
Saat Maya kini menjalani hukuman atas perbuatannya, Rafe justru sedang fokus pada kesembuhan Reyna. Setidaknya ia sangat berterima kasih pada salah satu anak buahnya, karena Reyna sudah menyelamatkan nyawa papinya.
Reyna hari ini sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Rafe sendiri yang mengurus segala administrasi dan kepulangan Reyna tanpa meminta tolong dengan anak buahnya.
"Tuan, terima kasih sudah mau direpotkan dengan urusan saya." ucap Renata yang sebenarnya merasa tidak enak saat melihat Rafe mendorong kopernya.
"Jangan ke-pede-an kamu! Ini hanya ucapan terima kasih saya karena kamu telah menyelamatkan nyawa papi." tukas Rafe sambil memegang lengan Reyna.
"Saya sudah lebih baik hari ini, Tuan. Bisakah anda melepaskan lengan saya?" tanya Reyna ketika mereka berdua berdiri di depan lift. "Saya juga sudah bisa berjalan sendiri tanpa bantuan anda."
"Diam dan menurutlah!" hardik Rafe dan tak lama pintu lift pun terbuka.
__ADS_1
Kini keduanya masuk ke dalam lift dengan posisi Rafe masih memegang lengan Reyna. Tiba-tiba Rafe mengubah posisinya, kini tangan Reyna diposisikan unyuk memegang lengannya. "Tetap seperti ini, dan jangan berani-berani unyuk melepaskannya!" ucap Rafe dan Reyna hanya mengangguk.
PoV Reyna
Sejak aku di rumah sakit, Tuan Rafe selalu memperlakukan aku seperti Tuan Putrinya. Jujur, ini membuatku sangat besar kepala. Perhatiannya benar-benar terlihat sangat tulus dan tidak terlihat seperti seorang Bos Besar kepada anak buahnya.
Cara dia menatapku, memperhatikanku, menyuapiku dan mengurus segala keperluanku, benar-benar membuatku jatuh cinta. Ups, sepertinya aku sudah gila kali ini berani untuk jatuh cinta dengan bos mavia kejam seperti Tuan Rafe.
Sesampainya di mobil, Rafe membukakan pintu untuk Reyna. "Seharusnya Tuan tidak perlu membukakan pintu untuk saya." ucap Reyna.
"Masuk dan menurutlah! Kenapa kesembuhanmu merubahmu sangat cerewet hari ini?" tanya Rafe dan Reyna pun masuk ke dalam mobil sambil memutar bola matanya malas.
__ADS_1
Setelah memasukkan koper Reyna ke dalam bagasi, Rafe pun masuk kedalam mobilnya. Reyna terlihat sedang kesusahan memasang seat beltnya dan Rafe pun langsung mendekat untuk membantunya.
Rafe dan Reyna kini benar-benar sudah tidak berjarak. Degub jantung Reyna kali ini benar-benar tidak dapat dikondisikan. Terlebih saat Rafe menarik seat belt dan memasangkan ke tempatnya. Tapi setelah itu, Rafe tidak langsung beranjak dari depan Reyna dan justru memandang lekat ke arah Reyna sampai wajah Reyna kini benar-benar merona.
"Hei, apa kau memakai make up, Reyna?" tanya Rafe dan Reyna menggelengkan kepalanya. Bagaimana bisa dia memakai make up, jika selama ini bekerjanya saja dengan para Mavia.
"Saya tidak bisa memakai make up Tuan." jawab Reyna.
"Oh ya?" Rafe pun kembali ke tempat duduknya dan siap siap untuk mengemudikan mobilnya. "Tapi kenapa aku lihat blash on di wajahmu tampak begitu tebal?" tanya Rafe membuat Reyna langsung membuang mukanya ke luar jendela.
"Ya Ampuuuun, Tuan Rafe. Ini bukan blash on." gumam Reyna dalam hati.
__ADS_1
Rafe yang melihat sikap Reyna kali ini hanya mengulum senyumnya dan terus membawa Reyna untuk pulang ke rumahnya.