Menikahi Kakak Angkatku

Menikahi Kakak Angkatku
Bab 8


__ADS_3

“Kak.”


Hanya satu kata itu saja yang sanggup lolos dari bibir tipis bergincu merah muda milik Ayleen. Selebihnya, ia hanya bisa pasrah kala kejadian semalam terulang lagi. Begitu cepat dan terasa lebih nyata.


Semalam, Ayleen masih menganggap sang kakak setengah mabuk. Kini, ia tak bisa mencari alasan lagi untuk membenarkan apa yang sedang dilakukan Erka padanya.


Bibir pria dewasa itu tengah menguasainya, mengeksplorasi setiap lekuk, dan membungkam dengan manis. Embusan napas berbisik pelan di kulit wajah, menerbangkan logika Ayleen. Gadis remaja itu terhanyut sesaat, kelopak matanya mengatup perlahan.


Ia mulai menikmati debaran yang berpacu di dada, larut di dalam detak jantung yang memburu. Tidak seperti semalam, pengulangan kisah ini jauh lebih indah. Ayleen tersentak, menyadari kegilaannya kala telapak tangan Erka yang dingin mengusap kulit bahunya.


Deg—


Mata sayu itu terbuka mendadak, ada pemberontakan di dalam dirinya saat kewarasan itu kembali. Tangan yang tadinya lunglai, mulai mendorong pelan dada bidang Erka.


“Kak, lepaskan aku,” pinta Ayleen di sela pertautan bibir yang belum berakhir.


“Kak ....”


“Hmm.” Erka menyudahi semuanya, memberi jarak, dan tersenyum.

__ADS_1


“Terima kasih untuk hadiah pernikahanku. Aku bahagia ... aku yang pertama.” Erka berkata dengan suara parau. Dipandanginya paras cantik yang tampak kebingungan.


“Keluarlah, aku akan menemui Daddy.”


Sikap Erka berubah seperti biasa. Pria itu begitu pintar memainkan perannya. Seperti sulap, dalam hitungan detik semua kembali ke semula. Sosok kakak yang dikenalnyan selama ini, tiba-tiba hadir lagi.


Tak banyak kata yang diucapkan. Erka hanya bisa memandang Ayleen yang berjalan keluar dari kamar, menjauh darinya.


"Aku tidak tahu apa yang aku lalukan ini benar atau salah. Aku merasa, aku tidak bisa menikah denganmu, Leen. Perasaan ini hanya refleksi kekecewaan karena perubahan sikapmu yang memilih menjauh. Ini bukan cinta. Ya, aku yakin ini bukan cinta. Waktu akan mengembalikan rasa ini ke tempat semula." Erka mengusap dada, menenangkan gemuruh jantungnya.


-


-


-


Satu persatu tamu undangan berdatangan, turun di lobi utama menuju ke ballroom, tempat pemberkatan dan resepsi pernikahan digelar. Ruangan seluas 2.500 meter persegi yang sanggup menampung seribu tamu undangan itu sudah disulap indah bak negeri dongeng seperti permintaan sang pengantin wanita.


Ayleen duduk dengan anggun di deretan kursi depan berdampingan dengan Ersa yang tampak gagah dengan jas hitam pekat. Keduanya berbincang dengan berbisik pelan.

__ADS_1



"Leen, kamu cantik hari ini." Ersa berkata sembari mengedipkan mata kanannya.



Menggoda Ayleen adalah kebiasaannya dan Erka sejak masih kecil. Satu-satunya adik perempuan yang bisa dijadikan mainan dan pelampiasan kekesalan setiap saat. Gadis remaja itu akan berteriak, mengomel, dan terakhir mengadu pada sang daddy dan mommy, menjadi tempat meminta perlindungan. Ayleen mengulum senyuman saat pujian Ersa melambungkannya ke awang-awang.


Tak lama, dentingan suara piano menggema di ballroom yang mulai disesaki tamu undangan. Alunan indah lagu I Went To Your Wedding, mengiringi langkah Cindy yang tampak cantik dengan gaun putih panjang menyapu lantai, berjalan dengan menggandeng lengan papanya masuk ke dalam tempat acara sembari menggenggam buket bunga mawar impor yang dikombinasikan dengan baby breath putih.


Your mother was crying


Your father was crying


And I was crying too


Jemari lincah pianis menciptakan harmoni indah. Tampak Erka menunggu, berdiri gagah di depan altar dengan kedua tangan saling menggenggam. Sesekali ia melirik ke arah adik kecilnya yang sedang berbisik-bisik dengan Ersa. Hatinya tercubit. Andai bisa menarik kata-katanya kembali, pria tampan itu akan menerima perjodohan yang dirancang Veronica dengan senang hati.


Namun, ia tak bisa mundur lagi. Dua keluarga sudah bertemu. Kerja sama bisnis pun telah berjalan bersama persiapan pernikahan yang menelan biaya tak sedikit. Ia hanya bisa menerima sembari merutuk kebodohannya. Membuang permata indah yang lebih berharga dibandingkan wanita penghangat tempat tidurnya selama ini.

__ADS_1


Erka pasrah, mengulurkan tangannya menyambut Cindy yang diserahkan langsung oleh papanya. Ia tak bisa kabur lagi. Semua berakhir sebentar lagi, termasuk perasaan asing yang mulai tumbuh di hatinya. Pria itu harus menghempaskan perasaannya pada Ayleen yang baru saja tumbuh.


"Demi nama Allah Bapa, anak, dan Roh kudus. Dalam nama Tuhan. Saya Aryya Perkassa Hutomo Putra ... menerima engkau Cindy Hariwijaya sebagai satu-satunya istri, di dalam pernikahan yang sah dan kudus." Erka berkata datar tanpa rasa. Saat ini, bayangan Ayleen masih memenuhi pikirannya.


__ADS_2