
“Sa, kamu setuju Ayleen dengan Rendra? Kamu tahu sendiri kalau dia player.”
Ersa tengah sibuk berselancar di dunia maya saat Erka menerobos masuk ke dalam kamar. Ia bingung, menatap sang kakak yang terlihat kacau.
“Ada apa?” Ersa menegakkan duduk, melepas ponsel hitam dengan logo apel sisa gigitan di atas tempat tidur.
“Kamu rela Ayleen dengan pria seperti Rendra? Aku pribadi tidak setuju. Kamu tahu sendiri bagaimana polosnya Ayleen kita.” Erka mulai memancing.
“Aku bisa apa? Kalau Daddy sudah memutuskan. Kalau memang tidak setuju, harusnya kamu memperjuangkannya di depan Daddy. Aku tidak mengenal Rendra, aku bisa bilang apa. Kamu yang harusnya membuka mata Daddy.” Ersa berusaha bersikap santai, menyembunyikan kecemburuannya.
“Aku sedang berjuang menunjukkan pada Daddy kalau Rendra bukanlah pilihan yang tepat untuk Ayleen. Aku harap kamu mau membantuku, Sa.”
Erka melenggang keluar kamar tanpa permisi setelah merasa ucapannya sanggup memengaruhi jalan pikiran lawan bicaranya. Terbukti, bola mata adiknya menerawang jauh. Walau berpura-pura tak peduli, ia yakin kalau putra kedua Hutomo Putra itu terpengaruh.
“Beres. Aku hanya perlu memastikan Ayleen tak terseret pesona Rendra. Selebihnya, Ersa akan memainkan perannya. Aku sungguh tak rela. Adikku yang masih polos dan murni jatuh ke tangan buaya seperti Rarendra.”
***
Sepanjang acara makan malam, kakak adik itu tampak begitu kompak. Duduk bersisian, keduanya fokus pada titik yang sama. Bahkan, Erka mengabaikan keberadaan istrinya yang sejak awal mencoba menarik perhatian dengan berbagai cara.
__ADS_1
“Honey, aku mau ....”
Erka bangkit dari duduknya saat Rarendra dan Ayleen diajak Hutomo berjalan-jalan di bagian belakang rumah, melihat koleksi lukisan-lukisan yang tersimpan di dalam galeri.
“Honey ....”
Cindy memandang punggung suaminya yang bergerak menjauh. Wajah cantik wanita itu meredup. Sejak menikah, Erka berubah drastis. Tak ada lagi pria hangat yang memujanya di atas tempat tidur. Suaminya berubah dingin dan tak menyentuhnya lagi seperti dulu sebelum mereka resmi menjadi suami istri.
Terselip penyesalan di dalam hati Cindy. Andai bisa mengulang, tentu ia akan menolak tawaran Erka untuk menikah. Kenyataan tak seperti bayangannya. Pria sempurna yang selama ini menjadi incaran semua wanita di komunitasnya tiba-tiba jadi orang yang berbeda.
“Selalu saja.” Cindy mendengus kesal. Ia hanya dijadikan istri pajangan. Jangankan cinta, kebutuhan biologisnya pun tak terpenuhi setelah menikah.
“Sayang, apa kalian bermasalah?” Veronica tiba-tiba bertanya.
“Tidak, Mom.” Cindy memaksa tersenyum.
Veronica tersenyum ramah. “Kalau ada apa- apa, kamu bisa bercerita pada Mommy. Kamu menantuku, artinya putriku juga. Kalau ada masalah, siap membantu. Jika ada masalah dengan Erka, Mommy siap mendengar, Sayang.” Veronica bersuara saat hanya berdua dengan Cindy di meja makan.
Suaminya sibuk bersama Rarendra dan Ayleen, Ersa sejak selesai makan langsung berpamitan ke kamar. Demikian juga Erka, mood pria dewasa itu tak terlalu baik. Sepanjang acara makan malam tampak kesal.
__ADS_1
***
“Mom, aku ingin menikahi Ayleen.”
Ersa bicara terus terang pada Veronica saat wanita tua itu sibuk merangkai bunga di halaman samping rumahnya.
Di masa-masa tua, istri pengusaha produsen semen itu menghabiskan sebagian waktunya di rumah. Merangkai bunga, melukis sampai berkebun. Sesekali di waktu senggangnya Veronica masuk ke dapur untuk memasak beberapa menu favorit keluarga.
“Menikah?”
Ersa yang sengaja makan siang di rumah, di sela pekerjaan kantor itu memanfaatkan waktu istirahatnya untuk bicara empat mata dengan sang mommy.
“Dengan Ayleen?” Veronica memastikan.
Ersa mengangguk dengan yakin.
***
Jangan lupa vote dan gift, ya. Supaya Koko Erka dan Ci Ayleen tak lenyap di telan bumi.
__ADS_1
Silakan mampir di instagramku : casanova_wety.s.hartanto.
.