Mengejar Pelangi

Mengejar Pelangi
Can't Kiss You


__ADS_3

"Aku sudah lebih baik, Zella. Lanjutkan saja ceritamu." pinta Theo dan Zella langsung menggelengkan kepalanya.


"Lain kali saja, Theo. Bagaimana jika kita menonton bioskop? Sepertinya filmnya menarik." ajak Zella sambil menarik tangan Theo.


"As your wish, Zella." jawab Theo mengikuti langkah Zella.


Setelah Zella menentukan film yang akan ia tonton bersama Theo, ia pun pergi ke toilet dan Theo membeli tiket serta beberapa minuman dan makanan.


Sampai di toilet, Zella segera menuntaskan keinginannya dan mengecek penampilannya di depan kaca.


"Hai Direktur Muda, bagaimana keadaan anda?" tanya Steffy yang baru saja keluar dari toilet.


"Hai, Dokter Steffy. Aku sudah lebih baik sekarang." jawab Zella.


"Apakah anda datang bersama Theo?" tanya Steffy dan Zella hanya menganggukkan kepalanya dan segera beranjak meninggalkan Dokter Steffy.


"Tunggu, Nona Zella. Bisakah kita berbicara sebentar?" tanya Steffy sambil memegang tangan Zella dan mencegahnya pergi.


"Ada apa Dokter Steffy? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Zella


"Saya hanya ingin bertanya, apakah Nona Zella pernah melihat Theo dekat dengan seorang wanita? Di perusahaan mungkin, atau bahkan Theo pernah membawanya ke Mansion Tuan Geoffrey?" tanya Steffy.


"Maaf Dokter Steffy, saya tidak pernah tahu kehidupan Theo. Coba nanti anda tanyakan sendiri padanya." jawab Zella yang terus meninggalkan Steffy sendirian.


"Hemmm, tentu saja Direktur Muda tidak tahu tentang Theo. Bahkan mungkin saja ia baru mengenal Theo dibandingkan aku." gumam Steffy sambil merapikan rambutnya.


"Tapi kenapa Direktur Muda justru pergi ke tempat seperti ini dengan Theo? Atau jangan jangan mereka memang ada hubungan?" tanya Steffy dalam hati sambil menerka-nerka. "Huh, Sepertinya tidak. Aku rasa selera Direktur Muda bukan Theo." gumam Steffy yang kemudian melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi.


Zella dan Theo kini sudah ada dalam ruang bioskop. Tanpa menunggu lama, kini mereka sudah menikmati film yang Zella pilih. Tapi ternyata Theo lebih menikmati memandang wajah Zella daripada menonton film yang diputar.


Zella menoleh ke arah Theo yang masih fokus memandanginya membuat Theo sedikit tergagap. "Hei, apa ada yang salah?" tanya Zella.


"Hemmm, Iya. Ada." Theo menyentuh pipi Zella dan mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Zella.


"Kau sangat cantik, Zella." bisik Theo di telinga Zella hingga membuat Zella sedikit meremang.

__ADS_1


Zella mencengkeram lengan Theo, sayangnya Theo sudah makin dekat dengan Zella. "Bolehkah aku menciummu, Zella?" tanya Theo dan Zella langsung menggelengkan kepalanya.


"Kau tak akan bisa menciumku, Theo." jawab Zella. Theo tetao mendekatkan bibirnya pada bibir Zella. Benar saja, kepala Theo langsung terasa sakit saat bibirnya hampir saja bersentuhan dengan bibir Zella.


Rasa sakit di kepala Theo makin tak tertahankan hingga akhirnya Theo menyerah untuk mendapatkan bibir Zella. "Kau benar Zella." ucap Theo sambil memundurkan tubuhnya dari tubuh Zella.


Zella hanya tersenyum dan kembali menikmati filmnya, Zella menjadi tidak tega dengan keadaan Theo. Ia pun menggenggam tangan Theo hingga film yang diputar pun usai.


Theo yang tangannya digenggam Zella, berangsur angsur sakit di kepalanya pun hilang. Kini mereka memutuskan untuk kembali ke Mansion setelah menonton bioskop. Dalam perjalanan pulang, Zella terlihat lebih diam hingga membuat Theo bertanya - tanya.


"Maafkan aku Zella," ucap Theo dan Zella menatap Theo sambil tersenyum.


"Untuk apa?" tanya Zella.


"Atas kelancanganku tadi, aku tau kau pasti sangat mencintai suamimu kan. Dia juga pasti sangat mencintaimu, Zella. Hingga aku saja tidak mampu menciummu." jawab Theo yang masih fokus menyetir mobilnya.


Zella hanya terkekeh mendengar jawaban Theo. "Kau ini terlalu berhalusinasi." ucap Zella tanpa menjelaskan apa pun pada Theo.


"Zella, hanya kau satu satunya wanita hang dapat membuat hatiku bergetar." ucap Theo jujur.


"Bolehkah aku melihat foto suamimu, Zella?" tanya Theo dan Zella langsung menganggukkan kepalanya.


Zella langsung membuka ponselnya. Sayangnya saat hendak menunjukkan foto Levi pada Theo, ponsel Zella langsung mati kehabisan baterai.


"Ups, ponselku mati. Apa ada pengisi daya dimobilmu, Theo?" tanya Zella dan Theo langsung menggelengkan kepalanya.


"Tidak ada, Zella. Hemmm. Sepertinya arwah suamimu tidak mengizinkan aku melihat fotonya." ucap Theo membuat Zella memukul lengan Theo dengan sangat kencang.


"Hei, dia belum mati Theo. Aku sedang berusaha membuatnya kembali." pekik Zella marah.


"Oke oke, maafkan aku Zella. Baiklah kalau begitu, bagaimana jika aku membantumu mencari suamimu? Aku juga bisa menjadi seorang detektif cinta untuk teman perempuanku." ucap Theo merayu Zella agar memaafkannya.


Zella hanya diam membuang mukanya keluar jendela mobil. Rasa kesal benar-benar menyelimuti dirinya. Bagaimana bisa Theo berbicara hal yang sangat tidak masuk akal baginya. Zella pun berfikir keras karena waktunya untuk bersama dengan Theo hanya tinggal satu minggu lagi sebelum Geoffrey kembali ke Mansionnya.


"Zella, maafkan aku." ucap Theo sungguh-sungguh.

__ADS_1


"Hemm," jawab Zella singkat.


Kini mobil Theo sudah sampai di gerbang Mansion Geoffrey. Zella langsung turun dari mobil dan masuk ke dalam Mansion. Theo makin merasa bersalah dengan Zella. Tak lama kemudian ponselnya berdering dan muncul nama Geoffrey di layar ponselnya.


"Halo Tuan Geoffrey, ada yang bisa saya bantu?" tanya Theo menjawab panggilan dari Geoffrey.


"Kau ada dimana Theo, aku menghubungi Zella hanya saja ponselnya sedang mati." ucap Geoffrey.


"Apa ada yang ingin anda sampaikan, Tuan? Atau anda ingin berbicara dengan Nona Muda?"tanya Theo.


"Begini, Theo. Sampaikan padanya agar tetap berada di Mansionku selama dia tinggal di Berlin ini." ucap Geoffrey.


"Saya akan menjaga Nona Muda untuk anda, Tuan Geoffrey." ucap Theo yang seketika dadanya langsung terasa sesak.


"Oh, terima kasih Theo. Beberapa hari ke depan aku akan tiba di Berlin untuk memberikan kejutan padanya. Jangan beritahu dia." pinta Geoffrey membuat rasa sesak di dada Theo makin terasa.


"Baik, Tuan." jawab Theo.


"Baiklah, Theo. Sampaikan salam padanya. Jangan lupa katakan pada Nona Zella untuk menghubungiku saat ponselnya sudah aktif." ucap Geoffrey mengakhiri panggilannya.


Theo pun segera masuk ke dalam Mansion dan berjalan ke arah kamar Zella. Ia segera mengetuk pintu kamar Zella.


"Ada apa Theo?" tanya Zella melihat Theo sudah berdiri di depan kamarnya.


"Begini Nona Zella, tadi Tuan Geoffrey menelfon saya karena ponsel anda mati. Sepertinya ada yang ingin Tuan Geoffrey sampaikan pada anda, Nona." jawab Theo.


"Hei, kenapa kau cepat sekali berubah Theo?" tanya Zella menepuk dada Theo. "Kita berteman bukan? Kenapa cara bicaramu cepat sekali berubah padaku?" kini Zella menarik kerah baju Theo seperti hendak adu jotos.


"Aku hanya takut terlalu terbiasa saat nanti Tuan Geoffrey kembali ke Berlin." jawab Theo.


Zella langsung menghempaskan tubuh Theo dan menutup pintunya dengan kencang.


"Waooow, aku sungguh tidak mengira jika Zella benar-benar wonder woman." ucap Theo sambil merapikan kerah bajunya.


Zella kembali membuka pintu kamarnya dan menarik Theo masuk ke dalam kamarnya. Theo yang masih terkejut hanya ikut saja dengan tarikan Zella.

__ADS_1


__ADS_2