
Tidak ada pergerakan sedikit pun dari Theo, sedangkan Steffy sudah mulai meraba raba tubuh Theo dan seketika membuat hasrat Steffy membara.
"Aku benar-benar menginginkanmu malam ini Theo." bisik Steffy yang kini sudah berada di atas tubuh Theo. Lukisan bibir Steffy kini telah memenuhi tubuh Theo, sayangnya Theo yang masih dalam pengaruh obat bius hanya diam saja.
Hampir satu jam mencumbu tubuh Theo membuat Steffy mulai geram.
"Sial, dia sama sekali tidak sadar." gerutu Steffy. "Aku justru seperti mencumbu mayat hidup saja, bahkan si otong milik Theo sama sekali tidak Turn ON." ucap Steffy kesal karena hasrat yang awalnya membara pun kini jadi sirna begitu saja.
Dengan kesal Steffy turun dari tubuh Theo dan mulai berbaring lagi di samping Theo. Ia pun kembali membuka ponsel milik Theo dan mulai membuka chat milik Theo. Steffy membelalakkan matanya saat membaca pesan yang Theo kirimkan kepada Zella.
"Kurang ajar!!!" pekik Dokter Steffy. "Ternyata Direktur Muda sudah mencuri start dariku." gerutu Dokter Steffy dengan sangat kesal.
Ia pun langsung mengirim foto Theo yang sedang berdua dengannya ke nomor ponsel milik Zella, dan tentunya Steffy mengirim gambar tersebut lewat ponsel milik Theo. Setelah terkirim, Steffy pun menyimpan ponsel Theo di atas nakas dan ia pun merebahkan kepalanya tepat di atas dada bidang Theo. Tanpa menunggu lama, Steffy pun tertidur dengan memeluk tubuh Theo.
...***...
__ADS_1
Di München, Zella dan Azel sudah tiba di Mansion milik Granpa dan Granny. Mereka berdua langsung menemui Granpa yang sedang istirahat dengan wajah yang tampak sangat pucat. Disampingnya ada Granny yang terlihat sedikit lelah karena mengurus segala keperluan Granpa.
"Bagaimana keadaan Granpa?" bisik Zella sambil memeluk Granny.
"Granpa mulai berbicara yang tidak jelas. Ia menginginkan untuk dimakamkan di Indonesia. Hal yang aneh bukan? Apa dia tidak berfikir bagaimana diriku jika ditinggalkan olehnya." jawab Granny yang mulai menitikkan air matanya.
"Maksud Granpa bukan berarti ia ingin cepat dikuburkan Granny. Jangan salah paham dulu, Granpa hanya ingin menghabiskan masa tuanya di Indonesia." jelas Zella menghibur Granny-nya meskipun jauh direlung hatinya, ia sangat bersedih mendengar cerita Granny.
"Kau benar Zella, kenapa aku justru tidak bisa memahaminya kali ini." ucap Granny yang terdengar mulai bersemangat.
Azel terlihat duduk di samping Granpa dan memegang tangannya. "Cepatlah pulih Granpa, aku akan membawamu berlibur ke Indonesia." bisik Azel membuat Granpa membuka matanya perlahan.
"Tentu saja, Granpa. Asalkan Granpa harus cepat sembuh." ucap Zella sambil mengusap lengan Granpanya.
Granpa hanya mengangguk dan rona wajahnya terlihat sangat bahagia hingga wajah pucat yang tadi Zella lihat kini sudah tidak nampak lagi.
__ADS_1
"Makanlah dulu jika ingin segera sembuh, jika tidak aku tidak akan mengizinkanmu kembali ke Indonesia." ucap Granny sambil mengambilkan makan untuk Granpa dan siap untuk menyuapinya.
"Baiklah bidadariku sayang. Aku akan menuruti perkataanmu." jawab Granpa sambil membuka mulutnya.
"Uuuluuuuh, You're So Sweet, Granpaa." ucap Zella sambil memeluk lengan Granpanya.
Setelah makan dan minum obat, Granpa langsung istirahat bersama Granny. Sedangkan Azel dan Zella sudah kembali ke kamar mereka masing-masing. Zella pun langsung membersihkan badannya di kamar mandi. Setelah selesai mandi, salah satu maid di mansion memberi tahukan pada Zella bahwa sekretaris Vanya menunggunya di ruang tamu.
Zella pun segera menemui Vanya dan memberikan beberapa job desk yang harus Vanya kerjakan saat di Berlin.
"Maafkan aku sudah merepotkan, Vanya." ucap Zella sambil mengantar Vanya ke depan Mansion.
"It's okey, Nona Zella. Saya sangat senang dapat membantu anda." jawab Vanya berterus terang.
"Oh iya, kau tak perlu risau karena nanti kau akan tinggal di Mansion Tuan Geoffrey, sama seperti aku kemarin. Sebab kalau kau tinggal di rumahku yang ada di Berlin, sangat jauh untuk sampai di Kantor Hilton." jelas Zella dan Vanya langsung menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Baik, Nona Zella. Kalau begitu, saya permisi dulu." ucap Vanya undur diri.
Zella pun kembali masuk ke dalam Mansion dan langsung menuju ke kamar merebahkan tubuhnya yang sangat lelah. Tanpa menunggu lama, mata Zella pun tertutup dan ia tertidur sangat nyenyak.