Mengejar Pelangi

Mengejar Pelangi
Kemalangan Theo


__ADS_3

Tengah malam, Theo mulai membuka matanya perlahan. Ia sangat terkejut saat dirinya sudah tidak memakai baju dan melihat Dokter Steffy tidur di sampingnya dengan memakai lingerie.


"Aku pasti sudah dijebak oleh Dokter Steffy." gumam Theo pelan sambil beranjak memunguti baju miliknya. Setelah memakai pakaiannya, ia memegang kepalanya yang sedikit terasa nyeri.


Ia segera mengambil ponselnya yang ada di atas nakas dan keluar dari apartemen Dokter Steffy. Theo langsung membawa mobilnya menjauh dari apartemen Dokter Steffy dan kembali menuju ke mansion Geoffrey.


Di tengah perjalanan, Theo masih merasakan sakit di kepalanya akibat benturan di pantry apartemen Dokter Steffy, terlebih efek bius yang Steffy berikan padanya juga masih terasa. Karena jalanan malam yang lengang dan gelap, Theo mulai tidak konsen mengemudikan mobilnya dan akhirnya menabrak pembatas jalan hingga Theo kembali tak sadarkan diri.


Theo segera dibawa ke rumah sakit dan diberi perawatan secara insentif. Geoffrey pun segera datang ke rumah sakit setelah dihubungi oleh pihak rumah sakit.


...***...


Disisi lain, Steffy yang merasa tempat tidurnya kosong langsung membuka matanya dan menggumam kesal.


"Si*l. Theo sudah pergi meninggalkan aku. Kenapa sulit sekali untuk mendapatkanmu, Theooo." gerutu Steffy yang kemudian mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Theo.

__ADS_1


Steffy pun makin kesal saat nomor ponsel Theo tidak bisa dihubungi. Akhirnya dia melanjutkan tidurnya hingga pagi menjelang.


...***...


Pagi ini, Theo belum juga sadarkan diri. Akhirnya Geoffrey menitipkan Theo pada perawat jaga karena ia harus menjemput Vanya di bandara. Dengan hati yang berbunga-bunga, Geoffrey mengemudikan mobilnya menuju ke bandara untuk menjemput Vanya.


Sesampainya di Bandara, Geoffrey melihat papan informasi dan memastikan bahwa pesawat yang ditumpangi oleh Vanya akan tiba tepat pada waktunya. Benar saja, tanpa menunggu lama Vanya sudah terlihat di pintu kedatangan dengan membawa kopernya.


Geoffrey melambaikan tangannya membuat Vanya sedikit terkejut bahwa Bosnya sendiri yang datang untuk menjemputnya. "Aku tidak salah lihat kan?" tanya Vanya dalam hati saat melihat Geoffrey melambaikan tangan ke arahnya.


"Nice to meet you too." jawab Vanya datar. Biasanya saat di Perusahaan milik Zella, Vanya terlihat sangat dingin dan ketus saat berhadapan dengan Tuan Geoffrey. Tapi tidak berlaku untuk saat ini karena ia akan bekerja bawah naungan Perusahaan Milik Geoffrey sendiri.


"Perlu aku bantu untuk membawa kopermu, Miss Vanya?" tanya Geoffrey dan cepat cepat Vanya menolaknya.


"Tidak perlu, Tuan Geoffrey. Kali ini anda adalah atasan saya." jawab Vanya. "Tidak pantas jika atasan membawakan koper milik bawahannya."

__ADS_1


"Baiklah. Oh iya Miss Vanya, apa kau tidak terkesan denganku?" tanya Geoffrey yang berjalan tepat di samping Vanya.


"Maksud anda?" tanya Vanya balik yang tidak memahami arah pertanyaan Tuan Geoffrey.


"Terkesan karena aku sendiri yang datang menjemputmu, Vanya. Bahkan aku menawarkan diri untuk membawakan kopermu." jelas Geoffrey membuat Vanya justru terkekeh geli dalam hati.


"Apa-apaan Bos Perusahaan Hilton ini, kenapa juga aku harus terkesan dengannya? Lagipula siapa yang memintanya datang menjemputku? Dasar aneh." gumam Vanya dalam hati.


"Maaf sudah merepotkan anda, Tuan. Sebenarnya saya juga dapat memesan Taksi untuk sampai di kantor anda. Lagipula saya juga masih sanggup untuk membawa koper saya sendiri." Jawab Vanya membuat Theo menggelengkan kepalanya.


"Bukan itu maksudku, Vanya. Setidaknya apa kau tidak ingin mengucapkan terima kasih padaku?" tanya Geoffrey.


"Oh, terima kasih banyak Tuan Geoffrey yang terhormat. Saya sungguh sangat terkesan dengan penyambutan anda pada saya." jawab Vanya sambil tersenyum dan menundukkan kepalanya di hadapan Geoffrey.


Geoffrey pun tersenyum mendengar jawaban dari Vanya dan langsung menuju ke tempat dimana mobilnya diparkirkan.

__ADS_1


__ADS_2