
“Berhenti menjodohkan Kak Erka dengan Ayleen.” Ersa menatap kakaknya. Pria yang berusia lebih tua beberapa tahun darinya itu tampak santai. Seakan ucapan Veronica sejak tadi tak berpengaruh apa-apa.
“Mommy dengar pendapat pribadi Ersa?” Erka bersuara setelah mendapati sosok lain berdiri di pihaknya.
“Nikahkan saja dengan Ersa, dia juga mencintai Ayleen. Aku tidak keberatan. Saat ini aku hanya ingin melanjutkan hidupku tanpa embel-embel wanita. Aku sudah muak.” Erka menepuk pundak adiknya dan bergegas pergi.
Cinta itu mungkin masih ada, tetapi Erka sudah tidak menjadikan prioritas di dalam hidupnya lagi. Hubungan pria dan wanita hanya akan membuat semua rumit dan ia sudah melewatinya. Dulu, hidup tanpa cinta, semua indah sesuai porsi. Kini, di saat hatinya terjerat cinta, dunia berantakan dan amburadul.
“Ka, Mommy masih mau bicara.” Veronica berusaha menahan langkah putranya.
“Bahas saja dengan Ersa, dia yang akan menikah bukan aku, Mom.” Erka mengangkat tangan dan melambai dari posisi membelakangi. Ia tak peduli, berjalan lurus ke depan dan menatap tujuannya saat ini. Ia harus ke kantor dan mulai mengerjakan semua yang ditinggalkannya selama mengurus Cindy.
Di teras rumah, pria itu sempat berpapasan dengan Ayleen yang sedang menjemur Dayana bersama pengasuhnya.
“Kak.” Ayleen menyapa sembari menyunggingkan senyuman. Namun, gadis itu harus menelan kecewa ketika Erka tak merespons.
Maafkan aku, Leen. Aku harus menjaga jarak agar Mommy tak menjodohkan kita terus menerus.
Erka merogoh kacamata hitamnya dari saku kemeja dan mengenakannya. Ia tak membalas sapaan atau senyuman yang ditujukan untuknya.
__ADS_1
“Bapak tidak berubah. Sejak dulu selalu begitu. Kasihan Ibu Cindy, dari hamil sampai melahirkan selalu diabaikan.”
Deg.
Ayleen menoleh dan mencari tahu. “Maksudnya bagaimana? Mbak sudah lama ikut Kak Cindy?” Berusaha mencari tahu.
“Sejak Dayana berusia tujuh bulan di kandungan. Kasihan Ibu. Setiap hari hanya menangis. Pak Erka dingin, kalau bicara sepotong-sepotong.” Pengasuh itu mengadu.
“Sekalinya bicara banyak, bertengkar hebat. Semua perabotan hancur.”
Ayleen membelalak. Selama ini ia mengenal Erka bukanlah sosok arogan. Namun, semua berbeda dengan yang digambarkan pengasuh Dayana.
Menatap mobil sport hitam yang dikendarai Erka keluar dari halaman rumah, Ayleen hanya bisa mengelus dada. Suara deru kendaraan itu mengaum dan mengejutkan Dayana yang tengah terlelap.
♡♡♡
Veronica dan Ersa masih berdebat di ruang kerja selepas kepergian Erka. Anak muda itu bersikeras menjadikan Ayleen istrinya, sedangkan Veronica menolak tegas.
“Mom, aku mohon.”
__ADS_1
Veronica menggeleng. “Tidak, Ayleen sudah disiapkan untuk Erka sejak awal.”
Ersa tergelak. “Jangan membohongiku, Mom. Aku tahu ini hanya alasan Mommy saja untuk menentang hubunganku.”
“Bukan begitu, Sa.”
“Mom, tahukah kamu ... selama ini selalu tidak adil padaku. Kak Erka diberi kesempatan jauh lebih banyak dibandingkan aku, Mom. Apa bedanya, aku dan Kak Erka sama-sama Hutomo Putra. Kenapa Kak Erka boleh menikahi Ayleen dan aku tidak?” cerocos Ersa.
“Tidak seperti itu, Sa.”
“Kenyataannya seperti itu, Mom. Aku selalu jadi nomor dua. Terkadang aku merasa tidak adil. Di saat Kak Erka sudah menolak terang-terangan, Mommy masih tak mau memberi lampu hijau. Apa bedanya kalau Ayleen menikah denganku dan menikah dengan Kak Erka?”
“Perasaanmu saja, Sa. Mommy tidak pernah pilih kasih. Semua sama. Mau Erka, kamu, atau Ayleen. Sama, tidak ada yang dilebihkan.” Veronica menjelaskan.
“Tapi, aku merasa diperlakukan berbeda. Kalau Ayleen, aku memaklumi. Karena dia hanya putri sopir keluarga kita. Andai ada perbedaan ... semua orang maklum, termasuk Ayleen sendiri. Tapi, aku ... kenapa aku pun dibedakan?”
“Tidak ada yang membedakan, Sa.” Veronica tersenyum.
“Ini lamaran keduaku. Dan Mommy kembali menolak tanpa alasan jelas. Apa mau Mommy? Aku tidak masalah andai harus kabur berdua dengan Ayleen. Tidak masalah untuk kami.”
__ADS_1
“SA! Jangan macam-macam!” Veronica tersentak saat putra keduanya mengancam.