
Tepat dua hari setelah obrolan di ruang kerja antara Erka dan Veronica, keputusan penting diambil sang kepala keluarga. Selesai makan malam, semua anggota keluarga termasuk Cindy diminta bertahan sejenak di ruang makan.
Biasanya ketika acara mengisi perut itu usai, masing-masing sudah mengangkat bokong dan melanjutkan aktivitas malam di kamar masing-masing. Hanya Hutomo dan Veronica terkadang berbincang santai sembari menonton televisi, mengisi waktu luang sambil menunggu kantuk datang.
Pria yang duduk di kursi utama berdehem pelan sebelum membuka suara. Dipandanginya wajah-wajah penasaran di sekitarnya. Erka mengetuk jari-jari panjangnya di atas meja, sesekali mencuri pandang pada gadis di seberang meja. Tak berani terang-terangan, ia tak mau membuat semua orang membaca isi hatinya.
Cindy, menantu satu-satunya tampak menegakkan duduk, kedua tangan meremas di pangkuan. Ini kali pertama diikutkan di obrolan penting keluarga suaminya.
Veronica tampak tersenyum, sesekali memandang putrinya yang duduk bersisian dengan Ersa—putra keduanya. Ia akui, Ersan dan Ayleen tampak serasi. Bukan hanya fisik yang cocok, sifat keduanya pun saling melengkapi. Si bungu yang lemah lembut dan sang kakak yang penyayang.
“Begini ....”
Ucapan Hutomo menarik perhatian semua orang.
“Daddy memutuskan pensiun dari perusahaan.” Kalimat pembuka itu belum berpengaruh. Semua penghuni meja makan hanya menyimak dalam posisi semula.
Namun, saat kalimat selanjutnya dilontarkan Hutomo, Erka dan Ersa bereaksi bersamaan. Tatapan dua saudara itu tertuju pada titik yang sama.
__ADS_1
“Erka akan mengambil alih jabatan Daddy, Ersa menjadi wakil. Dokumen sedang diurus. Daddy harap, PT Aryyacement di bawah kepemimpinan kalian semakin jaya.” Hutomo merapatkan bibir, meneliti semua orang.
“Daddy memutuskan untuk menikmati sisa usia bersama Mommy di Bandung.” Jeda sejenak, Hutomo menatap kedua putranya.
“Ayleen akan ikut bersama kami. Tinggal dan menyelesaikan kuliahnya di Bandung.”
Erka dan Ersa tersentak bersamaan. Keduanya berpandangan.
“Tapi, Dad. Ayleen masih baru saja masuk kuliah. Apa tidak kasihan. Dia baru beradaptasi dengan lingkungan kampus dan harus memulai dari awal.” Ersa bersuara.
“Ayleen sudah setuju dan tidak keberatan. Bukankah begitu, Leen?” Hutomo meminta kepastian.
“Kalian dengar sendiri, kan? Jadi, tidak ada yang perlu kalian risaukan. Mengenai Ayleen, kami sudah membahas dan memutuskannya bersama Ayleen.”
Hutomo tersenyum. Kedua tangan saling menjalin di atas meja, pria tua itu menatap Erka dan Ersa bergantian.
“Kalian tinggal di sini, bersama Ersa juga. Tidak perlu memisahkan diri. Kami, orang tua yang menyingkir.” Hutomo menatap Cindy.
__ADS_1
“Aku titip putraku, Cindy. Tolong jaga keduanya. Kamu sudah kuanggap putriku sendiri.”
“Ya, Dad.”
“Aku percayakan rumah ini padamu. Nanti Mommy akan menjelaskan semuanya padamu.”
“Ya, Dad.”
Cindy menjawab tanpa berani protes, sedangkan Erka menatap Ayleen tak berkedip. Membuang sungkannya, ia tak peduli dengan beberapa pasang mata yang juga menatap heran padanya.
“Aku keberatan!” Erka berpendapat. Pandangannya tertuju pada Ayleen.
“Andai Daddy merasa terganggu dengan kehadiranku dan Cindy di sini, aku tidak masalah keluar. Aku punya rumah sendiri. Kalau ada yang harus keluar ... itu aku, Dad. Bukan kalian. Tetaplah di sini. Jakarta-Bandung memang bukan jarak yang terlalu jauh. Hanya saja ... kalau terjadi sesuatu pada kalian, aku dan Ersa tidak bisa datang secepatnya seperti saat tinggal di Jakarta.”
Erka masih berjuang. Ia berusaha mencari solusi terbaik. Tak bisa membayangkan kalau tak melihat Ayleen. Di saat Tuhan membiarkan perasaan cintanya berkembang, di saat itu pula ia diuji.
“Aku dan Cindy yang keluar dari sini. Bagaimana, Baby?”
__ADS_1
Cindy tak bisa menjawab, hanya mengangguk. Keputusan apa pun, ia tak punya hak untuk membantah.