Menikahi Kakak Angkatku

Menikahi Kakak Angkatku
Bab 1


__ADS_3

"Erka, menikahlah dengan Ayleen." Hutomo menegaskan.


Putra sulung Hutomo yang biasa dipanggil Erka sudah berdiri di depan meja kerja dan Veronica—sang ibu tampak duduk di salah satu kursi, tak jauh dari pasangan ayah dan anak yang memulai pagi dengan bersitegang lagi.


Bagai petir menyambar di atas kepala, Erka hampir tak percaya dengan kalimat yang baru saja keluar dari bibir sang ayah. Terdengar tidak masuk akal. Ia putra tertua keluarga Hutomo diminta menikahi adik perempuannya sendiri.


"Kamu sudah tidak waras, Dad."


Erka menolak pada kesempatan pertama. Ia tidak bisa menerima permintaan Daddy yang seperti sebuah perintah.


"Daddy serius, Erka. Menikahlah dengan Ayleen." Hutomo menegaskan sekali lagi.


Erka menggeleng. "Ini tidak benar, Dad. Ayleen itu adikku. Bagaimana bisa Daddy memintaku menikahinya?" Erka protes seperti biasa.


Pria dengan setelan hitam itu tadinya sudah siap ke kantor, tetapi kini ia harus terdampar di ruang kerja Hutomo karena pembicaraan membuang-buang waktu.


"Erka, dengarkan Daddy. Menikahlah dengan Ayleen. Kalian bukan saudara kandung. Ayleen tidak lahir dari rahim mommy-mu, tidak juga dari benih Daddy. Ayleen hanya anak yang kami asuh seperti anak sendiri, memberi nama keluarga kita. Tapi, dia jelas-jelas tidak ada hubungan apa-apa dengan keluarga Hutomo. Di dalam dirinya tidak mengalir darah Hutomo Putra." Veronica berusaha membujuk putranya dengan kelembutan.


"Tetap saja Ayleen adikku. Aku tidak bisa!" tegas Erka, bersikeras.


"Erka, dengarkan Mommy. Ayleen gadis yang baik ...."


"Karena dia gadis baik, makanya tidak pantas untukku." Erka memotong.


Veronica hanya bisa menghela napas. Sudah lama ia memperhatikan putra tertuanya. Sejak pulang dari Amerika, Erka banyak berubah. Tidak ada lagi putra kesayangannya yang penurut dan anak baik-baik. Berganti pria dewasa yang nakal, sering pulang malam, dan bermain-main di luar sampai lupa waktu. Veronica kehilangan sosok Aryya Perkassa Hutomo Putra kesayangannya.


Namun, sesuatu mencubit hatinya saat melihat Ayleen yang begitu menyayangi Erka. Gadis kecil itu diam-diam bersekongkol dan menyelamatkan putra tertuanya dari amukan Hutomo, menyembunyikan semua keburukan Erka dengan sangat rapi. Sejak saat itu, keinginan menjodohkan keduanya muncul.


Lagi pula, ia yang mengurus dan membesarkan Ayleen. Tentu saja ia sangat paham mengenai kelayakan gadis remaja itu untuk menjadi menantu tertua keluarga Hutomo yang nantinya akan mewariskan sebagian besar aset dan perusahaan keluarga.

__ADS_1


Wanita berusia senja itu berharap Ayleen bisa membawa perubahan positif pada putranya. Kalau membiarkan Erka mencari pasangannya sendiri, Veronica tidak yakin putranya bisa mendapatkan istri yang sesuai, sepadan, dan bisa masuk ke keluarga Hutomo.


"Tetap saja, Mom. Aku menganggapnya adikku, Xiăo mèimei." ( adik kecil perempuan )


Erka menolak. Dengan santainya ia menarik kursi di depan Hutomo dan mengemukakan pendapat pribadinya.


"Ayleen baru 17 tahun. Aku tidak berminat dengan gadis kecilku dan aku tidak bisa. Ayleen adikku sendiri. Ya Tuhan, kalian benar-benar gila. Bagaimana Ayleen bisa melayaniku? Para wanitaku begitu luar biasa dan liar, Ayleen tidak akan sanggup bersaing dengan mereka." Erka tergelak.


"ERKA!" Hutomo kesal.


"Aku memintamu menikahi Ayleen untuk menjadi menantu keluarga Hutomo, bukan sekedar menjadi istrimu dan partner di ranjangmu."


"Aku tidak mau berdebat. Aku harus ke kantor sekarang." Erka mengangkat tangan dan meminta sang Daddy menyudahi perdebatan.


"Erka, kamu sudah tidak muda lagi. Apa kamu tidak ada rencana menikah, berumah tangga, memiliki anak. Teman-teman seumuranmu sudah ...."


Veronica memejamkan mata. Ia tidak mau membandingkan putranya dengan anak-anak sahabatnya, tetapi itu adalah kenyataan.


"Aku tidak bisa menikahi Ayleen. Kalau yang kalian permasalahkan mengenai pernikahanku, aku bisa membawa seorang wanita di hadapan kalian. Mau yang seperti apa? Aku akan menikahinya, tetapi aku mau wanita pilihanku sendiri." Erka menegaskan.


Tanpa banyak bicara, ia berbalik. Pandangan tertuju pada pintu ruangan yang tidak tertutup rapat.


Deg--


Netranya menangkap pergerakan, ada seseorang yang diam-diam menguping di depan pintu. Melihat bayangannya, Erka sudah bisa menebak siapa dia yang mengendap-endap di balik dinding.


"Ayleen." Erka berucap dalam hati. Senyum tersungging di bibir.


Dengan langkah lebar, ia mendorong pintu ruangan itu sehingga terbuka. Dan benar saja, Ayleen berdiri dengan wajah tertunduk. Tidak berani menatapnya.

__ADS_1


"Leen, jangan khawatir. Aku tidak akan menikahimu. Jangan dengarkan ucapan Daddy dan Mommy. Mereka sudah setengah ...." Erka tergelak, mengukir garis diagonal di keningnya dengan ujung telunjuk.


"Selesaikan sekolahmu, Leen. Lanjutkan ke perguruan tinggi. Aku akan menikah dengan gadis pilihanku sendiri." Erka berkata lembut sembari menepuk pucuk kepala Ayleen. Ia berusaha untuk tidak membuat gadis remaja itu terbebani. Erka yakin, Ayleen mendengar semuanya.


"Ya, Kak Erka."


Ayleen tertunduk dengan kedua tangan saling meremas. Menurutnya pribadi, tentu saja tidak bisa menerima semua ini. Ia baru berusia 17 tahun. Sekolahnya pun masih belum selesai. Bagaimana mungkin ia harus menikah dan itu pun dengan laki-laki yang sudah dianggapnya seperti kakak sendiri. Apa lagi usia Erka yang terpaut hampir dua kali lipat dari usianya.


"Aku berangkat ke kantor. Nanti malam, sepertinya aku pulang terlambat lagi. Temanku berulang tahun, mohon bantuannya, Leen." Erka berbisik pelan sebelum melangkah pergi.


"Ya, Kak Erka"


***


Mengetuk pelan pintu ruang kerja Hutomo, Ayleen akhirnya bersuara.


"Mom, ini aku Ayleen." Hampir lima menit mematung. Gadis dengan seragam putih abu-abu itu memanggil dari balik pintu.


"Leen, masuk, Sayang." Veronica mempersilakan.


Ragu-ragu, Ayleen melangkah masuk sambil menunduk. Gadis remaja itu masuk ke dalam ruang kerja dengan tas menggantung membelah dada, rambut panjang bergelombangnya tampak begitu indah. Kaus kaki selutut dengan rok ketat di atas lutut yang selalu mengundang protes sang mommy setiap melihat anak gadisnya tampil seperti itu.


"Dad, Mom, Ayleen pamit ke sekolah." Tidak berani menatap kedua orang tuanya, Ayleen memilih menunduk dan berjalan memeluk Veronica.


"Jangan pulang terlambat." Veronica berpesan saat putri kesayangannya memeluk dan berpamitan berangkat ke sekolah. Dikecupnya kening dan kedua pipi mulus Ayleen dengan penuh rasa cinta.


"Yes, Mom."


Ayleen keluar dari ruang kerja Hutomo dengan pikiran kacau. Ucapan Daddy yang meminta Erka menikahinya berputar-putar di dalam pikiran. Konsentrasinya terpecah, perasaannya tidak karuan.

__ADS_1


Menikah di usia muda tidak pernah ada di dalam impiannya, apalagi menikah dengan Aryya Perkassa Hutomo Putra, pria dewasa yang tak lain kakaknya sendiri. Ayleen menggeleng kepalanya, berharap ucapan yang didengar di ruang kerja hanya mimpi buruk semata.


***


__ADS_2