan mengecek keadaan di sana, Tuan Geoffrey." ucap Theo membuat Geoffrey sedikit lega. "Anda lebih baik meneruskan kelanjutan kerja sama dengan perusahaan GA Corporation di sini."


"Kau benar-benar bisa untuk aku andalkan Theo. Segera pesan tiket pesawat untuk keberangkatanmu sore ini." ucap Geoffrey.


Paula yang mendapatkan tiket pesawat lebih awal langsung membatalkan penerbangannya dan mengubah jadwalnya agar sama dengan Theodore.


"Lebih baik aku pulang dengan Theo daripada sendiri." ucap Paula yang tidak dihiraukan sama sekali oleh Geoffrey dan Theodore.

__ADS_1


Geoffrey langsung mengisyaratkan Theo untuk mengikuti menuju ruang kerjanya.


"Aku tidak akan mengkhianati anda Tuan Geoffrey." ucap Theo saat mereka sudah ada di dalam ruang kerja Geoffrey.


"Aku pun sudah tidak berminat dengan Paula. Sungguh, aku juga ingin mengakhiri Hubungan ku dengannya." jawab Geoffrey.


"Sepertinya dugaanku benar, Tuan Geoffrey pasti sudah menaruh hati pada Direktur Grizelle, bukan?" tanya Theo yang terdengar mendesak.


"Tapi wanita itu sangat sulit untuk ditaklukkan Theo. Aku tidak yakin untuk mendapatkannya." jawab Geoffrey.


"Aku akan membantumu, Tuan." ucap Theo membuat Geoffrey membelalakkan matanya.


"Huuuh, aku pun juga tidak yakin dengan ucapanmu. Sudahlah, berkemaslah dan segera ke bandara. Perusahaan membutuhkanmu." ucap Geoffrey dan Theo pun segera berkemas di kamarnya.


...***...


Zella membuka matanya dan menemukan Geoffrey sudah tidak ada di sisinya lagi.


"Seharusnya tadi aku bisa menanyakan tentang asistennya, Theo. Sayangnya aku sudah todak kuat menahan rasa kantukku." gumam Zella.


Keadaan Zella kini sudah lebih baik daripada sebelumnya, ia juga mengatakan pada Dokter Brian untuk tidak perlu datang lagi ke mansion nya karena dia sudah ada perkembangan yang sangat baik.


Sedangkan Geoffrey tampak tidak ikut serta dan hanya melambaikan tangannya mengiringi kepergian Theo dan Paula. Pemandangan itu kembali membuat sesak di dada Zella.


Ia pun segera masuk ke dalam kamarnya. Geoffrey yang melihat ke arah balkon Zella dari Mansionnya langsung melangkahkan kakinya menuju ke mansion Zella.


Melihat kedatangan Geoffrey, Granpa langsung menyuruhnya menemani Zella yang kini sedang duduk di taman samping Mansion.


"Apa kau sudah lebih baik, Nona Zella?" tanya Geoffrey yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Zella.


"Ya, aku merasa lebih baik hari ini." jawab Zella. "Asisten anda pergi kemana tadi, Tuan?" tanya Zella to the point.


"Theo kembali ke Berlin karena ada sedikit masalah di sana." jawab Geoffrey.


Mendengar jawaban Geoffrey, membuat Zella kehilangan semangatnya. Dia terlihat sangat rapuh kali ini hingga hampir terjatuh dari tempat duduknya. Dengan sigap Geoffrey menahan tubuh Zella dan mengangkatnya.

__ADS_1


"Anda masih sangat lemah, Nona Zella. Saya akan segera membawa anda ke kamar." ucap Geoffrey dan Zella hanya mengangguk pelan.


Granny sempat khawatir melihat Zella yang baru saja terlihat lebih segar kini sudah kembali terkulai lemas. Tetapi melihat kesigapan Geoffrey dan kedekatan mereka, membuat Granny sedikit tenang.


Mengangkat tubuh Zella membuat detak jantung Geoffrey berdegub sangat kencang dan tidak karuan. Terlebih saat Zella melingkarkan tangannya memeluk Geoffrey dan mulai memejamkan matanya.


Geoffrey memandangi wajah Zella yang sedikit pucat sambil menetralkan detak jantungnya yang masih bertalu-talu. Sampai di kamar Zella, Geoffrey langsung merebahkan Zella di atas tempat tidur dan menyelimutinya.


"Maaf merepotkan anda, Tuan." ucap Zella sedikit merasa tidak enak.


"Saya tidak merasa direpotkan sama sekali, Nona Zella." jawab Geoffrey yang mulai memberanikan diri memegang tangan Zella.


"Suhu tubuh anda meningkat, Nona Zella." ucap Geoffrey yang langsung beralih memegang kening Zella.


Geoffrey langsung mencari sesuatu untuk mengompres Zella. Tak lama kemudian Dokter Brian datang dan kembali memeriksa keadaan Zella.


Geoffrey pun keluar dari kamar Zella agar Dokter Brian dapat leluasa memeriksa Zella.


"Apa yang sedang kau fikirkan, Zella. Tidak biasanya kau seperti ini?" tanya Dokter Brian.


Zella akhirnya menceritakan bahwa ia sudah bertemu dengan Levi, sayangnya Levi tidak mengingat dirinya sama sekali.


"Apa yang membuatmu yakin jika dia adalah Levi?" tanya Dokter Brian.


"Dia memiliki tanda di leher kirinya dekat bahu, sama dengan Leviku. Aku memeluknya dan mengecek tanda itu benar-benar ada." jawab Zella.


"Kecelakaan itu membuat Levi kehilangan ingatannya, Zella. Tidak obat ada yang dapat menyembuhkannya kecuali ada orang di masa lalunya yang terus bersamanya untuk mengembalikan memorinya yang hilang." jelas Dokter Brian.


"Kehilangan ingatan?" tanya Zella. "Yaaa, Kak Levi hanya kehilangan ingatannya, Kak Levi tidak mungkin melupakan aku."


Dokter Brian menggelengkan kepalanya. "Tentu saja tidak, Zella." jawab Dokter Brian. "Dimana Levi sekarang?"


"Dia sudah kembali ke Berlin, Dokter." jawab Zella.


"Kau harus segera sembuh, kejarlah pelangimu agar sinar kebahagiaan mu terpancar, Zella." ucap Dokter Brian menyemangati Zella.

__ADS_1


"Terima kasih banyak dokter, aku akan mengejarnya." jawab Zella.


Setelah cukup memeriksa keadaan Zella, Dokter Brian pun keluar dari kamar Zella dan pamig pada Granpa dan Granny.


__ADS_2