Menikahi Kakak Angkatku

Menikahi Kakak Angkatku
Bab 9


__ADS_3

Pemberkatan pernikahan itu usai sudah, Erka dan Cindy telah sah menjadi sepasang suami istri. Setelah melakukan berbagai prosesi, acara dilanjutkan dengan resepsi pernikahan di malam harinya. Masih bertempat di hotel yang sama, perhelatan akbar digelar untuk merayakan bersatunya dua kerajaan bisnis yang kini terikat menjadi satu keluarga.


Meja bundar sudah berjejer rapi dengan sepuluh kursi mengelilingi. Mengingat banyaknya orang penting yang diundang, keluarga Hutomo memilih sitting party untuk menjamu semua tamu undangan.


Tampak Ayleen kepayahan menyeret gaun panjang merah menyala, masuk ke dalam ballroom yang sudah disulap berbeda saat acara pemberkatan. Meja-meja bundar yang sebagian sudah terisi, membuat langkah Ayleeen terhambat hingga seseorang membantu mengangkat gaunnya.


“Eh!” Ayleen tersentak saat gaunnya terasa ringan. Ketika memutar tubuh, matanya bertabrakan dengan sosok tampan yang sudah sangat familier. Pria dewasa yang dikenalnya, sahabat baik kakaknya sendiri.


“Mana Koko-mu?” Suara berat itu menyapa. Tak ada senyuman, tetapi sudah terbilang ramah.


“Kak Rendra?”.


Mata Ayleen menyipit, berusaha mengenali pria tampan yang tampak menawan dengan tuksedo hitam. Di tangan kanan menggenggam sepucuk undangan.


“Hmmm.” Pria bernama lengkap Rarendra Tanuwijaya itu menyunggingkan senyuman. Seorang pebisnis muda yang namanya cukup diperhitungkan di ibu kota. Rarendra tidak besar di Indonesia, pria tampan itu banyak menghabiskan usianya di luar negeri.


“Kak Erka masih ....”


“Jangan katakan kalau anak itu sedang bersenang-senang dengan istri barunya.” Rarendra tergelak.


“Hah?” Ayleen mengernyit. Kata istri baru membuat otak polosnya berpikir jauh.

__ADS_1


“Koko-mu punya banyak istri. Setiap malam gonta-ganti,” bisik Rarendra.


“Benarkah?” Ayleen masih mempertanyakan.


“Anak kecil tidak boleh tahu. Mana daddy-mu? Kalau tak melaporkan kehadiranku pada Erka, aku harus menyapa Hutomo.”


“Di meja depan, Kak.” Ayleen menunjuk dari kejauhan.


“Antarkan aku ke sana. Aku harus laporan pada Komandan.” Rarendra mengedipkan mata, menyunggingkan senyuman bertegangan tinggi yang sanggup meluluhlantakkan hati banyak wanita.


Ayleen menurut. Tanpa banyak protes, membiarkan pria tampan itu membantu mengangkat gaun sembari mengekori langkahnya.


“Duduk di sini saja. Masih ada kursi kosong.” Hutomo menunjuk tempat kosong tepat di sisi Ayleen.


Entah kenapa, sejak awal kehadiran Rarendra yang menyapa bersama putrinya mengusik pikiran Hutomo. Otaknya merangkai kisah sendiri dengan tak tahu diri. Dipandanginya anak muda yang mengambil tempat duduk sesuai arahannya.


Seringai tipis terukir di wajah keriput Hutomo. Ia duduk dan berbisik pada Veronica.


“Aku ingin menjadikannya menantuku. Bagaimana?”


Deg—

__ADS_1


Veronica tersentak. Sejak awal menginginkan Ayleen untuk putranya, tetapi wanita tua itu gagal. Erka menolak dan ia harus menerima kenyataan.


“Kenapa harus dia? Kita masih punya Ersa.” Veronica menolak.


Hutomo tergelak pelan. “Kenapa tidak boleh dengan Rarendra Tan? Tampan, sukses, dan dari keluarga terpandang. Siapa yang tak mengenal papanya? Apalagi ... dia teman Erka. Aku rasa tidak perlu diragukan. Coba saja dulu, secepatnya kamu harus menemui desainer lagi untuk menyiapkan gaun di pernikahan putrimu.”


“Aku tidak setuju.” Veronica menolak. “Aku tidak mau putriku pergi jauh. Tidak dengan Erka, Ayleen masih bisa dengan Ersa.”


Hutomo mengulum senyuman. “Kenapa jadi posesif sekali? Kenapa harus dengan putra-putra kita?”


Veronica terkesiap. “Karena aku mencintainya.”


"Mencintai siapa?" Ada nada penekanan di dalam suara Hutomo.


Veronica menggeleng.


Senyuman Hutomo bertambah sinis. “Bukan karena siapa ayahnya, kan?” sindir Hutomo.


***


Maaf, telat up. Aku sedang fokus menulis judul baru di lapak sebelah menggantikan Melukis Senja yang akan tamat sebentar lagi.🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2