
Akhirnya Theo dan Dokter Steffy sampai di Potsdamer Platz. Sayangnya saking luasnya, Theo tidak tahu harus mencari Zella kemana.
Mau tidak mau, Theo menelfon Zella dan menanyakan dimana posisinya sekarang. Beberapa panggilan dari Theo masih diabaikan Zella, membuat Theo makin merasa bersalah.
"Sebenarnya kau menghubungi siapa dari tadi?" tanya Dokter Steffy yang melihat Theo sangat gelisah.
Kali ini Theo mengabaikan pertanyaan Dokter Steffy dan mencari tempat duduk sambil mengetik pesan pada Zella.
......Theo......
...Nona Zella, dimana posisi anda saat ini? Saya benar-benar mengkhawatirkan anda....
Zella yang masih menikmati waktunya bersama kakak laki-lakinya sedikit enggan membalas pesan dari Theo.
"Levi pasti sedang menanyakan posisi kita sekarang, bukan?" tanya Azel dan Zella hanya mengangguk.
"Aku sedang malas menjawabnya," ucap Zella sambil menikmati suapan terakhirnya.
"Balas aja pesannya, ntar kamu nyesel loh kalo Levi pergi jauh lagi." ucap Azel menasihati adik perempuannya.
"Hemmm, iya juga sih." jawab Zella sambil mengetikkan balasan ke Theo.
......Zella......
...Jangan khawatir, Kak Azel laki-laki yang sangat baik. Dia pasti akan menjagaku dengan baik....
Theo makin gusar mendapat balasan dari Zella. Ia terus menelusuri setiap tempat di Potsdamer Platz untuk menemukan Zella.
"Theo, sebenarnya apa yang sedang kau cari?". tanya Dokter Steffy yang sudah sangat lelah mengikuti Theo dari satu jam yang lalu.
"Aku mencari wanitaku." jawab Theo membuat Dokter Steffy sangat kesal dan menghentikan langkah Theo.
__ADS_1
"Apa??!!! Wanitamu??!!!" tanya Dokter Steffy yang sudah berdiri di hadapan Theo dan menatapnya geram.
"Siapa yang kau maksud dengan Wanitamu? Kenapa kau mempermainkan aku dari tadi, Theo? Menyusuri Potsdamer Platz tanpa tujuan yang pasti. Katakan siapa yang kau maksud dengan Wanitamu!!!" cecar Dokter Steffy dengan berbagai pertanyaan pada Theo.
"Bukankah dari awal aku menyuruhmu pulang, Dokter Steffy?" tanya Theo sedikit tidak terima dengan kemarahan Dokter Steffy.
"Aku sedang mencari orang yang sangat penting bagiku." ucap Theo membuat Dokter Steffy makin kesal.
"Theo, apa selama ini aku tidak penting bagimu?" Tanya Dokter Steffy yang mulai berlinangan air mata.
Theo tidak menjawab pertanyaan Dokter Steffy dan mengajaknya duduk di bangku kosong yang berada di tengah dua ruas jalan orang berlalu lalang. Kemudian Theo pergi membeli dua botol minuman.
"Aku tidak mau berdebat, Istirahatlah jika kau lelah." ucap Theo sambil memberikan minuman pada Dokter Steffy.
"Aku mencintaimu, Theo." ucap Dokter Steffy dengan suara yang lantang hingga membuat orang-orang yang berlalu palang menghentikan langkahnya dan melihat ke arah mereka berdua.
"Aku sangat mencintaimu sejak pertama kita bertemu. Aku juga tahu kau menyimpan perasaan yang sama padaku." ucapan Dokter Steffy membuat Theo sangat terkejut, terlebih saat ini mereka berdua sedang menjadi pusat perhatian.
"Waaah, wanita cantik itu sedang mengungkapkan perasaannya." ucap seorang yang sedang memperhatikan mereka berdua.
Zella dan Azel yang kebetulan lewat disitu pun ikut penasaran dengan yang sedang diperbincangkan banyak orang di sana. Jangan ditanya bagaimana raut wajah Theo saat ini. Pias penuh kebingungan, ia tidak tega jika harus menolak Dokter Steffy di depan semua orang. Tapi ia tidak mungkin menerima ungkapan Dokter Steffy terlebih memberikan harapan palsu.
"Levi??!!!" pekik Azel pelan dan menatap ke arah Zella. "Siapa wanita yang ada di sampingnya?" tanya Azel pada Zella.
"Dokter Steffy." bisik Zella pada Azel. "Dia yang kemarin memeriksa keadaanku."
Azel, Zella dan pengunjung yang lain kini menunggu kalimat apa yang akan keluar dari bibir kedua orang yang kini jadi pusat perhatian.
"Theo, Willst du mich heiraten? (maukah kau menikah denganku?)" tanya Dokter Steffy semakin berani. Ia yakin, Theo tidak mungkin mempermalukannya saat ini.
Theo makin tergagap, terlebih saat ekor matanya melihat wanita yang sedang dicarinya. Zella dan Azel nampak berdiri tidak jauh darinya. Semua menunggu jawaban Theo sambil menyorakkan dukungan agar Theo menerima permintaan Dokter Steffy.
__ADS_1
Theo akhirnya dapat menguasai keadaan. "Aku memang tipe pria yang memiliki privasi tersendiri. Aku akan menjawabnya saat kita berdua, Steffy. Tenang saja, aku tidak akan membuatmu kecewa." jawab Theo membuat orang bersorak dan satu persatu meninggalkan mereka berdua.
Berbeda dengan Zella dan Azel yang sangat tercengang dengan jawaban Theo. Dengan cepat Zella menarik tangan Azel dan berjalan menjauh dari tempat Theo dan Dokter Steffy. Melihat Zella pergi menjauhinya, Theo segera mengikuti kemana Zella pergi.
Sayangnya Dokter Steffy yang tidak bisa menyamakan langkah Theo jadi terjatuh dan Zella hilang di tengah kerumunan orang banyak. Mau tidak mau Theo harus membantu Dokter Steffy dan membawanya ke mobil.
"Lain kali jangan memaksa untuk ikut lagi, Dokter Steffy jika jadinya begini. Anda sungguh merepotkan." ucap Theo sambil membersihkan luka di lutut Dokter Steffy.
"Maafkan aku, Theo. Sebenarnya siapa wanita yang sedang kau kejar?" tanya Dokter Steffy masih penasaran.
Theo hanya diam tidak menjawab pertanyaan Dokter Steffy. "Theo, katakan padaku Siapa wanita itu?" desak Dokter Steffy membuat Theo makin geram.
"That's my privacy." jawab Theo singkat.
Dokter Steffy pun menghela nafasnya pelan sebelum melancarkan pertanyaan berikutnya. "Kalau begitu apa jawabanmu atas pertanyaanku tadi?" tanya Dokter Steffy yang sudah selesai ditutup lukanya.
"Tidak." jawab Theo singkat dan mulai menjalankan mobilnya.
"Kau telah membohongi banyak orang di Potsdamer Platz Theo. Apa maksudmu menolak permintaanku? Bukankah kau sudah mengatakan bahwa kau tidak akan membuatku kecewa." Dokter Steffy terus menceracau.
"Aku tidak akan mengecewakan anda dengan mempermalukan anda di depan umum, Dokter Steffy." ucap Theo membuat Dokter Steffy menganga lebar.
Benar apa yang diucapkan oleh Theo, dia benar-benar tidak mempermalukan Dokter Steffy tadi. Meskipun saat ini Dokter Steffy harus menelan rasa kecewa akibat penolakan Theo. Sepanjang perjalanan pulang, Steffy hanya terdiam melihat jalanan kota yang ramai.
Sedangkan Zella dan Azel masih berada di Potsdamer Platz menghabiskan waktu mereka hingga senja tiba.
"Zella," panggil Azel sambil menatap adik perempuannya. "Segera selesaikan urusanmu disini dan pulanglah ke Indonesia bersamaku. Papa Green sangat merindukanmu." ucap Azel membuat mata Zella berkaca-kaca.
"Aku berjanji akan membantumu selama satu bulan ini untuk mendapatkan Levimu kembali." ucap Azel sungguh - sungguh dan Zella menganggukkan kepalanya.
"Thanks kak Azel." ucap Zella memeluk Azel erat.
__ADS_1
"Ayo, aku antar pulang." ajak Azel sambil menggandeng tangan adik perempuannya.
Zella sangat gembira hari ini menghabiskan waktu bersama kakak tersayangnya. Meskipun ia sempat merasa kecewa saat bertemu Theo, setidaknya rasa kecewa nya sudah terobati.