Mengejar Pelangi

Mengejar Pelangi
Tebakan Zella


__ADS_3

Keesokan harinya, Zella sudah siap untuk berangkat ke kantor. Meski dengan perdebatan antara ia dan Levi terlebih dahulu. Levi hanya ingin Zella beristirahat di usia kandungannya yang masih muda, sedangkan Zella tetap keukeh ingin berangkat ke kantor karena ada beberapa hal yang harus ia kerjakan.


"Dek, lagi hamil muda loh kamu. Mendingan di rumah aja deh sama kakak. Toh kak Azel sama Levi juga siap handle perusahaan kan selama kamu hamil." ucap Lily, kakak ipar Zella yang pagi ini sudah menyiapkan sarapan untuk semuanya.


"Iya nih Zella. Gak percaya banget sama kakak." tukas Azel kesal.


"Bukan gak percaya kaak. Ada satu hal yang harus aku selesaikan di kantor. Aku juga akan pulang cepet kok. Iya kan, sayang?" jawab Zella yang kemudian minta persetujuan kepada Levi.


Levi yang sudah dari bangun tidur tidak menghendaki Zyva berangkat ke kantor pun hanya menjawab dengan dehemannya.


"Putri papa ini memang tidak pernah berubah. Dari dulu memang keras kepala." timpal papa Green. "Sebenarnya urusan apa yang mau kamu selesaikan sayang?" tanya papa Green pada putrinya.


"Aku yakin, hari ini Uncle Tom pasti akan menemuiku dan mengubah permintaannya." ucap Zella sambil memakan sarapannya. "Dan aku akan menghadapinya kali ini karena aku sudah memprediksikannya jauh jauh hari. Terlebih Renata sudah menemui kita semua, kemarin."

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu, aku akan mengantarmu pulang setelah kau selesai mengurus urusan Uncle Tom, sayang." ucap Levi dan Zella langsung mengangguk setuju.


Setelah menghabiskan sarapannya, Azel, Levi dan Zella berangkat bersama menuju ke kantor. Ternyata benar ucapan Zella, Uncle Tom sudah menunggu di Loby saat mereka tiba di kantor. Levi dan Azel tidak mau ikut campur dalam masalah Uncle Tom dan Zella. Keduanya hanya sebagai back up saja di belakang Zella jika suatu saat Zella membutuhkan bantuan.


"Hai Uncle, it is too morning to see you, here. What can I do for you?" tanya Zella sambil melangkahkan kakinya menuju ruangannya.


"Ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan padamu, Zella. Bisakah kita bicara di ruanganmu?" tanya Uncle Tom.


"Baiklah. Tapi aku tidak punya banyak waktu, Uncle." jawab Zella.


"What's wrong with you, Uncle?" tanya Zella to the point.


"Aku minta maaf padamu Zella jika kali ini aku gegabah dalam mengambil keputusan dan plin plan. Aku menarik kata-kataku kemarin, izinkan aku tetap bekerja denganmu di perusahaan ini."

__ADS_1


"Aku juga akan mengembalikan semua uang yang kau kirimkan padaku, Zella."


"Tidak semudah itu, Uncle. Apa kau tidak memahami Surat Keputusan yang sudah kau setujui dan tanda tangani? Semua sudah sah di mata hukum, mana mungkin aku merubahnya lagi. Aku juga tidak mau mempermainkan hukum di negara yang aku tempati."


"Tapi Zella, bukankah kau punya kuasa untuk mengubah suatu keputusan di perusahaanmu sendiri meskipun semuanya memang terkait dengan hukum?"


"Benar, Uncle. Tapi Surat Keputusan yang aku buat untuk Uncle sudah paten danbtidak bisa diubah lagi."


"Oh My God, Zella. Aku mohon tolonglah aku sekali lagi. Renata sangat ingin memperbaiki hubungannya denganmu. Ia tidak ingin meninggalkan kota ini." ucap Uncle Tom memohon.


"Hanya ada satu cara yang aku sematkan dalam Surat Keputusan itu Uncle. Bacalah di lembar ke lima." ucap Zella sambil kembali membuka Surat Keputusan yang ia buat untuk Uncle Tom.


Betapa terkejutnya Tom setelah mengetahui bahwa sejumlah uang fantastis yang diberikan Zella kepadanya tidak lain adalah harga jual Rumah dan Mobil yang ia miliki selama bekerja di GA Corporation. Sekarang Rumah dan Mobil yang ia gunakan tidak lain adalah milik Perusahaan GA Corporation. Dengan kata lain, ia kini tidak memiliki hak apapun lagi dalam perusahaan Zella.

__ADS_1


Tidak hanya itu, jumlah uang yang ia terima juga hanya bisa membeli ruko dan membangun bisnisnya sendiri dari nol jika ia tetap ingin tinggal di kota ini.


__ADS_2