
Zella melepaskan pelukan Theo dan menyeka air matanya.
"Theo, apa kau sungguh tak mengingat diriku?" tanya Zella menatap Theo sendu. Kata kata membuat Theo berfikir tentang Zella di masa lalunya. Tapi lagi lagi Theo harus kembali merasakan sakit di kepalanya.
Zella langsung khawatir melihat Theo tampak kesakitan memegangi kepalanya. Ia pun menuntun Theo dan mengajaknya masuk ke dalam Mansion. "Sepertinya kau butuh istirahat, Theo." ucap Zella mengantarkan Theo sampai depan kamarnya.
"Istirahatlah, besok kita akan mengobrol lagi." ucap Zella meninggalkan kamar Theo.
"Maafkan aku, Zella." ucap Theo dan Zella hanya mengangguk sambil berjalan ke kamarnya. Zella langsung membaca beberapa artikel tentang kehilangan ingatan.
"Sepertinya sakit kepala dan rasa sesak di dada Theo ada hubungannya dengan aku yang merupakan masa lalunya." gumam Zella. "Makin Theo mencoba mengingat masa lalunya, maka makin sering rasa sakit itu datang." Zella mencoba menerka nerka apa yang terjadi pada suaminya sendiri.
Zella terus memikirkan tentang cara untuk lebih dekat dengan Theo tanpa harus mengungkit masa lalunya. Minggu depan Geoffrey berencana kembali ke Berlin untuk mempelajari sistem baru yang Zella terapkan di perusahaannya. Bermakna waktu Zella tinggal seminggu lagi untuk mendekati Theo.
Setelah mendapatkan beberapa ide, Zella pun merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan mulai memejamkan matanya.
...***...
Saat tengah malam, Zella terbangun dari tidurnya karena haus. Ia pun pergi ke pantry untuk menghilangkan dahaganya. Tepat saat Zella turun dan menuju ke pantry, dilihatnya Theo masih terjaga di depan televisi.
"Kau terbangun, Zella?" tanya Theo mengecilkan volume televisi.
"Aku haus." jawab Zella sambil mengambil minuman di lemari pendingin. "Kau belum tidur? Apa kau sudah merasa lebih baik?" tanya Zella.
"Aku memang susah tidur dari dulu. Terlebih tiga malam belakangan ini. Insomniaku makin menjadi-jadi." jawab Theo.
Zella langsung berjalan mendekati Theo dan duduk di sampingnya. Theo sedikit tergagap melihat Zella mendekatinya. "Aku bisa membantumu tertidur." ucap Zella dan Theo langsung menggelengkan kepalanya.
"Jangan berfikiran yang tidak tidak! Kau temanku, bukan? Aku hanya akan membantumu sebagai teman." jelas Zella yang sangat paham dengan Theo.
Zella langsung memberi kode Theo untuk meletakkan kepalanya di pangkuan Zella. Dengan sedikit ragu ragu, Theo pun mengikuti perintah Zella. Setelah Theo berada dalam pangkuannya, Zella langsung mengusap kepala Theo perlahan dan membuat rasa kantuk Theo pun datang. Tanpa menunggu lama, Theo pun akhirnya terlelap di pangkuan Zella.
__ADS_1
Melihat Theo yang sudah terlelap, membuat Zella tersenyum dan menyandarkan tubuhnya di sofa. Ia pun mengambil ponselnya dan sengaja mengambil gambar Theo yang sedang tertidur. Setelah itu Zella menyandarkan kepalanya di sofa dan ia pun tertidur.
...***...
Pagi harinya, Theo lebih dulu bangun dari pada Zella. Ini kedua kalinya ia merasa tidurnya sangat nyenyak. Tanpa fikir panjang, ia langsung menggendong Zella dan membawanya ke dalam kamar Zella.
Theo terus memandangi Zella sambil merebahkan tubuh Zella di atas tempat tidur. Zella terlihat sangat cantik meskipun sedang tertidur. Setelah puas memandangi wajah Zella, ia pun memutuskan untuk keluar dari kamar Zella.
Sayangnya tangan Zella sudah melingkar di leher Theo dan membuat Theo tidak bisa pergi kemana-mana. "Apa tidurmu nyenyak?" tanya Zella dan Theo langsung menganggukkan kepalanya.
"Sangat nyenyak, thanks Zella." jawab Theo.
"Aku akan menjadi teman tidurmu mulai malam ini." ucap Zella sambil memainkan kedua alisnya.
"Tawaran yang tidak bisa aku tolak, Zella." jawab Theo. "Apa kau tidak takut tidur satu ranjang denganku?"
"Tentu saja tidak. Aku sangat mempercayaimu, Theo." jawab Zella yang kemudian melepaskan tangannya dari leher Theo. "Bersiaplah, aku juga akan segera bersiap-siap." perintah Zella membuat Theo mengernyitkan dahinya.
"Aku hanya ingin merayakan hari pertemanan kita. Ajak aku berkeliling Berlin." pinta Zella sambil masuk ke dalam kamar mandi.
Mendengar permintaan Zella, muncul perasaan gembira di hati Theo. Ia pun segera kembali ke kamarnya dan membersihkan dirinya. Kali ini, ia tidak mau menyia-nyiakan waktu berharganya bersama Zella. Meskipun pada akhirnya ia harus merelakan Zella untuk yang lain, setidaknya ia pernah memiliki kenangan bersama wanita yang sangat ia cintai.
...***...
Setelah menyelesaikan sarapannya, Theo langsung mengajak Zella berkeliling kota Berlin. "Bagaimana kencanmu bersama Azel kemarin?" tanya Theo sambil mengemudikan mobilnya. "Katakan padaku, apa yang kau suka dari laki-laki yang bernama Azel itu."
"Cemburu yaaa?" bukan menjawab pertanyaan Theo, Zella justru menggodanya.
"Hemmm, aku akan merasa cemburu jika kau itu kekasihku, Zella." jawab Theo sambil mengacak acak rambut Zella.
"Kau ini mulai tidak sopan ya dengan Direktur Muda." ucap Zella sambil merapikan rambutnya.
__ADS_1
"Hei, bukankah kita ini sedang berteman jika di luar kantor? Kau ini gadis muda yang pelupa." ledek Theo.
"Bukan aku yang pelupa, tapi kau Theo." ucap Zella mencubit pinggang Theo.
"Aaaawhhh, sakit Zellaaaaa." teriak Theo. Tapi karena cubitan Zella barusan membuat Theo mulai mengingat kebersamaannya dengan seorang wanita yang juga sering mencubit pinggangnya.
Keduanya saling bercanda hingga mobil Theo masuk ke dalam gerbang KaDeWe, Mall terbesar di Berlin.
"Mau berkencan denganku?" tanya Theo dan Zella langsung menganggukkan kepalanya.
Setelah turun dari mobil, Theo terus menggenggam tangan Zella menyusuri beberapa tempat yang membuat para wanita ingin menghabiskan uangnya untuk berbelanja. Tetapi tidak bagi Zella yang memang tujuannya hanya menghabiskan waktu bersama Theo.
Kini Theo mengajak Zella ke kedai Ice Cream dan beristirahat di sana.
"Zella, apa kau tidak ingin berbelanja?" tanya Theo sedikit heran melihat Zella tidak tertarik sedikit pun untuk membeli sesuatu.
"Belanja?" tanya Zella balik. "Sepertinya belum ada yang aku butuhkan saat ini." jawab Zella sambil menikmati ice cream yang ada di hadapannya.
Mendengar jawaban Zella, membuat Theo makin kagum dengan Zella. "Siapa pun yang berhasil mendapatkan hatimu, ia pasti adalah lelaki yang sangat beruntung, Zella. Ceritakan padaku, lelaki seperti apa yang kau cintai!"
"Kau sungguh ingin tahu?" tanya Zella memastikan dan Theo pun mengangguk.
"Sebenarnya aku sudah menikah dengan seorang dosen saat awal kuliah dulu." ucap Zella mengawali ceritanya sambil tetap menikmati Ice Creamnya. "Tapi karena suatu hal, dia menghilang tanpa kabar. Semua keluarga besarnya sudah menganggap suamiku meninggal, tapi bagiku dia masih hidup dan akan terus selalu bersamaku." ucap Zella membuat Theo sedikit tercekat dengan pengakuan Zella.
Baru sedikit mendengarkan cerita dari Zella membuat dada Theo tiba-tiba merasa sesak. Cepat cepat Theo mengatur nafasnya dan mengkondisikan tubuhnya.
"Are you okay, Theo?" tanya Zella yang sudah menduga Theo pasti akan mengalami sesak atau sakit kepala saat mendengarkan ceritanya.
"Minumlah." Zella menyodorkan minuman ke Theo. "Aku akan melanjutkan ceritaku nanti lagi."
Theo merasa tidak enak dengan Zella, ia pun menerima minuman dari Zella dan meneguknya perlahan.
__ADS_1