Mengejar Pelangi

Mengejar Pelangi
Vanya-Geoffrey


__ADS_3

Vanya makin terkejut setelah mengetahui bahwa Geoffrey benar-benar menjemputnya sendiri tanpa seorang supir.


"Whatttt??!!! Tuan Geoffrey menjemputku sendirian tanpa membawa supir?" tanya Vanya dalam hati sambil memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil.


"Jangan-jangan Perusahaan milik Tuan Geoffrey memang sangat tragis dan menyedihkan hingga ia tidak mampu membayar supir." batin Vanya yang kemudian membuka pintu mobil dan duduk tepat di belakang Geoffrey.


"Hei, aku ini bosmu. Pindah duduk ke depan!" perintah Geoffrey mendapati Vanya justru memilih duduk di belakang dari pada di sampingnya. "Memangnya aku ini supirmu?" tanya Geoffrey kesal.


"Baik Tuan." jawab Vanya yang langsung keluar dari mobil dan duduk di samping Geoffrey.


Vanya langsung memasang seat belt tapi Geoffrey sengaja menahan seat belt yang akan dipakai Vanya. "Apa seat beltnya bermasalah, Tuan Geoffrey?" tanya Vanya sambil menoleh ke arah Geoffrey.


"Kau saja yang tidak biasa naik mobil mewah, jadi tidak bisa memasang seat beltnya." jawab Geoffrey membuat Vanya memutar bola matanya malas.

__ADS_1


"Enak saja tidak biasa naik mobil mewah, bahkan mobil Direktur Zella jauh lebih mewah daripada mobil milik Tuan Geoffrey." gerutu Vanya dalam hati sambil tetap berusaha memasang seat beltnya.


"Sini biar aku pasangkan." ucap Geoffrey sambil menarik seat belt yang dari tadi ia tahan dan menautkannya pada lock tancapan seat belt kursi Vanya.


Geoffrey sengaja mendekatkan tubuhnya dengan tubuh Vanya dan membuat jantung Vanya berdegub kencang. Bau harum maskulin Geoffrey terhirup di hidung Vanya membuat Vanya makin gugup dengan posisinya saat ini.


Geoffrey mendekatkan wajahnya ke wajah Vanya hingga mereka terlihat seperti hampir berciuman. "Tuan, apa yang akan anda lakukan?" tanya Vanya sambil mengalihkan pandangannya dari wajah Geoffrey yang semakin mendekat ke wajahnya.


"Aku hanya ingin memujimu saja." jawab Geoffrey tanpa mengubah posisinya. "Kau sangat cantik Vanya." bisik Tuan Geoffrey.


Geoffrey pun tersenyum melihat sikap Vanya yang biasanya dingin dan ketus kini menjadi diam dan salah tingkah. "Kau pasti tersipu bukan dengan pujianku?" tanya Geoffrey.


Vanya langsung mengusai keadaannya dan kembali ke muka ketusnya. "Tentu saja tidak, Tuan Geoffrey yang Terhormat. Untuk apa saya tersipu. Anda pasti mengharapkan kata terima kasih bukan atas pujian anda barusan?" jawab Vanya.

__ADS_1


"Terima kasih atas pujiannya, Tuan Geoffrey yang tampan." ucap Vanya kemudian yang terdengar seperti meledek Geoffrey.


Geoffrey masih belum kehabisan kata-kata untuk menanggapi Vanya. "Kalau begitu berterima kasihlah dengan benar Vanya."


"Bukankan aku sudah berterima kasih padamu, Tuan.?" tanya Vanya sambil memandang heran ke arah Geoffrey.


"Aku tidak terima ucapan Terima kasih saja, Vanya. Bersikaplah yang baik padaku sebagai wujud ucapan terima kasihmu. Aku akan menagihnya nanti setelah selesai bekerja." jelas Geoffrey.


Jawaban Geoffrey membuat Vanya mengumpat dalam hatinya. "Dasar Bos Gila, bisa bisanya dia memanfaatkan keadaan ini. Hemmm, dia tidak bisa memanfaatkan aku seenaknya. Aku bekerja padanya hanya saat jam kantor saja, selebihnya tidak ada." batin Vanya sambil memandang ke arah luar.


Kini keduanya sudah sampai di Perusahaan Hilton. Vanya langsung ditunjukkan meja kerjanya dan beberapa berkas yang harus diselesaikannya. Dengan cepat Vanya menguasai tugas baru yang dilimpahkan untuknya dan ini membuat Geoffrey makin kagum atas kinerja dan kepribadian Vanya.


"Tuan Geoffrey, Siang ini anda aja jadwal makan siang dengan Tuan Arthur." ucap Vanya mengingatkan Geoffrey.

__ADS_1


"Baik, Vanya. Kau juga akan ikut denganku nanti. Siapkan berkas dalam Map X." jawab Geoffrey dan Vanya segera mempersiapkan yang diminta oleh Geoffrey.


__ADS_2