Menikahi Kakak Angkatku

Menikahi Kakak Angkatku
Bab 36


__ADS_3

“Bayinya? Apa bayinya baik-baik saja? Perempuan atau laki-laki?” Hutomo ganti bertanya.


“Perempuan. Tadi aku sempat mengabadikannya.” Ersa menunjuk ponselnya. Tampak bayi merah dengan kulit keabu-abuan, mengeriput.


“Sehat, kan?” Hutomo memastikan.


“Sehat, Dad.”


“Syukurlah.” Hutomo menoleh pada asisten yang sejak tadi setia berdiri di dekatnya. “Antarkan aku menemui cucuku. Duduk di sini juga percuma.” Berusaha untuk berdiri, ia kembali berjalan tertatih-tatih keluar dari ruangan.


“Kamu tidak mau ikut?” tawarnya pada sang istri.


Veronica berpikir sejenak sebelum akhirnya berdiri dan mengekor langkah suaminya. Ia juga penasaran dengan wajah cucu pertamanya.


Tak lama, keduanya sudah berdiri di depan jendela kaca dan menatap bayi mungil di dalam tempat tidur dorong. Tampak dari kejauhan, wajah imut itu mirip sekali dengan Cindy.

__ADS_1


“Kapan kita diizinkan menggendongnya.” Veronica sudah tidak sabar. Ia mengusap kaca jendela dan tersenyum sendiri. Demikian juga suaminya, pria tua itu tampak berkaca-kaca. Di usia tuanya dengan penyakit menerjang segala arah, ia bahagia masih diberi kesempatan menggendong cucunya.


“Terima kasih, Tuhan. Hidupku sudah sempurna. Harta, tahkta, dan wanita sudah aku miliki. Kini, kamu hadiahkan untukku cucu yang cantik, anak-anak dengan kesuksesannya masing-masing. Tak ada lagi yang aku minta. Hanya berharap diberi kesehatan lebih menemani cucu-cucuku tumbuh dewasa.” Hutomo mengusap sudut matanya dengan ujung telunjuk.


☆☆☆


Bandung di kala malam, gerimis kecil menemani sejak sore. Ayleen yang ditinggal sendirian di rumah besarnya memilih bergelung di balik selimut selepas makan malam.


Ia hampir terlelap saat suara mobil masuk ke halaman rumah disusul ketukan di pintu depan. Tadinya ia ingin bangun dan memastikan siapa yang mengusik malamnya, tetapi diurungkannya. Ia sudah terlalu lelah seharian beraktivitas.


Terlelap hingga pagi menjemput, Ayleen membuka mata saat mendengar aktivitas di lantai satu kediamannya. Menguap beberapa kali hingga kesadarannya mengumpul kembali, gadis itu mengernyit heran.


“Loh, Daddy dan Mommy ke Jakarta, kan?” Ayleen bermonolog sembari merentangkan tangannya, merenggangkan otot-ototnya yang kaku selama tertidur.


“Lalu, kenapa pagi-pagi sekali sudah sibuk di bawah?” Tanda tanya yang membawa Ayleen melangkah keluar dari kamar dan memastikan apa yang terjadi.

__ADS_1


Merapatkan piama tidurnya, Ayleen masih menerka apa yang terjadi. Pikirannya bergerak mundur, teringat kedua orang tuanya yang berpamitan ke Jakarta karena Cindy melahirkan. Daddy dan Mommy tak mau melewatkan hari bahagia dan ingin menyambut cucu pertama.


Di tengah pikiran yang kacau, ia kembali teringat dengan suara mobil yang masuk di tengah malam.


“Apa jangan-jangan Mommy dan Daddy semalam kembali?” Dugaan yang membuat langkah kaki Ayleen semakin cepat. Ia sudah tak sabar menemui keduanya dan bergelayut manja di pundak Veronica.


Menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa, ia hampir terpeleset kalau saja tak ada tangan yang merengkuh pinggang dan memeluk dari belakang.


Deg.


Aroma ini? Aku mengenalinya.


Ayleen mengernyit. Menurunkan pandangan dan meneliti tangan yang mengunci pinggangnya. Jari-jari panjang tanpa cincin itu terasa familier.


“Kak Ersa?” ucapnya pelan dan menoleh ke belakang. Ayleen tersentak, bola matanya hampir melompat keluar saat mengetahui siapa yang menolongnya pagi ini.

__ADS_1


__ADS_2