Mengejar Pelangi

Mengejar Pelangi
Not Me, but Vanya


__ADS_3

Setelah kepergian Zella dan Tuan Geoffrey, Theo memutuskan untuk istirahat di kantin Kantor. Tetapi tiba-tiba ponselnya berdering dan terlihat Dokter Steffy sedang menelfonnya.


..."Hallo dokter, ada apa?" tanya Theo tanpa basa basi....


..."Theo, bisakah kau menemaniku mencari sesuatu untuk orang tuaku? Hari ini adalah ulang tahun pernikahannya." jawab Dokter Steffy....


..."Kapan?" tanya Theo sambil melangkahkan kakinya menuju ke kantin....


..."Bagaimana kalau sore ini? Kau ada waktu luang kan?" tanya Dokter Steffy meminta kepastian....


..."Baiklah, kita bertemu di pusat perbelanjaan saja. Sampai jumpa nanti." ucap Theo sambil memutuskan panggilannya....


Sesampainya di Kantin, Theo terus memikirkan Zella yang sedang berkencan dengan Tuan Geoffrey. "Hemmm, kenapa dia tidak mengirim pesan untukku?" tanya Theo dalam hati sambil membuka ponselnya.


Sedangkan Zella dan Geoffrey hanya mengobrol sebatas pekerjaan saja saat makan siang. Tidak ada tanda-tanda Tuan Geoffrey menaruh hati pada Zella, sebab semuanya sebatas ungkapan rasa terima kasih saja.


Setelah makan siang, Zella dan Geoffrey kembali ke kantor. "Sekretaris anda benar-benar sangat luar biasa, Nona Zella. Selain cekatan, dia sungguh sangat bertanggung jawab pada pekerjaannya. Sungguh sangat beruntung mendapatkan sekretaris seperti dia." ucap Geoffrey memuji Vanya di depan Zella.

__ADS_1


"Maksud anda, Vanya?" tanya Zella memastikan.


"Tepat sekali, Nona Zella." jawab Geoffrey sambil tersenyum membayangkan sekretaris Zella.


Zella kini melihat jika Tuan Geoffrey justru memiliki perasaan terhadap Vanya, sekretarisnya. Bukan pada dirinya.


"Vanya gadis yang sangat cantik bukan?" tanya Zella dan Geoffrey langsung menganggukkan kepalanya.


"Cantik, sayangnya terlalu monoton." jawab Tuan Geoffrey.


Ponsel Zella pun berdering dan Zella langsung menerima panggilan dari Azel.


..."Hallo kak, ada apa?." tanya Zella....


..."Granpa sakit, dan Granny memintamu pulang ke München. Aku akan segera menjemputmu di kantor. Aku sudah pesan tiket penerbangan." jelas Azel....


..."Baiklah. Aku tunggu." jawab Zella mengakhiri panggilannya....

__ADS_1


"Ada Apa Nona Zella?" tanya Geoffrey.


"Granpa sakit dan Granny memintaku untuk segera pulang." jawab Zella. "Emmm, begini Tuan Geoffrey, sesuai dengan perjanjian kita aku akan tetap membantu perusahaanmu bangkit. Bagaimana jika Vanya untuk sementara waktu mengantikan aku disini untuk membantumu?" tanya Zella yang terdengar memberikan lampu hijau pada Geoffrey untuk mendekati Vanya.


"Nona Zella, apa kau sungguh-sungguh dengan perkataanmu?" tanya Geoffrey memastikan tawaran gemilang dari Zella.


"Aku tidak pernah main main dengan ucapanku Tuan Geoffrey." jelas Zella yang kemudian menghubungi sekretaris nya untuk segera bersiap-siap untuk membantu pekerjaan Geoffrey di Berlin.


Vanya langsung menjawab pesan dari Zella bahwa besok ia kan tiba di Berlin sebelum jam kerja dimulai. Zella pun menyampaikan kesanggupan Vanya pada Tuan Geoffrey dan membuat senyum Geoffrey merekah dengan sangat lebar.


"Saya pasti akan membalas kebaikan anda, Nona Zella." ucap Geoffrey dengan nada yang sangat gembira. "Katakan apapun yang anda inginkan dariku, Nona."


"Hemmm, saya bukan menyerahkan sekretaris Vanya cuma cuma pada anda Tuan Geoffrey. Dia hanya menggantikan pekerjaan yang belum selesai saja dan itu hanya sementara. Bukan selamanya." ucap Zella membuat Geoffrey terkekeh malu.


"Jangan terburu-buru untuk mendekati Vanya, Tuan Geoffrey. Lakukanlah perlahan asalkan pasti." ucap Zella.


Kini mobil Geoffrey sudah sampai di depan Perusahaan Hilton. Zella pun segera naik ke ruangannya untuk bersiap-siap dan Geoffrey menyusul sedikit jauh dari Zella. Theo yang sudah selesai makan siang pun kini sudah berada di luar ruangan Direktur, tepatnya di meja kerjanya.

__ADS_1


__ADS_2