
“Sudah. Jangan ulangi lagi.” Suara Erka melemah, dipungutnya surat Cindy. Tanpa dibaca, dimasukkan kembali ke dalam amplop dan dimasukkan ke dalam laci kembali.
Wajah ketakutan Ayleen memuat pria itu melunak. Ditambah jejak air mata yang membuat hati siapa saja terenyuh melihatnya, termasuk Erka.
“Kami akan bercerai. Tapi, Cindy tak bisa menerima kenyataan ini. Dia memilih mengakhiri hidupnya dibanding berpisah.” Penjelasan tanpa diminta itu meluncur deras dari bibir Erka.
Tanpa banyak bicara, pria itu mendekat. Pergerakan tubuh Erka yang kaku membuat Ayleen kikuk. Gadis itu bahkan tersentak tatkala jemari sang calon suami mendadak mengusap pipi, menghapus jejak air mata yang tertinggal.
“Jangan menangis, Leen. Aku tidak pernah mau menyakitimu.” Erka berkata lembut.
“Ya.”
“Tolong menurutlah. Jangan sampai semua orang tahu mengenai Cindy. Aku menutupi semua hal bukan untuk diriku. Tapi, keluarga besar kami. Berita ini akan menjadi santapan empuk media dan bukan tak mungkin perusahaan pun akan terpengaruh.” Erka menjelaskan.
“Ya, Kak.”
“Aku masih ada pekerjaan. Kamu bisa menungguku atau pulang kalau memang merasa bosan.” Pria dewasa itu memberi pilihan sebelum meninggalkan ruangan.
__ADS_1
...•••...
Matahari berangsur turun di sudut barat kala Erka kembali dengan wajah lelahnya. Selepas makan siang menghabiskan banyak waktu dengan pekerjaan, ia lupa pada sosok cantik yang menghuni ruangnya, menunggu ia selesai dengan pekerjaan.
“Leen.”
Erka tercengang di ambang pintu saat akses masuk ke dalam ruangan itu terbentang. Ia tak menyangka Ayleen masih setia menunggunya sampai sore. Gadis itu tertidur sembari menggenggam ponsel di sofa.
Terharu? Tentu saja. Setelah dikasari tadi siang, gadis itu masih setia mengikuti perintahnya. Andai wanita lain, sudah bisa dipastikan pergi tanpa jejak.
“Leen, bangun.” Erka berjalan mendekat. Ditelitinya wajah polos dengan kecantikan sederhana.
“Beberapa bulan yang lalu, aku pernah bermimpi. Tapi, kini keinginan itu perlahan menguap karena banyaknya kejadian mengejutkan di dalam hidupku. Aku pernah menawarkannya padamu dan ... kamu pergi. Sekarang kamu datang, tapi hatiku sedang tidak baik-baik saja, Leen.” Ujung telunjuk itu tiba-tiba bermain di bibir tipis Ayleen.
Senyuman tersungging, pandangan Erka meredup. Ada dorongan besar dari dalam hatinya untuk bisa menyentuh Ayleen lebih jauh. Jari-jari panjang Erka masih menari di atas bibir tipis di mana pemiliknya masih tertidur. Sedikit mencondongkan wajah ke depan, ia baru akan melabuhkan bibirnya pada satu titik yang mencuri perhatian sejak tadi.
Namun, niatnya belum terlaksana, terdengar ketukan bersama suara berat Erick.
__ADS_1
“Pak, apa aku bisa masuk sekarang.” Suara Erick tampak sopan menyapa dari luar ruangan. Panggilan formal yang terkadang menyelip di antara persahabatan mereka.
Erka tersentak, kedua bibir yang nyaris saja menyatu, kini menjauh lagi. Pemimpin perusahaan itu hampir mengumpat kala keinginannya harus batal karena ulah asistennya sendiri.
“Masuk!” Nada perintah itu terdengar kesal.
“Pak, aku sudah boleh kembali sekarang?” tanya Erick, melirik ke arah sofa. Tampak Ayleen tertidur lelap.
“Ya!” titah Erka ketus.
Erick yang paham dengan situasi, buru-buru berbalik tanpa permisi. Senyum di bibirnya terkembang hingga pintu ruangan tertutup kembali.
“Selamat datang di keluarga Prayoga,” cicit Erick pelan. Bibirnya terbelah. Seringai muncul di sudut kanan dan sulit diartikan. Sesulit mengenal kepribadian Erick yang sampai detik ini masih misterius. Tak jelas di mana pria itu berdiri, di sebelah Erka atau di sisi Ersa.
...•••...
Noted : Maaf, belakangan ini aku tidak sempat spoiler di instagram. Kisah Ayleen dan Erka sudah mendekati detik-detik tamat. Aku akan mulai menulis kisah baru untuk menggantikan Erka & Ayleen.
__ADS_1
Yang bisa mampir di judul REUNI, tolong klik berlangganan, ya. Judul ini sedang ikut lomba.
Info, spoiler, rilis judul baru, judul yang naik cetak : bisa follow instagram : casanova_wety.s.hartanto