
Di Kantin Perusahaan Hilton, Zella memang sedang menjadi bahan pembicaraan seluruh karyawan Perusahaan tanpa terkecuali. Hari ini seluruh karyawan benar-benar seperti kerja rodi, tidak seperti biasanya saat Tuan Geoffrey memegang kendali. Meskipun Theodore terkenal asisten Tuan Geoffrey yang sangat tegas, tetapi kali ini Direktur Zella melebihi dari Theo seratus kali lipat.
Begitulah anggapan para Karyawan Perusahaan Hilton.
"Direktur Muda GA Corporation memang sangat sadis, pantas saja perusahaannya melejit dan menjadi perusahaan terbesar di Jerman." ucap salah satu karyawan wanita.
"Meskipun begitu, kau tidak lihat jika Direktur Muda sangat cantik. Kalau aku pribadi tidak masalah kerja rodi asalkan melihat kecantikan Direktur Muda setiap hari." komentar salah satu karyawan pria.
Saat mereka ada sedang asyik membicarakan Zella sambil menikmati makan siang mereka, Zella datang bersama Theo membuat para karyawan terkejut tanpa terkecuali. Ada juga yang sampai tersedak karena tak percaya dengan apa yang mereka lihat.
Dengan santai Zella melewati mereka dan duduk di tempat yang kosong dan Theo segera memberi kode pihak kantin untuk memberi daftar menu pada Zella. Setelah memilih menu makan siangnya Zella mulai mengedarkan pandangannya.
Suasana kantin kali ini sangat sunyi, bahkan suara denting sendok dan garpu saja tidak terdengar oleh Zella. Hal ini membuat Zella sangat kagum karena baru kali ini ia mendapati suasana makan siang yang menenangkan.
Tapi hal itu tidak berlaku pada karyawan yang lain, mereka menganggap bahwa makan siang kali ini adalah suasana paling mencekam dan mematikan selama berada di Hilton.
Setelah makan siang, Zella kembali berkutat dengan pekerjaannya. Theo pun selalu mendampingi Zella hingga jam kerja pun usai.
"Nona Zella, ini sudah waktunya untuk pulang." ucap Theo mengingatkan Zella yang masih berkutat dengan pekerjaannya.
"Oh ya?" tanya Zella.
"Benar, Nona. Bukankah anda tidak boleh terlalu lelah mengingat anda baru saja pulih dari sakit?" Ucap Theo.
"Aku akan menyudahi semuanya saat senja tiba." ucap Zella. "Apa kau memiliki janji dengan seseorang? Jika iya, pulanglah lebih dulu." jelas Zella.
"Tidak, Nona. Saya akan menemani anda." jawab Theo. Akhirnya Theo menghubungi Dokter Steffy untuk membatalkan pertemuannya sore ini.
Dokter Steffy terdengar sangat kecewa pada Theo, karena merasa tidak enak akhirnya Theo berjanji akan datang terapi nanti malam di tempat yang sama.
Tepat sebelum senja, Theo dan Zella sudah tiba di Mansion. Keduanya langsung masuk ke dalam kamar masing-masing untuk membersihkan diri. Setelah membersihkan diri, Theo mengetuk kamar Zella untuk memberi tahu bahwa ia ada janji dengan seseorang malam ini.
__ADS_1
"Kau mau pergi kemana?" tanya Zella.
"Ada janji dengan Dokter Steffy. Saya hanya pergi sebentar, Nona." jawab Theo yang nampak sangat tampan dengan celana jeans panjang dan kaos berkerahnya.
"Pergilah." ucap Zella yang kemudian menutup pintu kamarnya dengan sedikit kencang.
Theo sangat terkejut melihat sikap Zella, tapi ia tetap pergi menemui Dokter Steffy karena takut Dokter Steffy terlalu lama menunggunya.
...***...
Setelah malam itu, Theo terlihat sedikit menjauh dari Zella. Setiap Zella meminta tolong di Mansion, Theo selalu melimpahkannya pada asisten rumah tangga yang lain dan memberi alasan bahwa Zella tidak bisa memberi perintah padanya karena mereka sedang tidak berada di kantor.
Tapi saat di kantor, Zella kini dibantu oleh sekretaris perempuan dan Theo mengurus urusan yang lainnya. Hingga Theo sangat jarang bertemu dengan Zella selama tiga hari ini selama di Kantor.
Perubahan sikap Theo membuat Zella sangat kesal, tapi lagi lagi ia harus bersabar agar Theo tidak semakin menjauh darinya. Entah apa yang Theo dapatkan dari pertemuannya dengan Dokter Steffy, yang jelas Zella hanya ingin Levi nya kembali.
Sedangkan Theo sendiri yang sedang mengikuti saran dari Dokter Steffy untuk menjauhi Zella justru makin tidak karuan. Setiap malam ia selalu memimpikan dirinya dengan Zella. Bayangan Zella makin melekat di benaknya dan makin sulit untuk dihapuskan.
Kini akhir pekan telah tiba. Pagi ini Zella sudah bersiap-siap untuk lari pagi. Kali ini ia mulai berbuat segala sesuatu yang tidak disukai oleh Levi.
Zella mengikat rambutnya ke atas dan memperlihatkan leher jenjangnya. Kemudian ia keluar dari kamarnya dan melewati Theo yang sedang minum kopi di teras begitu saja tanpa menegurnya sama sekali.
"Anda mau pergi kemana, Nona Zella?" tanya Theo yang langsung berdiri dari duduknya.
Sayangnya Zella sama sekali tidak menoleh ke arah Theo bahkan tidak menjawab sedikit pun pertanyaan Theo.
Zella langsung saja menuju ke gerbang dan hilang dari pandangan Theo.
"Aku harus mengejarnya." ucap Theo yang langsung mengejar Zella.
Zella yang mendengar langkah Theo mengejarnya pun tersenyum tipis. "Ternyata dia masih mengkhawatirkanku." gumam Zella sambil berlari lari kecil menyusuri trotoar.
__ADS_1
Theo mempercepat larinya mengejar Zella yang makin jauh.
"Aku harus meminta maaf pada Nona Zella karena selama ini mengacuhkannya." gumam Theo sambil berlari.
Sampai di suatu taman, Zella nampak berlari memutari taman dan kemudian duduk sambil mengatur nafasnya. Theo pun segera berlari mendekati Zella.
Saat hampir sampai di tempat duduk Zella, langkah Theo terhenti saat melihat Zella menerima botol minuman dari seorang laki-laki.
"Hai Nona, apa kau butuh air untuk menghilangkan dahagamu?" tanya seorang laki-laki di hadapan Zella sambil menyodorkan air minum ke Zella.
Zella mendongakkan kepalanya dan senyumnya langsung merekah. "Kak Azel, bagaimana bisa kau ada disini?" tanya Zella sambil menerima botol minuman dari kakaknya.
"Tentu saja bisa, aku memiliki banyak mata-mata untuk mengawasimu." jawab Azel, kakak kandung Zella.
"Aku datang untuk membantu adik kesayanganku mengejar pelanginya yang hilang." ucap Azel lagi membuat mata Zella berbinar.
Azel yang sangat merindukan adik perempuannya itu langsung memeluk Zella. Melihat pemandangan tersebut, Theo makin gusar dan berlari ke arah Zella. Ia pun menarik tubuh Zella dari pelukan Azel.
"Siapa anda?" hardik Theo. "Anda tidak bisa memeluk Nona Muda kami sembarangan." ucap Theo dengan sorot mata yang tajam.
Azel sangat terkejut melihat suami adik perempuannya benar-benar masih hidup. Tapi Azel segera bisa menguasai keadaan.
"Nona, ini kartu nama saya. Hubungi saya jika anda menerima tawaran saya untuk berkencan nanti malam." ucap Azel sambil menyodorkan kartu namanya.
"Oke Tuan." jawab Zella membuat Theo makin meradang.
Azel segera meninggalkan adik perempuannya meskipun sebenarnya ia masih sangat rindu.
"Anda tidak bisa pergi dengan orang sembarangan di kota ini, Nona Zella. Itu sangat membahayakan anda." ucap Theo yang masih diacuhkan oleh Zella sambil membaca kartu nama yang diberikan Azel padanya.
Zella hanya diam sambil memasukkan kartu nama yang diberikan Kak Azel dan meneguk minumannya. Setelah itu Zella kembali berlari ke mansion. Theo kini merasa sangat menyesal telah mengikuti saran dari Dokter Steffy. Ia pun segera mengejar Zella dan bertekad untuk meminta maaf pada Zella.
__ADS_1