Mengejar Pelangi

Mengejar Pelangi
Rencana Wedding Dadakan


__ADS_3

Kepulangan Tom langsung disambut oleh Renata dengan senang hati. Ia ingin menanyakan hasil diskusinya dengan Zella.


"Bagaimana sayang? Apa kau sudah berhasil bekerja lagi dengan Zella?" tanya Renata antusias.


Melihat keinginan calon istrinya yang menggebu-gebu membuat Tom tidak tega untuk mengatakan yang sebenarnya. Terlebih Renata sudah menyiapkan makan siang untuk dirinya.


"Dia menyetujuinya." jawab Tom singkat dan disambut oleh ciuman panas Renata di bibir milik Tom.


Betapa senangnya hati Tom mendapat serangan tiba-tiba dari Renata. Tom pun membalas memagut bibir Renata hingga keduanya saling membelit satu sama lain. Tiba-tiba saja terdengar bunyi kriak dari perut Tom membuat Renata melepaskan pagutannya.


"Kau pasti lapar. Aku sudah menyiapkan makan siang untukmu." ucap Renata menarik lengan Tom dan mengajaknya ke meja makan.


Tom mengikuti langkah Renata sambil memeluk pinggangnya. "Bagaimana jika menikah besok? Aku sangat mendambakan seorang anak, sayang." pinta Tom sungguh-sungguh.


Tanpa pikir panjang, Renata langsung menyetujui permintaan Tom yang terkesan sangat mendadak. Karena dengan menyegerakan pernikahannya, maka ia juga akan segera menghancurkan Zella dan keluarganya.


"Aku setuju sayang." jawab Renata sambil mengusap dada Tom.


Betapa gembiranya Tom kali ini, bukan penolakan lagi yang ia terima, melainkan persetujuan Renata yang sudah sangat ia dambakan.

__ADS_1


Tom segera menyelesaikan makan siangnya dan menghubungi kakaknya tentang rencana pernikahannya esok. Tom dan Renata pun segera bersiap-siap untuk mencari gaun pengantin dan mengurus beberapa keperluan pernikahan mereka.


Sedangkan Papa Green yang mendengar berita pernikahan Tom (adik angkatnya) secara mendadak langsung menghubungi putranya untuk membantu Tom.


...***...


Di ruangan Azel, Lily sudah berada di bawah Azel dengan kancing baju yang sudah terbuka. Azel sedang menikmati dada istrinya yang merupakan tempat favorit Azel.


Suara lenguhan Lily pun sudah memenuhi ruang kerja Azel membuat Azel makin semangat menggempur istrinya. Baru saja keduanya hendak melakukan penyatuan, ponsel Azel berdering. Azel sama sekali tidak menghiraukannya dan tetap menyatukan barang miliknya ke tempat surgawinya.


Des*h*n Lily makin menjadi saat ia menggoyangkan pinggulnya dan membuat Azel merasa di atas nirwana. Ponsel Azel masih saja terus berdering membuat Lily kini menghentikan permainan mereka.


"Nanggung sayang." ucap Azel kesal. Ponsel Azel pun berhenti berdering dan kini Azel pun melanjutkan permainannya.


Baru mau mulai, kini gantian ponsel Lily yang berdering. Lily melihat layar ponselnya. "Papa Green telfon, kayaknya penting." ucap Lily.


Akhirnya keduanya sama sama menunda pelepasan mereka dan Lily mengangkat panggilan dari papa mertuanya.


"Halo Lily, apa kamu masih di kantor Azel?" tanya papa Green di ujung panggilan.

__ADS_1


"Iya pa, Papa mau bicara sama Kak Azel?" tanya Lily.


"Berikan ponselnya ke Azel. Papa mau bicara."


Lily segera memberikan ponselnya pada Azel.


"Ada apa Pa?" tanya Azel.


"Susah sekali kamu angkat telfon papa. Sibuk apa sih kamu?"


"To the point aja deh Pa, ada masalah apa sampe papa telfon berkali-kali?" tanya Azel yang masih kesal.


"Uncle Tom mau menikah besok dengan Renata. Bantulah ia mempersiapkan pernikahannya dengan Renata." pinta Papa Green membuat Azel semakin kesal. Hanya karena Renata, permainan panasnya jadi tertunda.


"Suruh Uncle Tom ke Mansion, aku akan segera pulang dengan Zella untuk membicarakan persiapannya." ucap Azel di akhir panggilan.


Kini panggilan dari papa Green pun terputus. Azel melihat ke arah istrinya yang sudah memakai kembali pakaiannya membuat Azel mengusap wajahnya kasar.


"Kita lanjutkan di rumah ya." rayu Lily dan Azel hanya bisa mengangguk pasrah.

__ADS_1


__ADS_2