
Geoffrey melepaskan tangan Paula yang melingkar di lehernya dan membuat Paula sangat kesal. Jika tidak karena kekayaan Geoffrey dan kepopulerannya, ia tidak akan meneruskan hubungannya yang sudah ia jalin selama tujuh tahun ini.
"Kenapa kau semakin mengabaikan ku sayang?" tanya Paula menatap ke arah kekasihnya dengan tatapan tajam.
"Paula, aku sudah tidak ingin berpura-pura denganmu. Aku juga sudah lelah untuk menanggapi sikapmu." jawaban Geoffrey membuat Paula tercekat.
Selama ini Paula memang hanya memeras Geoffrey. Ia berkencan dengan Geoffrey hanya demi ketenarannya. Tapi kini ia sangat tidak menyangka Geoffrey menyatakan rasa jenuh terhadapnya.
"Apa maksudmu sayang?" tanya Paula.
"Kita sudahi kepura-puraan kita, Paula." jawab Geoffrey tegas.
"Tidak, sayang. Aku tidak pura-pura menjalani hubungan ini denganmu. Kumohon jangan putuskan hubungan kita." pinta Paula mengingat karirnya yang sangat melejit belakangan ini dan beberapa tawaran kontrak kerja yang sedang mengantri.
"Aku sangat paham denganmu, Paula. Kau hanya memikirkan kesenanganmu sendiri." ucap Geoffrey dengan lantang.
"Aku minta maaf, sayang. Baiklah, katakan padaku apa yang kau inginkan?" tanya Paula mengalah.
"Aku akan berubah sesuai dengan keinginanmu asalkan jangan putuskan hubungan kita." pinta Paula mengiba.
Kini Paula benar-benar menurunkan harga dirinya di depan Geoffrey. Tentu saja dia lakukan hanya untuk kepentingannya sendiri.
"Kalau begitu, tinggalkan aku disini. Aku masih ingin fokus pada pekerjaanki malam ini." ucap Geoffrey yang masih memiliki rasa kasihan pada Paula.
Akhirnya Paula meninggalkan Geoffrey dan keluar dari ruangannya. Malam ini memang nampak kejanggalan pada Geoffrey yang terus berkutat di ruang kerjanya.
"Theodore." panggil Paula yang melihat Theodore masih berada di luar mansion.
"Ada apa Nona?" tanya Theo sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam Mansion.
"Kenapa menurutku Geoffrey sangat berbeda malam ini? Dia terlihat sangat sibuk di ruang kerjanya." tanya Paula. "Bukankah biasanya kau yang mengurus segala urusan perusahaan?" Paula terus menyerbu Theo dengan berbagai pertanyaan.
"Benarkah?" tanya Theo balik. "Tuan Geoffrey sepertinya sedang membutuhkan saya." jcap Theo yang langsung berjalan ke arah ruang kerja Geoffrey.
Paula kini makin kesal melihat Theo yang juga mengacuhkannya. Sejak menemukan Theo terdampar dan terluka saat itu, membuat Paula menaruh perasaan pada Theo. Terlebih Theo terlihat lebih tampan dan macho dibandingkan dengan Geoffrey.
Sayangnya Theo tidak memiliki apa-apa pada waktu itu. Segala urusan mengenai Theo diurus dengan baik oleh Geoffrey dan Theo membalas budi dengan menjadi orang kepercayaan Geoffrey selama enam tahun ini. Paula yang lebih mementingkan karirnya pun mengesampingkan perasaannya pada Theo. Tapi ia juga tidak sepenuhnya menjalankan hubungan dengan Geoffrey.
Berkali-kali Theo dirayu dan dijebak Paula untuk memenuhi hasratnya. Sayangnya Theo tidak pernah jatuh ke dalam perangkap Paula karena Theo benar-benar sangat berhati-hati.
__ADS_1
...***...
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan Geoffrey?" tanya Theo yang kini sudah berada di ruang kerja Geoffrey.
"Emmm, begini Theo. Aku ingin kau mengajarkan aku mengelola perusahaan dengan baik." jawab Geoffrey.
Jawaban Geoffrey membuat Theo sangat terkejut. Baru kali ini Tuanya meminta untuk belajar mengelola perusahaan. Selama ini, ia hanya mengandalkan asistennya saja. Sebelum ada Theo, perusahaan Geoffrey sangat kecil dan tidak ada apa-apanya. Tapi setelah kedatangan Theo, kini perusahaannya sangat maju pesat hingga dapat bekerja sama dengan GA Corporation, perusahaan ternama di Jerman.
"Dengan senang hati Tuan Geoffrey." jawab Theodore. "Tapi sebaiknya malam ini anda beristirahat dulu, Tuan mengingat acara pada hari ini sangat padat dan tentunya membuat anda lelah." jelas Theodore.
"Baiklah Theo, aku tahu kaulah pastinya yang sangat lelah." jawab Geoffrey. "Ayo kita beristirahat." ajak Geoffrey kemudian merangkul pundak Theo.
"Benar kata Nona Paula, Tuan Geoffrey sangat berbeda malam ini." batin Theo.
Theo terus bertanya-tanya dalam hatinya apa yang membuat Tuannya berubah drastis malam ini. Ia pun mengurutkan beberapa agenda Geoffrey dari pagi hingga petang untuk mencari tahu penyebab perubahan drastis pada Geoffrey.
Pagi hingga siang, Geoffrey masih terlihat seperti biasanya menurut Theo. Tapi setelah pulang dari meeting, Geoffrey mulai sedikit berbeda.
Theo kini sudah berada di kamarnya dan segera membersihkan tubuhnya. Setelah itu ia pun merebahkan tubuhnya sambil mengumpulkan puzzle agenda hari ini yang berserakan.
Ia mengingat permintaan Tuan Geoffrey untuk membantunya mendapatkan Zella.
Tapi seketika jantung Theo berdebar kencang dan dadanya kembali sesak. Ia mencoba mengatur nafasnya perlahan dan menetralkan detak jantungnya.
"Mungkin aku terlalu lelah hari ini," batin Theo yang mulai memejamkan matanya.
...***...
Zella yang baru sampai di Mansion langsung memarkirkan mobilnya dan masuk ke dalam kamarnya. Ia langsung merebahkan tubuhnya dan menyelimuti dirinya sendiri. Kata-kata Paula masih terngiang-ngiang di telinga Zella, membuat Zella sangat sulit memejamkan matanya.
Sampai dini hari, Zella baru mulai bisa memejamkan matanya.
Pagi harinya, Granny sedikit curiga Zella belum juga keluar dari kamarnya. Biasanya Zella sudah bersiap-siap untuk lari pagi. Tapi kali ini Zella belum terlihat keluar dari kamarnya.
Akhirnya Granny naik ke kamar Zella dan langsung masuk ke dalam karena pintu nya tidak terkunci.
Zella masih terlihat dibalik selimut membuat Granny sedikit khawatir dengan keadaan Zella. Granny menyibakkan sedikit selimut Zella dan memegang kening cucunya.
Panas.
__ADS_1
"Zella demam." gumam Granny yang langsung mencari thermometer di kotak obat Zella. Granny langsung mengecek suhu tubuh Zella dan segera menghubungi dokter keluarga.
"Granny." Zella membuka matanya dan menyibakkan selimutnya.
"Kau dari mana semalam, sayang sampai membuatmu demam seperti ini?" tanya Granny dengan raut wajah yang sangat khawatir.
"Aku hanya keluar sebentar Granny. Mungkin ini hanya karena aku tidak pernah keluar malam saja." jawab Zella.
"Aku akan baik-baik saja, Granny. Jangan terlalu khawatir padaku." ucap Zella sambil berusaha mendudukkan dirinya. Sayangnya Zella tidak kuat untuk bangun karena kepalanya juga sangat pusing.
"Jangan memaksakan dirimu, Zella. Berbaringlah, Dokter Brian akan segera datang." ucap Granny.
Akhirnya Zella pun menurut pada Granny. Tanpa menunggu lama, Dokter Brian sudah tiba di Mansion dan segera masuk ke kamar Zella.
"Hai Zella, aku sangat terkejut mendengarmu sakit." ucap Dokter Brian sambil duduk memeriksa Zella.
"Kau demam tinggi, Zella. Apa keluhanmu?" tanya Dokter Brian kepada Zella.
"Kepalaku hanya sedikit pusing, Dokter." jawab Zella yang masih meringkuk dalam selimut.
Dokter Brian segera memberi obat untuk Zella. "Apa ada suatu hal yang sangat mengganggu fikiranmu, Zella?" tanya Dokter Brian.
Zella hanya mengangguk dan menatapnya dengan tatapan kosong.
"Beritahu aku, tentang sebab akibat orang hilang ingatan, Dokter." pinta Zella kemudian.
"Hemmm, masalahmu sepertinya rumit. Tapi tenang saja. Aku akan membantumu untuk itu. Aku akan menjelaskannya setelah kau sembuh nanti." ucap Dokter Brian.
"Baiklah, aku akan menemuimu nanti, dokter." jawab Zella.
"Jangan lupa sarapan dan minum obat. Kabarin aku tentang perkembangan keadaanmu setiap satu jam sekali. Aku akan datang lagi nanti sore untuk mengecek keadaanmu, Zella." ucap Dokter Brian sambil beranjak meninggalkan Zella.
"Thanks Dokter, kami akan memberi anda kabar tentang perkembangan keadaan Zella." ucap Granny sambil mengantar Dokter Brian keluar kamar.
Setelah Dokter Brian keluar dari kamar Zella, asisten rumah tangga Zella langsung membawakan sarapan untuk Zella.
"Aunt Terra, tolong beri kabar pada Vanya aku tidak ke kantor hari ini." ucap Zella.
"Baik Nona." jawab Aunt Terra yang langsung menjalankan perintah dari Zella.
__ADS_1