Mengejar Pelangi

Mengejar Pelangi
Kisah Theodore


__ADS_3

Theo terus mondar mandir di ruang tengah menunggu kepulangan Zella. Dilihatnya jam dinding terus bergeser dan menunjukkan waktu senja sudah terlewat. Mobil Azel masuk ke halaman mansion Geoffrey mengantarkan Zella pulang. Mendengar suara mobil Azel membuat Theo sangat lega dan langsung membukakan pintu untuk Zella.


"Masuklah! Levimu sudah menunggu." ucap Kak Azel yang bersiap-siap untuk pulang.


"Thanks buat hari ini. Hati hati yaaa. Kabarin aku kalau udah sampai." ucap Zella melambaikan tangannya.


Zella kemudian berbalik dan masuk ke dalam Mansion tanpa menghiraukan Theo. Merasa diacuhkan oleh Zella, Theo tidak tinggal diam. Diikutinya langkah Zella yang menuju ke kamar dan Theo menahan pintu kamar Zella saat Zella hendak menutupnya. Dengan cepat Theo masuk ke kamar Zella dan langsung menguncinya.


Zella sedikit terkejut dengan keberanian Theo kali ini. Terlebih saat Theo berani mengunci tubuhnya di dinding samping pintu. Nafas Zella memburu saat Theo sudah tak berjarak dengannya.


"Ku mohon, maafkan aku, Zella." ucap Theo yang mulai berani memanggil Zella tanpa embel-embel - Nona -.


"Maafkan aku yang mengacuhkanmu berhari-hari hanya karena mengikuti saran dari terapisku." Ucap Theo memandangi Zella.


"Kau memanggilku apa?" tanya Zella.


"Zella," ucap Theo yang terdengar dengan nada khasnya saat dulu saat Zella masih menjadi mahasiswinya.


"Aku akan memaafkan mu asalkan kau ceritakan tentang dirimu, Theo." pinta Zella sambil mencoba melepaskan tangan Theo yang mengunci tubuhnya di dinding.


Theo teringat pesan Geoffrey dan Dokter Steffy untuk tidak menceritakan tentang dirinya pada orang lain. Tetapi dia tidak bisa menolak permintaan dari wanita yang belakangan ini sangat mengusik hati dan fikirannya. Tanpa ragu, Theo pun menyetujui permintaan Zella.


"Baiklah, aku akan menceritakan tentang diriku. Aku akan menunggumu di taman." ucap Theo yang kemudian keluar dari kamar Zella.

__ADS_1


Setelah Theo keluar dari kamarnya, Zella pun segera membersihkan dirinya. Setelah itu Zella keluar dari kamarnya dan menuju ke taman untuk menemui Theo. Di taman, tampak Theo sedang menyiapkan beberapa menu makan malam di meja taman dilengkapi lilin di sekelilingnya.


"Kau menyiapkan semuanya?" tanya Zella dengan raut wajah gembira.


"Sebagai permintaan maafku, Zella. Setidaknya untuk mengawali emmm....." Theo sedikit menahan kalimatnya sambil berfikir kata apa yang pantas ia lontarkan pada Zella.


"Awal pertemanan kita?" Zella langsung menyela kalimat Theo.


Theo mengernyitkan dahinya, sebenarnya bukan itu yang ia inginkan. "Hemmm, bisa dikatakan begitu." jawab Theo sambil menarik kursi untuk Zella.


"Waaah, malam ini aku merasa seperti Sang Putri." celetuk Zella dengan wajah yang berbinar. "Apa kau melakukan hal ini kepada semua wanita, Theo?" selidik Zella.


"Tentu saja tidak. Mungkin ini adalah pertama kalinya aku melalukan ini." jawab Theo sambil mengambilkan makanan untuk Zella. "Makanlah dahulu, aku tahu kau pasti lelah."


Zella langsung memotong daging steak dan memasukkannya ke dalam mulut. "Aku memang sangat lelah, tapi aku sangat bahagia hari ini. Aku tahu, kau juga pasti sedang bahagia bukan?" tanya Zella seolah mengingatkan apa yang ia lihat saat di Potsdamer Platz.


"Benarkah?" tanya Zella. "Jujur saja, aku sedikit penasaran jawaban apa yang kau berikan atas lamaran yang diungkapkan Dokter Steffy. Sepertinya sebentar lagi aku akan mendapat undangan pernikahan dari teman baruku." celoteh Zella dan Theo hanya menanggapi dengan santai.


"Kau penasaran atau cemburu?" tanya Theo membuat Zella langsung membelalakkan matanya.


"Cemburu???!!! Mana ada aku cemburu." jawab Zella dengan rona wajah yang sudah mulai memerah. "Lagipula apa hakku untuk cemburu? Aku hanya heran saja dengan asisten Tuan Geoffrey ini. Sebenarnya siapa yang jadi tambatan hatinya. Beberapa waktu lalu, berpacaran dengan Paula. Tapi hari ini, dilamar oleh Dokter Steffy." celoteh Zella panjang lebar sambil menikmati steaknya.


Theo tersenyum tipis melihat perubahan rona wajah Zella. Ia mulai memberanikan dirinya menyentuh pipi Zella yang sedikit memerah. "Aku tidak pernah berpacaran atau berhubungan dengan wanita mana pun. Entah mengapa sejak bertemu denganmu, aku hanya ingin kau menjadi wanitaku, Zella. Meskipun itu adalah hal yang tidak mungkin terjadi." jawab Theo membuat Zella menjatuhkan garpunya.

__ADS_1


"Maaf jika malam ini aku lancang atau gegabah. Aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku pada teman baruku, bukan pada atasanku." ucap Theo dan Zella masih terdiam sambil memandangi Theo.


Theo melepaskan tangannya dari pipi Zella dan kemudian menyuapi Zella. "Selama enam tahun ini, aku tidak pernah dekat sedikit pun dengan seorang wanita. Paula bukanlah kekasihku, melainkan ia adalah kekasih Tuan Geoffrey. Dokter Steffy juga bukan siapa-siapa bagiku. Ia hanyalah dokter pribadi Tuan Geoffrey yang kebetulan terapis untukku." jelas Theo sambil menyuapi Zella.


"Aku mengalami hilang ingatan, Zella. Enam tahun yang lalu, Tuan Geoffrey dan Paula menemukan aku terdampar di tepi Sungai Eisbach dalam keadaan pucat dan membiru. Jika terlambat sedikit saja Tuan Geoffrey tidak menyelamatkan aku, mungkin aku sudah mati." ungkap Theo membuat mata Zella mulai berkaca-kaca.


"Tuan Geoffrey membawaku ke rumah sakit terdekat dan aku segera diberi penanganan yang paling terbaik. Padahal saat itu, aku bukanlah siapa siapa untuknya."


"Setelah menjalani pengobatan selama dua minggu, akhirnya aku diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Sayangnya aku tidak ingat lagi siapa diriku. Dengan tangan terbuka, Tuan Geoffrey menerimaku untuk tinggal bersamanya. Dia memberiku nama Theodore, karena menganggapku sebagai berkah dari Tuhan."


"Awalnya aku hanyalah seorang supir di Mansion besar ini, tapi karena pernah suatu hari aku mendampingi dan membantu Tuan Geoffrey. Sejak saat itu aku diangkat menjadi asisten dan orang kepercayaannya hingga sekarang."


"Mulai saat itu, aku memiliki pendirian untuk menyerahkan seluruh hidupku membalas budi kebaikan Tuan Geoffrey tanpa terlintas di benakku untuk memikirkan seorang wanita. Bahkan aku tidak ingin ingatanku kembali agar aku bisa terus membalas budi. Tapi setelah bertemu denganmu, pendirianku mulai goyah, Zella."


"Entah mengapa aku sangat ingin selalu bersama denganmu, di dekatmu, dan aku mulai gusar saat jauh denganmu, Zella. Meskipun aku tidak juga tidak tahu, kenapa setiap dekat denganmu, kepalaku sering sakit dan dadaku sesak. Hingga terapisku memberi saran untuk menjauhimu demi kebaikanku. Tetapi aku sangat menyesal telah menuruti saran dari terapisku untuk menjauhimu."


"Aku mencintaimu, Zella. Dan aku tidak bisa menggapaimu atau memilikimu untuk menjadi wanitaku." ucap Theo dengan suara yang sangat berat.


Zella yang dari tadi bungkam pun akhirnya buka suara. "Kenapa, Theo?"


"Karena Tuan Geoffrey juga sangat menginginkanmu untuk menjadi wanitanya. Aku tidak ingin mengkhianatinya. Ia sudah menyelamatkan hidupku enam tahun yang lalu."


Zella kini tak sanggup membendung air matanya. Berat dan sangat berat. Itulah yang kini Zella rasakan. Ia sangat bersyukur bahwa Theo benar-benar Levi miliknya. Tapi mengingat Levi selamat karena Tuan Geoffrey menjadikan sebuah dilema terbesar yang kini ada di hadapannya.

__ADS_1


Theo mengusap air mata yang membasahi pipi Zella. "Jangan menangis Zella, kau tak perlu bersedih mendengarkan kisah hidupku. Aku hanya mengungkapkan perasaanku saja. Jika kau mencintai Azel, aku akan dukung asal itu membuatmu bahagia. Aku juga tak akan memaksamu untuk mencintai Tuanku Geoffrey." ucap Theo membuat Zella makin terisak.


Theo yang tidak paham alasan Zella menangis pun berdiri dan berpindah memeluk Zella. Dengan erat Zella membalas pelukan Theo membuat Theo makin berat untuk merelakan Zella.


__ADS_2