
Baru kali ini setelah enam tahun terlewati, Zella menikmati hari liburnya di kamar tanpa mengurus perusahaan sedikit pun. Bersandar di dada Levi sambil menonton film action kesukaan Zella.
Levi memainkan rambut Zella sambil menghirup aroma shampo yang Zella pakai. "Terima kasih sudah setia menantiku, selama enam tahun ini sayang." ucap Levi.
Zella memandang ke arah suaminya dan tersenyum. "Maafkan aku, telah membiarkan dirimu berjuang sendirian." ucap Levi membuat Zella mencubit pinggang suaminya.
"Simpan saja ucapan maaf Kak Levi. Aku tidak butuh itu." ucap Zella. Kali ini Levi diam saja menerima cubitan istrinya yang terasa perih di pinggangnya. Baginya rasa sakit itu tidak seberapa dibandingkan istrinya yang kehilangan dirinya selama enam tahun.
"Oh iya. Bagaimana bisa kak Levi terjebak oleh Dokter Steffy?" tanya Zella yang masih penasaran dengan cerita dari suaminya.
Levi yang sebenarnya enggan mengingat kejadian itu mau tidak mau menceritakan semuanya pada Zella secara detail tanpa ada sedikit pun yang di tutup-tutupi.
"Hemmm, seharusnya aku berterima kasih dengan Dokter Steffy, karena ulahnya suamiku jadi mengingat semuanya." ucap Zella sambil memainkan jari tangannya di dada Levi.
__ADS_1
"Hei, kenapa kau berterima kasih dengan orang yang sudah menjebakku, sayang?" tanya Levi mencubit hidung istrinya.
"Harusnya kau berterima kasih dengan Tuhan, yang telah mengembalikan ingatanku bagaimana pun caranya." jelas Levi membuat Zella terhenyak gembira mendengarnya.
"Baiklah, aku akan menuruti kata kata suamiku." ucap Zella sambil mengecup bibir Levi sekilas dan kembali memainkan jarinya di dada Levi.
Levi tersenyum melihat tingkah istrinya. Ia langsung memegang tangan Zella dan membalikkan posisinya. Kini tubuh Levi tepatbdi atas tubuh Zella.
"Kaaaak." panggil Zella saat Levi menatapnya lekat lekat.
Zella langsung menggelengkan kepalanya, "Tidak sekarang, Kak. Aku lelah." jawab Zella sambil menutup mukanya. Sudah tiga kali Levi mengajaknya bermain dan kini tubuh Zella benar-benar ingin istirahat.
"Benarkah?" tanya Levi menggoda Zella dengan memainkan tangannya di area sensitif Zella bagian atas. "Tapi aku sangat menginginkannya, sayang." ucap Levi sambil terus meraba dada istrinya.
__ADS_1
"Kaaak Leviiii." erang Zella sambil berusaha menyingkirkan tangan Levi.
Tiba-tiba pintu kamar Zella digedor berkali-kali dari luar hingga Levi menghentikan permainannya. "Aku akan membuka pintu, tetaplah disini sayang." ucap Levi sambil memakai kaosnya.
Levi segera membuka pintu dan melihat siapa yang datang. "Levi, Granpa anfal. Cepat kau bawa Zella turun." jelas Azel dan Zella langsung melompat dari tempat tidurnya dan segera memakai bajunya.
Dengan cepat Zella menarik tangan Levi dan mengikuti langkah kaki Azel ke kamar Granpa di bawah. Benar saja, seluruh anggota keluarga sudah berkumpul mengelilingi Granpa. Tampak Granny sudah terduduk lemas di samping Granpa, melihat keadaan suaminya dengan nafas tersengal sengal.
"Zel.. la." panggil Granpa yang suaranya hampir tidak terdengar.
"Gran.. pa.. sa.. ngat.. bah.. ha.. gia.. me.. lih.. hat.. mu.. bah.. ha.. gia." ucap Granpa terbata-bata. "Te.. rus.. lah ba.. ha.. gia sa.. yang." ucap Granpa dan tangan kirinya Zella terus menggenggam tangan Granpa, sedangkan tangan kanannya menggenggam tangan Granny.
Mata Zella berkaca-kaca mengingat Granpa adalah orang terdekat yang selama ini ada bersama Zella. Tiba-tiba Granny menyebut nama Tuhannya dan kemudian terjatuh di pangkuan Zella dan membuat Zella sangat terkejut dan meneteskan air matanya. Granny justru lebih dulu menghembuskan nafas terakhirnya.
__ADS_1
Tak lama kemudian Granpa menyusul Granny dengan cara yang hampir sama dengan Granny membuat Zella tak mampu membendung kesedihannya. Dua sejoli yang selalu menemani Zella saat terpuruk kehilangan Levi kini sudah meninggalkan Zella selama-lamanya. Dan tepat saat Levi kembali menemani Zella.
Dokter pribadi Keluarga Zella baru saja datang dan memastikan bahwa Granpa dan Granny benar-benar sudah tiada. Pemakaman Granpa dan Granny pun secepatnya diurus dan dilaksanakan. Levi terus menguatkan dan mendampingi Zella yang terus diam terduduk lemas. Hingga malam hari tiba, Zella masih bungkam tidak mengucapkan sepatah kata pun.